كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surah Ali `Imran: 110)

6 Juni 2014

Maulid Nabi Muhammad Saw; Sebuah Cinta








Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.

Maulid Nabi Muhammad : Sebuah CintaDemikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal. Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki Alhasani. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut
Allohumma sholly wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam
wallohu A’lam
 
 

SHALAT SEPERTI NABI



imageAjaran agama Islam yang paling penting untuk dipelajari dan diajarkan kepada orang lain adalah shalat. Hal ini antara lain pernah ditegaskan oleh junjungan kita nabi Muhammad saw,dalam sebuah hadis sahih dan kuat, “Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudhu dan salat.” Di sisi lain Nabi pun pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku.”
Dalam upaya mengikuti tuntunan Rasulullah saw. itu, berbagai kitab dan ajaran bermunculan. Kemunculan berbagai pendapat yang beragam mengenai sifat shalat Nabi ini telah banyak menimbulkan kebingungan di kalangan umat, bahkan percekcokan dan perpecahan. Perbedaan itu muncul sebenarnya hanya karena perbedaan pemilihan hadis dan riwayat.
Buku ini berusaha menjelaskan sifat shalat junjungan kita, Muhammad Rasulullah saw. seoptimal mungkin, menjelaskan sebagian shalat, dari takbir hingga salam. Penjelasan tersebut dibuat secara rinci dan jelas dengan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami. Setiap masalah dikupas dengan dalil yang lengkap, dengan menggunakan hadis-hadis yang lemah, yang sering dipergunakan oleh sebagian orang untuk menguatkan pendapatnya. Di samping itu,ia juga menjelaskan kandungan fiqhiyah dari hadis-hadis sahih sebagai suatu kesimpulan hukum darinya.
Semua pertanyaan atau hukum dijelaskan sejelas-jelasnya. Untuk menguatkan penjelasan tersebut, dikutip perkataan dan pendapat para ulama,baik mereka sebagai penghafal Alquran dan hadis maupun sebagai pakar hadis yang terkenal kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, dan yang termasyhur dalam hal ketelitiannya mengenali cacat-cacat hadis;mereka yang terbukti dapat membedakan hadis sahih dari hadis lemah.
Dengan semua cara itu,penulis mencari dalil yang paling kuat, sehingga-dengan rahmat Allah SWT-buku ini akan tampil sebagai buku yang paling istimewa di bidangnya. Buku ini melebihi buku-buku lain yang sejenisnya, bahkan menyingkap berbagai kesalahan dan kekeliruan kitab-kitab sebelumnya.



Aqidah Keluarga Nabi (Karya Alhabib Zein bin Sumaith


(Terjemah Kitab Bahjah ath-Thalibin fi Muhimmat Ushuliddin Karya al-Habib Zein bin Sumaith)

imageBuku yang berisi penjelasan para ulama dari rumah tangga Ahlul Bait Nabi SAW yang diberkahi ini, mengumpulkan berbagai penjelasan pada sejumlah tema penting ushuluddin (pokok-pokok agama). Penjelasan mereka mutlak dibutuhkan demi memurnikan dan memperkokoh aqidah umat, khususnya dalam menyikapi perkembangan zaman di era sekarang. Maklum sudah, di zaman sekarang ini begitu banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersikap berlebihan, penjiplakan para pendusta, dan takwil orang-orang yang tidak berpengetahuan, dari kalangan para ulama su’ dan musuh-musuh agama.
Aqidah adalah masalah yang sangat prinsip dalam ajaran agama ini. Karenanya, kita wajib mengajarkan pada anak-anak kita dengan benar dan teliti. Beragam aliran kini tumbuh subur dengan segala macam klaim kebenaran yang mereka usung. Di antaranya, dua kelompok yang amat bersemangat “berdakwah” di tengah masyarakat kita.
Pertama, kelompok yang senang berhalusinasi bahwa merekalah pengikut sahabat Nabi SAW dan salafushshalih, adapun orang yang tak sepaham, mereka anggap salah, sesat, bahkan kafir.
Kedua, orang-orang yang mengatasnamakan pencinta
keluarga Nabi Muhammad SAW, sementara mereka memusuhi, mencaci, bahkan melaknat para sahabat Nabi SAW.
Buku ini akan mengungkap kenyataan bahwa kaum Sadah Ba ‘Alawi -yang tak terbantahkan keotentikan nisbah mereka kepada Nabi, baik dari sisi nasab keturunan maupun sanad keilmuan- merekalah keluarga Nabi dan merekalah pencinta sahabat. Jalan yang mereka tempuh adalah dengan mengedepankan ilmu dan adab yang mulia dalam menyikapi setiap masalah yang diperselisihkan. Sesungguhnya, usaha musuh-musuh Islam untuk membenturkan para pengikut sahabat Nabi SAW dan pengikut ahlul bait Nabi SAW akan sia-sia jika umat ini mengambil ilmu dari sumber yang benar, ajaran yang jauh dari kebencian dan permusuhan sesama umat, yang akhirnya bermuara pada telaga Nabi yang suci.
Semoga karya Al-’Allamah Al-Faqih Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith ini dapat kita pahami dan resapi dengan baik, hingga kita terjaga dari segala penyimpangan terhadap syari’at agama ini.



KISAH KISAH PENUNTUT ILMU




Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati. Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi

Habaib“Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu” demikian ungkapan penting yang dituturkan Ibnu al-Mubarak. Ungkapan itu sama sekali bukan ungkapan yang mengecilkan peran ilmu. Karena, ilmu memang penting, bahkan sangat penting. Sejak kecil kita telah dipesankan ihwal pentingnya ilmu dan kewajiban menuntutnya. Tentu kita sangat mengenal sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.
Tetapi Islam tak hanya menekankan pentingnya ilmu. Akhlaq yang mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi. Sabda Nabi saw yang sangat terkenal menegaskan hal itu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Perhatikanlah, tujuan Nabi Saw diutus pun, sebagaimana yang beliau ungkapkan sendiri, adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Tentu dalam  pengertian yang luas dan menyeluruh yang dimulai dengan akhlaq terhadap Allah swt.
Dari hadits tersebut kita dapat memahami betapa Islam sangat mementingkan akhlaq. Dalam pelaksanaannya, akhlaq yang bersifat global itu terwujud dalam adab adab yang khusus, mulai dari adab terhadap Allah, adab terhadap Nabi, adab terhadap orang tua, adab terhadap anak, adab terhadap guru, murid, adab terhadap keluarga, tetangga, terhadap tamu, dan sebagainya. Juga adab dalam melakukan berbagai perbuatan, baik ibadah ibadah maupun yang lainnya.
Demikian pentingnya perkara adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”
Karena itulah, seorang ulama berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh , engkau mempelajari satu bab adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”
Apa yang dituturkan Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”
Apa yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak diatas tidak berarti ilmu tidak penting, karena jika demikian berarti bertentangan dengan ajaran agama. Kalimat “Kita lebih perlu kepada sedikit adab daripada kepada banyak ilmu” artinya bagi orang yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih ia perukan daripada ilmunya yang banyak yang tak disertai adab. Jadi, bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.
Suatu ketika Imam Syafi’i menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmumu bagus dan adabmu halus”.
Ya, jika kita ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, ilmu dan adab memang sama sama harus dimiliki, tak boleh dipilih salah satu saja. Wajarlah jika kemudian ada ulama yang mengatakan, “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang  dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.” Demikian dikutip dari kitab al-Ihya’.
Literatut literatur kita sangat kaya dengan kisah kisah adab para salaf dalam menuntut ilmu dan sangat banyak butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik darinya. Uraian berikut akan memaparkan sebagian diantaranya, yang fokusnya pada adap terhadap ilmu dan terhadap guru, yang sebagian besar bahannya dikutip dari kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.
Dihikayatkan bahwa suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka, bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki kebaikan. Maka ia pun menunggunya di sebuah masjid.
Orang yang ditunggu itu pun keluar, kemudian meludah di masjid, yakni di dindingnya sebelah luar.
Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”
Sebelum memperhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Mengenai hal ini, al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam mukadimah kitab Syarh al-Muhadzdzab, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.”
Masalah hati memang sangat ditekankan dalam islam, karena ia menjadi kunci terpenting dari segala sesuatu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat hadits Rasulullah saw yang menyebutkan, “Sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging yang, apabila baik, baik pula seluruh tubuh, dan, apabila rusak, rusak juga seluruh tubuh. Ketahuilah itulah hati.”
Para ulama mengatakan, membersihkan hati untuk ilmu seperti membersihkan tanah untuk ditanami. Al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad membuat perumpamaan yang sangat tepat tentang hal itu. “Seandainya engkau datang membawa bejana yang kotor kepada seseorang yang engkau ingin mendapatkan minyak atau madu atau semacamnya dari orang itu, ia akan berkata kepadamu, “Pergilah, cucilah dulu”. Ini dalam urusan dunia, lalu  bagaimana rahasia rahasia ilmu akan ditempatkan dalam hati yang kotor?”
Diriwayatkan ketika Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa  kepadanya dengan hafalan yang membuatnya kagum dan kemudian Imam Syafi’i menyertainya terus, Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya engkau akan memiliki sesuatu yang sangat penting.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Malik berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah menempatkan cahaya didalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan ia dengan perbuatan perbuatan maksiat.”
Imam Syafi’i, yang telah membuat kagum para gurunya, termasuk Imam Malik, pernah mengadukan perihal dirinya yang belum memuaskannya, “Aku mengadukan kepada Waki’ (nama salah seorang gurunya) buruknya hafalanku. Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat.”
Sahl bin Abdullah, tokoh ulama lain, menambahkan, “Sulit bagi hati untuk dimasuki oleh cahaya jika didalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah”.
Seorang penuntut ilmu juga mesti memiliki niat yang baik dalam  menuntut ilmu, karena niat itu merupakan pokok dalam semua perbuatan, berdasarkan sabda Nabi Saw, “Hanyasanya semua perbuatan itu tergantung niatnya,” Karena itu ia mesti bertujuan untuk mendapatkan keridhoan Allah, mengamalkan nya, menghidupkan syari’at, dekat dengan Allah, menghilangkan kejahilah dari dirinya dan dari semua orang yang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan ajaran Islam dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap dirinya dan orang lain semampu mungkin.
Tawadhu’ dan Mengabdi kepada Ulama
Semestinya seorang penuntut ilmu tidak menghinakan dirinya dengan perbuatan tamak dan menjaga diri dari perbuatan takabur. Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak akan berbahagia seseorang yang mempelajari ilmu dengan kekuasaan dan tinggi hati, melainkan yang mempelajarinya dengan rendah hati, kehidupan yang sulit, dan mengabdi kepada ulama, dialah yang akan bahagia.”
Meraih ilmu memang sering kali tidak mudah, bahkan terkadang bisa membuat orang yang mengejarnya merasa rendah di hadapan orang yang ingin diambil ilmunya. Didalam suatu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan, “Aku hina ketika menuntut ilmu lalu mulia ketika menjadi orang yang dituntut ilmunya.”
Ibnu Abbas sering pergi ke rumah Ubay bin Ka’ab. Terkadang ia mendapati pintu rumah Ubay terbuka sehingga ia segera diizinkan masuk, dan terkadang pintunya tertutup sedangkan ia malu untuk mengetuknya. Maka ia berdiam saja sampai siang, tetap duduk di depan pintu rumah. Angin menerbangkan debu kearahnya sampai akhirnya ia menjadi tidak dapat dikenali karena banyaknya debu yang menempel ditubuhnya dan pakaiannya.
Lalu Ubay keluar dan melihatnya dalam keadaan demikian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak. “Mengapa engkau tidak meminta izin?” tanyanya. Ibnu Abbas beralasan malu kepadanya.
Pernah terjadi juga, disuatu hari Ubay ingin menunggu kendaraan, maka Ibnu Abbas mengambil hewan kendaraanya sehingga Ubay menaikinya kemudian ia berjalan bersamanya. Maka berkatalah Ubay kepadanya, “Apa ini, wahai Ibnu Abbas?”
Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama kami”
Ubay menaiki kendaraan sedangkan Ibnu Abbas berjalan dibelakang kendaraan Ubay. Ketika turun, Ubay mencium tangan Ibnu Abbas. Maka berkatalah Ibnu Abbas kepaanya, “Apa ini?”
Ubay menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati ahlul bayt nabi kami.” Demikian disebutkan oleh al-Habib Al-Allamah Abdullah bin al-Hussain Bilfaqih sebagaimana tersebut dalam kitab Iqd Al-Yawaqit.
Pentingnya mengabdi kepada ulama dan taat kepada mereka juga dituturkan oleh Sufyan bin Uyaynah. Ia mengatakan, “Aku telah membaca al-Quran ketika berusia empat tahun dan menulis hadits ketika berusia tujuh tahun. Ketika usiaku sampai 15 tahun, ayahku berkata kepadaku, ‘Anakku, syari’at bagi anak anak telah terputus darimu. Maka bercampurlah dengan kebaikan. Niscaya engkau akan menjadi ahlinya. Ketahuilah, seseorang tidak akan berbahagia dengan ulama kecuali orang yang menaati mereka. Karena itu, taatilah mereka, niscaya engkau akan bahagia. Dan mengabdilah kepada mereka, niscaya engkau akan mendapatkan ilmu mereka’.
Maka aku mengikuti wasiat ayahku dan tidak pernah berpaling darinya.” Demikian dikutip oleh an-Nawawi dalam Tahdzib-nya.
Meskipun seorang murid harus taat, mengabdi, dan melayani gurunya, seorang guru pun akan mendapatkan kemuliaan bila melayani muridnya. Artinya, membantu segala sesuatu yang dapat memperlancar dan memudahkan murid belajar kepadanya. Mengenai ini, ada sebuah ucapan penting dari al-Imam Ja’far ash-Shadiq, “Ada empat hal yang tidak semestinya seorang yang mulia memandannya rendah: bangun dari majelisnya untuk menyambut ayahnya, melayani tamunya, mengurusi kendaraannya, dan melayani orang yang belajar kepadanya.”
Ada sebuah perkataan penting dari Mujahid yang perlu kita simak. “Tidak akan dapat mempelajari ilmu, orang yang pemalu, dan tidak juga orang yang sombong.”
Ungkapan itu dijelaskan oleh Habib Zein bin Smith: Seorang yang pemalu tidak dapat mempelajarinya karena ia tercegah oleh rasa malunya untuk mempelajari agama dan menanyakan apa yang tidak diketahuinya, sedangkan orang yang sombong tercegah oleh sikap takaburnya dari mengambil manfaat dan belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya. Tidaklah seseorang menjadi alim sampai ia mengambil ilmu dari orang yang berada diatasnya, dari orang yang sama dengannya, dan dari orang yang berada dibawahnya.
Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi mengatakan, “Semestinya penuntut ilmu mengambil manfaat yang bersifat ilmiyah dan adab yang baik dari mana saja ia dapatkan,baik dari orang dekat, orang jauh, orang yang tinggi kedudukannya, atau orang yang rendah kedudukannya, orang yang suka menampakkan diri ataupun orang yang suka menyembunyikan diri, dan tidak terbelenggu oleh kebodohan dan kebiasaan, serta tidak mencegah dirinya untuk mengambil ilmu dari orang yang tidak terkenal. Karena, jika mencegahnya, ia termasuk orang yang jahil dan lalai dari apa yang tersebut dalam hadits, “Hikmah itu adalah barang hilang kepunyaan setiap mukmin, dimana saja ia dapatkan, hendaklah ia ambil.”
Ia juga lalai dari apa yang dikatakan sebagian ahli hikmah, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”
Secara tegas, Abu al-Bakhtari mengatakan, “Bahwa aku berada disuatu kaum yang lebih alim daripada aku lebih aku sukai daripada aku berada di suatu kaum yang aku paling alim diantara mereka. Karena, jika aku orang yang paling alim diantara mereka, aku tidak dapat mengambil manfaat; sebaliknya jika aku berada bersama orang orang yang lebih alim dariku, niscaya aku dapat mengambil manfaat,” Demikian dikutip oleh Al-Yafi’i dalam Mir’at al-Jinan.
Mengejar ilmu, dan merasa diri belum bisa atau kurang menguasai, menjadi syarat penting untuk meraih ilmu, sebagaimana dikatakan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “Tidak dibukakan bagi seseorang mengenai suatu ilmu sampai ia mencarinya dan meyakini bahwa ia belum memilikinya.”
Sedikit Makan dan Tidur
Menahan diri dari banyak bersenang senang, terutama makan dan tidur, juga menjadi syarat penting seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan ilmu. Bagaimana mungkin seorang yang hidupnya selalu bersantai santai, rakus terhadap berbagai makanan, dan suka tidur, akan bisa mendapatkan ilmu yang banyak? Itulah sebabnya Sahnun mengatakan, “Ilmu itu tidak patut dimiliki orang yang biasa makan sampai kenyang.”
Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya terabadikan dalam Al-Quran, menyampaikan hikmah penting kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah penuh, niscaya pikiran akan tidur, hikmah akan tuli, dan anggota anggota badan akan lumpuh dari ibadah.”
Itulah sebabnya, sejak dulu para ulama terkemuka disaat saat  berburu ilmu senantiasa menjaga dirinya dari banyak makan. Diantaranya, sebagaimana yang dikemukakan Imam Syafi’i, “Aku tidak pernah kenyang sejak berusia 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan dari ibadah.” Demikian dikutip dari kitab Hilyah al-Auliya.
Berkaitan dengan itu, penting kita perhatikan pesan Sayyidina Umar bin Khotthob berikut ini, “Jauhilah oleh kalian sifat rakus dalam makanan dan minuman, karena itu membawa kerusakan bagi tubuh, menyebabkan kegagalan, dan membuat malas dari melakukan sholat. Hendaklah kalian sederhana di dalam keduanya (makanan dan minuman), karena itu yang lebih baik bagi tubuh dan lebih menjauhkan dari pemborosan. Dan sesungguhnya Allah benci kepada seorang alim yang gemuk.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ath-Thib an-Nabawi yang dikutip dalam kitab Kasyf al-Khafa.”
Adab terhadap Guru
Di dalam sebuah riwayat terdapat ungkapan berikut, “Pelajarilah ilmu dan pelajarilah untuk kepentingan ilmu itu, ketenangan dan kewibawaan, dan bertawadhu’lah kepada orang yang engkau belajar darinya.” Imam An-Nawawi mengatakan, “Semestinya seorang murid itu bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan beradab terhadapnya sekalipun ia (gurunya) lebih muda usianya, lebih sedikit terkenalnya, lebih rendah nasabnya, dan lebih sedikit kebaikannya. Dengan sikap tawadhu’nya ia akan memahami ilmu.”
Pengertian tersebut juga tergambar dalam sebuah syair, yang artinya:
Ilmu itu memusuhi
pemuda yang tinggi hati
Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi
Seberapa banyak ilmu yang akan didapat seseorang dari gurunya diantaranya tergantung sejauh mana adabnya  terhadap sang guru. Tokoh ulama Hadhramaut, Imam Ali bin Hasan Al-Attas, mengatakan, “Sesungguhnya yang diperoleh dari ilmu, pemahaman, dan cahaya, yakni terungkapnya hijab, adalah menurut ukuran adab terhadap guru. Sebagaimana ukurannya yang ada pada dirimu, demikian pula ukuran itu disisi Allah tanpa diragukan lagi.”
Ia juga mencontohkan bagaimana dimasa lalu anak anak, meskipun anak  khalifah atau raja, dididik untuk menghormati dan melayani gurunya. “Al-Amin dan Al-Ma’mun, dua orang putra Harun Ar-Rasyid, saling berlomba untuk meraih sandal guru mereka, Al-Kisa’i, agar dapat memakaikan sandal itu kepada gurunya.
Maka berkatalah guru mereka kepada mereka pada saat itu, ‘Masing masing memegang satu’.
Ya, guru memang harus dilayani dan dihormati, karena ia bagaikan orangtua kita. Di dalam hadits dikatakan, “Ayahmu itu ada tiga: Ayah yang melahirkanmu (melalui ibumu), ayah yang menikahkanmu dengan putrinya (mertua), dan ayah yang mengajarimu, dan dialah yang paling utama.” Demikian keterangan dari kitab al-‘Athiyyah al-Haniyyah.
 Mengenai hal itu, ada orang yang mengatakan, “Aku dahulukan guruku dibandingkan bakti kepada ayahku. Sekalipun aku mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari ayahku. Yang ini adalah pendidik jiwaku, dan jiwa itu adalah permata. Dan yang itu pendidik tubuhku dan ia bagaikan kerang baginya”.
Al-Imam Sya’rani mengatakan, “Telah sampai kepada kami ucapan dari Syaikh Bahauddin as-Subki, ‘Ketika aku sedang menaiki kendaraan bersama ayahku, yakni Syaikhul Islam Taqiyyuddin as-Subki, di suatu jalan di negeri Syam, tiba tiba ia mendengar seseorang dari kaum petani Syam mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Al-Faqih Muhyiddin An-Nawawi tentang masalah ini dan itu.
Maka turunlah ayahku dari kudanya dan mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan mengendarai tunggangan sedangkan mata melihat Muhyiddin berjalan!
Kemudian ia memintanya untuk mengendarai kuda, sedangkan beliau sendiri berjalan sampai memasuki negeri Syam’.”
Kemudian Asy-Sya’rani mengatakan, “Begitulah, wahai saudaraku, para ulama berlaku terhadap guru guru mereka meskipun ia tidak menjumpainya karena datang beberapa tahun setelah kematiannya.”
Betapa besarnya penghormatan dan kecintaan para tokoh ulama dahulu terhadap para gurunya dapat kita simak dari ucapan Abu Hanifah berikut ini, “Sejak Hammad (yakni gurunya) wafat, aku tidak pernah melakukan sholat melainkan aku mintakan ampunan untuk nya beserta kedua orang tuaku, dan sesungguhnya aku selalu memohonkan ampunan untuk orang yang aku belajar darinya suatu ilmu atau orang yang aku ajari ilmu,”
Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, juga sangat mencintai gurunya itu, “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.” Demikian disebutkan dalam kitab Tahdzib al-Asma’, karya Imam Nawawi.
Apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i berikut ini mungkin akan membuat kita tercengang, “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Bahkan Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan,  “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.”
Banyak lagi kisah yang mungkin akan membuat kita terheran heran dengan penghormatan mereka kepada para gurunya. Al-Imam Asy-Sya’rani mengatakan, “Telah sampai keterangan kepada kami mengenai Imam An-Nawawi bahwa suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya.
Maka ia mengatakan, “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i. Dan ia pun meninggalkannya.
Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya, ‘Uzur apa itu?’
Ia menjawab, ‘Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya.’
Apabila ia keluar untuk belajar dengan membaca kitab kepada gurunya, ia lebih dahulu bersedekah di jalan yang ia lakukan dengan niat untuk gurunya dan mengucapkan doa, “Ya Allah, tutupilah dariku aib guruku agar mataku tidak melihat kekurangannya dan agar tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepadaku.” Perhatikanlah, sebegitu jauhnya perhatian dan kecintaan mereka kepada guru.
Diriwayatkan, Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Diantara hak gurumu terhadapmu adalah engkau mengucapkan salam kepada orang secara umum dan mengucapkannya secara khusus kepadanya, engkau duduk didepannya, jangan menunjuk dengan tanganmu disisinya, dan jangan memberi isyarat dengan matamu, jangan pula engkau mengatakan, ‘Fulan mengatakan yang berbeda dengan yang Tuan katakan’, jangan mengghibah seseorang di hadapannya, jangan bermusyawarah dengan temanmu di majelisnya, jangan memegang bajunya apabila ia bangun, jangan mendesaknya apabila ia tampak sedang malas, dan jangan pula berpaling darinya.” Demikian disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya, At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an.
Abu bakar bin Ayyasy mengatakan, “Ketika saudara Sufyan ats-Tsauri wafat, orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah, lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya.
Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan, ‘Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.’
Sufyan menjawab, ‘Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu. Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.”
Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan mengatakan, “Yang membuat orang orang tidak mendapatkan ilmu hanyalah karena sedikinya penghormatan mereka terhadap orang orang yang berilmu,”
Dua belas Syarat
Syaikh Zakariya dalam kitabnya, al-Lu’lu’ an-Nazhim fi Rawum at-Ta’allum wa at-Ta’lim, mengatakan, “Syarat syarat mempelajari ilmu dan mengajarkannya ada dua belas (12) :
Pertama, mempelajarinya dengan maksud sebagaimana ilmu itu dibuat.
Kedua, mencari ilmu yang dapat diterima oleh tabi’atnya, karena tidak setiap orang layak untuk mempelajari berbagai ilmu, dan tidak semua yang layak mempelajarinya, layak untuk semuanya, melainkan setiap orang hanya dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan (ditakdirkan) untuk itu.
Ketiga, mengetahui tujuan ilmu itu agar yakin dengan perkaranya.
Keempat, menguasai ilmu itu dari awal sampai akhir.
Kelima, mencari kitab kitab yang baik yang mencakup semua disiplin.
Keenam, membaca kepada seorang guru yang dapat memberikan bimbingan dan seorang terpercaya yang dapat memberikan nasihat, dan tidak berkeras kepala dengan dirinya dan kecerdasannya.
Ketujuh, bermuzakarah dengan teman temannya untuk mencari pertahqiqan, bukan untuk mencari kemenangan, melainkan untuk menolong memberikan manfaat dan mengambil manfaat.
Kedelapan, apabila telah mengetahui ilmu itu, jangan menyia nyiakannya dengan mengabaikannya, dan jangan pula mencegahnya dari orang yang patut mendapatkannya, berdasarkan hadits, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu yang bermanfaat lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah pada hari Kiyamat memasangkan kendali pada dirinya denga kendali dari neraka.” Tapi jangan pula memberikannya kepada orang yang tak layak menerimanya, sebagaimana yang terdapat dalam perkataan para nabi, “Janganlah kalian ikatkan permata pada leher babi.” Artinya, janganlah kalian berikan ilmu kepada orang yang tak layak menerimanya. Dan hendaknya mencatat apa yang dapat disimpulkan.
Kesembilan, jangan meyakini dalam suatu ilmu bahwa telah mendapatkan darinya dalam ukuran yang tidak dapat bertambah lagi, karena itu suatu kekurangan.
Kesepuluh, mengetahui bahwa setiap ilmu itu ada batasnya, maka janganlah melampauinya dan jangan pula kurang darinya.
Kesebelas, janganlah memasukkan suatu ilmu pada ilmu yang lain, baik dalam belajar maupun dalam diskusi, karena hal itu dapat membingungkan pemikiran.
Kedua belas, setiap murid dan guru hendaknya memperhatikan hak yang lainnya, terutama pihak pertama (murid), karena gurunya bagaikan ayahnya bahkan lebih agung, karena ayahnya telah mengeluarkan dia ke negeri fana (dunia) sedangkan gurunya menunjukkannya ke negeri yang kekal. Demikian dikutip dari kitab Mathlab al-Iqazh fi Ghurar al-Alfazh, karya al-Allamah ‘Abdullah bin Husain Bilfaqih.
Yang Wajib dan Tak Wajib
Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan,  ‘Penuntut ilmu butuh tiga perkara: Usia yang panjang, harta dan kecerdasan.’” Hal itu juga ia katakan dalam sebuah syair:
saudaraku…
kau tak akan mendapat ilmu
kecuali dengan enam perkara
Aku akan memberitahukan engkau
dengan penjelasan yang terperinci
Kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya
juga petunjuk guru dan masa yang lama
Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Bagi orang yang ingin mendapatkan manfaat dengan ilmu untuk dirinya saja tanpa memperhatikan apakah ilmu itu bermanfaat untuk orang lain atau tidak, hendaklah ia mengutamakan ilmu yang lebih berpengaruh terhadap hatinya dan lebih dapat melembutkannya. Dan hendaklah ia mengikatnya dengan menulis, mengulang ulangi dan semacamnya, yang dapat membuatnya bertambah kukuh. Karena, hal itu lebih bermanfaat bagi dirinya dibandingkan banyak ilmu yang tidak membuatnya mendapatkan pengaruh, kelembutan, dan kekhusyu’an. Demikian pula dalam semua perbuatan, keadaan, dan sebagainya, hendaklah seseorang mencari yang paling layak untuknya meskipun tidak layak dan tidak sesuai bagi orang lain. Ini bagi orang yang menginginkan mendapatkan manfaat untuk dirinya saja.
Adapun orang yang menginginkan dapat memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmunya, hendaklah ia menjadi seperti seorang dokter yang memperhatikan penyakit, sebab sebabnya, materinya, dan memberikan kepada orang yang sakit itu obat yang sesuai dengan penyakitnya. Mungkin saja ada orang yang datang kepadanya yang memiliki penyakit yang sama, lalu ia memberikannya obat yang lain, tidak seperti obat yang diberikannya kepada orang yang sebelumnya (meskipun penyakitnya sama), karena ia tahu bahwa sebab yang menyebabkan penyakitnya berbeda dengan sebab yang menyebabkan penyakit orang lain.
Demikian pula dengan ilmu ilmu, ia berikan kepada setiap orang yang patut menerimanya dan tidak mengukur orang dengan ukuran yang sesuai bagi dirinya. Ini juga berlaku pada orang yang ingin membuat karangan dan semacamnya.” Demikian dikutip oleh Al-Imam Muhammad bin Zain bin Semith dalam kitab Qurrah al-‘Ain wa Jila’ ar-Rayn.
Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Hendaklah seseorang menguasai suatu disiplin ilmu sampai ia dinisbahkan dengan ilmu itu dan dikenal dengannya.”
Sayyidina Ali mengatakan, “Barang siapa banyak dalam sesuatu, ia akan dikenal dengannya.” Dan hendaklah ia mengambil sekadarnya dalam setiap ilmu yang lainnya dan menguasainya secara global, sehingga, apabila ditanya tentang sesuatu, ia memiliki pengetahuan tentang itu dan tidak jahil (bodoh).
Karena itu, Imam As-Suyuti mengarang kitab An-Nuqayah (kitab yang mengulas intisari empat belas ilmu) dan mensyarahkannya. Dan apabila menghafal (menguasai sesuatu ilmu), ia menguasai semua ilmu yang berhubungan dengannya.
“Jika engkau memiliki ilmu tersebut sekadarnya, dalam ilmu ilmu yang berkaitan dengannya juga cukup menguasai sekadarnya, dan lebih baik bagimu menguasai sepuluh masalah dengan sebaik baiknya daripada membaca sebuah kitab dengan sempurna tetapi tidak menguasainya.” Demikian yang dikatakan Imam Abdullah Al-Haddad.
Ia juga mengatakan, “Ilmu ushul itu ada dua. Pertama, ilmu ushuluddin, seperti masalah masalah aqidah. Seseorang harus mengabil ilmu ini sesuai dengan kebutuhannya, seperti aqidah yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Kedua, ilmu ushul fiqih. Ilmu ini sulit dan tidak mudah dipahami, ia tidak wajib bagi setiap orang. Maka semestinya seseorang mengambil dari kedua ilmu ushul tadi sesuai dengan kebutuhannya yang mendesak. Kemudian ia mengambil kitab kitab yang dapat melembutkan hatinya, menggemarkannya kepada akhirat, dan membuatnya zuhud di dunia.
Kemudian ia beibadah dan bersungguh sungguh dalam melakukannya, dan banyak membaca al-Quran dengan kesungguhan. Apabila tidak memungkinkannya melakukan itu di sebagian waktu, hendaklah banyak berzikir dan melazimkannya dalam setiap keadaannya, karena umur itu singkat dan orang yang menganggur menyia nyiakan sebagian besarnya. Dan hendaklah puncak perhatian dan muthala’ahnya adalah pada masalah masalah yang penting dari hal hal tersebut tadi. Jadi, ia melakukan muthala’ah hal hal yang penting dan menghafal hal hal yang penting. Jika ia ingin melakukan muthala’ah mengenai yang lain, ia dapat melakukan nya kadang kadang saja.” Demikian dikutip dari kitab Tatsbit al-Fuad.
Al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Hendaknya seorang penuntut jalan  akhirat senantiasa mencari cari manfaat dimanapun berada, baik kepada orang yang ahli maupun bukan ahli, mau mengambil dari setiap orang bagaimana pun ia, baik ia orang alim maupun orang awam. Karena, terkadang akhlaq yang bagus ia dapati pada sebagian orang awam dan tidak ia dapati pada yang lainnya dan juga tidak pada dirinya. Diantara keadaan seorang yang benar adalah mengambil dari teman bergaulnya segala yang baik yang ia lihat terdapat padanya baik, ucapan maupun perbuatan, dan meninggalkan apa yang buruk darinya. Apabila ia mengambil manfaat yang ia dapatkan padanya, janganlah ia mengambil kerusakan dan penyimpangan yang ada pada orang itu.” Demikian dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Ia juga mengatakan, “Pemahaman itu bagi yang memilikinya merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi mereka terkadang tidak merasakannya sebagai nikmat, karena mereka memandang hal itu bisa diperoleh dari membaca kitab, misalnya. Dan orang yang melakukan muthala’ah kitab kitab hendaknya memohon pertolongan kepada Allah agar memudahkan pemahaman baginya dan dapat membayangkannya sehingga ia dapat memperoleh apa yang dituntut dan Allah membukakan baginya pemahaman dalam agama.” Demikian keterangan dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas mengatakan, “Ada dua perkara yang baik untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu: Pertama, ia tidak masuk pada sesuatu dari ilmu ilmu dan amal amalnya melainkan dengan niat yang baik. Kedua, ia memperhatikan buah dari hasilnya. Apabila tidak memperhatikan ini, ia tidak mendapatkan manfaat.”
Ia juga mengatakan, “Apabila seorang penuntut ilmu membaca suatu kaidah dan ia ingin menghafalnya tetapi tidak ada padanya tinta dan tidak ada pula pena, hendaklah ia menulisnya dengan jarinya pada tangannya atau pada lengannya.”
Diriwayatkan, suatu ketika Imam Syafi’i sempai di Madinah dan duduk di halaqah Imam Malik. Ketika itu Imam Malik sedang mendiktekan kitab Al-Muwathta’ kepada orang orang yang ada disana. Imam Malik mendiktekan 18 hadits sedangkan Imam Syafi’i berada dibarisan belakang. Imam Malik menatapnya dengan pandangannya ketika Imam Syafi’i menulis dengan jarinya pada punggung tangannya.
Ketika jama’ah majelis telah bubar, Imam Malik memanggilnya dengan bertanya kepadanya tentang negerinya dan nasabnya.
Maka Imam Syafi’i pun memberitahukannya.
Lalu Imam Malik berkata kepadanya, “Aku melihatmu memain mainkan tanganmu di punggung telapak tanganmu.”
Imam Syafi’i menjawab, “Tidak, melainkan apabila Tuan mendiktekan sebuah hadits, saya menulisnya diatas punggung tangan saya. Jika tuan mau, saya akan ulangi apa yang tuan diktekan kepada kami.”
Imam Malik berkata, “Bacakanlah.”
Maka Imam Syafi’i pun mendiktekan 18 hadits yang semula didiktekan oleh imam Malik.
Melihat itu, Imam Malik pun mendekatkannya kepada dirinya.
***
Wallahu a’lam


Sekilas Biografi Al-Imam Syekh Abdurrahman Assegaf



Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf .

makam habib abdurrahman assegaf
Segala puji bagi Allah Dzat Yang Maha Bisa, sehingga tampak dialam semesta ini berbagai buah kekuasaannya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kehadirat Imam para Rasul, Imam orang-orang yang bertaqwa, Sayyidina Muhammad SAW berikut para sahabat dan pengikutnya.
Berikut ini, kami persembahkan profil lain dari profil tokoh-tokoh terkemuka yang hidup di bagian negeri Yaman. Tokoh yang satu ini terkenal dikalangan Bani Alawi dengan julukan Al Muqaddam kedua, oleh karena beberapa karunia dan anugerah ilahi yang dimilikinya, beliaulah orang yang telah mensejahterkan hati dan rumah-rumah, dan memperkokoh rel agama dengan landasan ilmu dan amal shaleh, mewariskan kepada kita rambu-rambu untuk melawan syetan dan sekutunya. Barang siapa mengikuti jalannya maka dia akan mendapat target dan tujuannya, berkat karunia Allah.
Silsilah nasab Al-Imam Abdul Rahman Al Seggaf
Nabi Muhammad SAW
Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Al Zahra’
Al Husain
Ali Zainal Abidin
Muhammad Al Baqir
Jakfar Al Shadiq
Ali Al Uraidli
Muhammad
Isa Al Naqib
Ahmad Al Muhajir
Ubaidillah
Alawi
Muhammad
Alawi
Ali Khali’ Qasam
Muahammad Shahib Mirbath
Ali
Muahmmad Faqih Al Muqaddam
Alawi Al Ghayur
Muhammad Maula Al Dawilah
Syekh Abdul Rahman Al Seggaf
Ahmad   Muhammad,    Abu Bakar Al Sakran,    Umar Al Muhdhar,    Ali,    Hasan, ‘Aqil, Jakfar, Syekh, Alawi, Abdullah, Ibrahim.
Biografi Abdul Rahman Al Seggaf
Beliau adalah Syekh dari orang-orang yang telah mencapai martabat kearifan, yang mampu mengkomplikasikan antara ilmu, islam, iman, dan ihsan, yang meneladani ucapan, kelakuan, tekad, dan kemauan kakeknya, Nabi Muhammad SAW. Sudah merupakan kesepakatan kalau beliau telah mencapai derajat kewalian. Beliau dilahirkan di Kota Tarim pada tahun 739 H, menghafal Al Quran dibawah bimbingan Syekh Ahmad bin Muhammad Al Khatib, sangat menguasai ilmu Al Quran dan tajwid, dan hafal semua matan ilmu fiqih dan bahasa. Sejak dini beliau terdidik dalam lingkungan yang penuh dengan senandung Al Quran dan ilmu-ilmu syariah dari majelis-majelis ilmu dan zikir, tak pernah lepas dari muthala’ah (membaca buku-buku referensi) dan murajaah di majelis ayahnya dan perpustakaan gurunya. Diceritakan bahwa hampir semua referensi  keagamaan telah terbendaharakan dalam perpustakaan ayah dan sejumlah guru beliau. Beliau hampir hafal Al Wajiz dan Al Muhadzdzab sebab seringnya muthalaah dan hadir di majelis pembahasannya. Beliau gigih berjuang dalam menekuni latihan-latihan pengendalian nafsu yang dilakukan oleh para pendahulunya, dari dzikir, wirid, pola pikir, cara bersyukur, melunakkan hati, dan lain-lain. Sayyid Muhammad bin Ali Khird mensifati beliau dengan:
جنيد التقى و الزهد و الجود و السخا    و بحر الصفا حبر الشيوخ الأمائل
Beliau ibarat prajurit ketakwaan, zuhud, dan dermawan, lautan suci, dan maha guru.
و أستاذ أرباب العلوم أجلهم        و غيث اليتامى و الأيامى الأرامل
Guru bagi para pemilik ilmu, pelindung anak yatim dan janda. 
Seseorang tidak akan disifati sebagaimana diatas kecuali bila orang tersebut telah mencapai martabat khilafah dari orang-orang dizamannya. Demikianlah    karakter Al Imam Abdul Rahman Al Seggaf.
Guru Abdul Rahman Al Seggaf
Perhatian para guru berpengaruh besar terhadap kehidupan Syekh Abdul Rahman Al Saqqaf. Diriwayatkan bahwa orang yang paling banyak memberi manfaat kepada beliau adalah ayahandanya sendiri, Al Imam Muhammad bin Ali Maula Al Dawilah, disamping itu beliau juga belajar dari Syekh Al Allamah Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Al Faqih Al Muqaddam yang terkenal dengan julukan Shahibul Al Ama’im, dan syekh-syekh yang lainnya.
Untuk menambah bobot keilmuannya, beliau hijrah ke Ghail Ba Wazir (sekitar 50 kilo meter dari Kota Mukalla) untuk menimba ilmu dari  Al Allamah Muhammad bin Sa’ad Ba Syukail, disitu beliau mentahqiq kitab Al Ihya, Al Risalah Al Qusyairiyah, dan Al Awarif.
Beliau juga belajar dari Syekh Muhammad bin Abi Bakar Ba Abbad dan menemaninya selama bertahun-tahun. Syekh Ba Abbad saat itu sangat menghormati beliau , lalu hijrah ke Aden untuk belajar ilmu bahasa arab dari Syekh Muhammad bin Said Kabin, di sana beliau mendalami ilmu usul, balaghah, tafsir, hadist. tidak ada satu ilmu pun yang terlewatkan saat itu, meski begitu beliau tetap tawadhu’ (baca: merendahkan diri) dihadapan guru-gurunya, beliau sangat mencintai dan memberikan hak-hak mereka sebagai gurunya.
Perjuangan Abdul Rahman al Seggaf dalam Menjaga Rutinitas Ritual
Hal yang sangat istimewa dari beliau adalah kejeliannya dalam mengatur waktu, memperkecil volume terhadap hal-hal yang mubah, memperbanyak puasa dan  ibadah lainnya, sampai dikatakan beliau setiap malam dua kali menghatamkan bacaan Al Quran pada shalat-shalat beliau, dan pergi ke Syi’b Al Nua’ir  untuk melakukan shalat tahajjud, hal ini dilakukan terus hingga beliau bisa menghatamkan Al Qur’an empat kali di siang hari dan empat kali pada malam hari.
Hal semacam ini sulit untuk diterima di masa kini, karena kondisi di zaman seperti sekarang ini untuk menghatamkan Al Quran dalam satu hari saja susahnya bukan main, namun kondisi yang ada saat itu juga usaha dan perjuangan orang-orang shaleh untuk bisa kontinyu dan konsisten dalam membaca dan mengingat ayat-ayat Al Qur’an  sangatlah berbeda dengan kondisi kita sekarang, usaha dan perjuangan mereka itu menjadikan ayat-ayat Al Quran seakan sambung-menyambung di lidah mereka, hal ini dinamakan dengan istilah thoy dikalangan ulama, yakni Allah SWT menjadikan Al Quran sangat mudah di lidah sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relative singkat, hal ini pun diriwayatkan dari orang-orang terdahulu seperti Shahabat Usman bin Affan yang menghatamkan Al Quran dalam Thawaf, begitu  juga Al Imam Al Syafi’I dan lain-lain.
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Al Imam Syekh Abdul Rahman Al Seggaf adalah kebiasaan beliau untuk ‘uzlah atau menyendiri dan mengisolir diri dari manusia, beliau memilih Syi’b Nabiyullah Hud sebagai temapt ‘uzlah. Beliau senantiasa berangkat kesana dengan membawa kitab-kitab dan wirid-wiridnya serta sedikit bekal untuk bisa bertahan selama sebulan atau lebih, cara berfikir semacam ini adalah salah satu unsur yang tidak terpisahkan dari metode ilmiyah dan amaliyah madrasah Hadhramaut. Bagi orang-orang yang ingin meneladaninya, Allah SWT berfirman
الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Kami akan menunjukkan jalan kami bagi orang-orang yang berjuang di jalan Kami.
Perjuangan dan usaha Abdul Rahman Al Seggaf untuk mempertebal iman ini banyak berpengaruh pada sikap dan diri beliau dalam hal melaksanakan kewajiban-kewajiban dan kesunnahan-kesunnahan. Diriwayatkan, pada malam pengantin, beliau tidak meninggalkan tahajjud, melepaskan dunia demi Allah, serta mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Syekh Abdul Rahman Al Seggaf sering mengadakan perjalanan ke Al Mukalla, Syihr, Al Ghail, dan Aden untuk menimba ilmu dari sejumlah ulama, dari sini tampaklah keistimewaan-keistimewaan beliau di mata para ulama.
Kemudian kembali lagi ke daerahnya dengan menyuguhkan pelajaran-pelajaran ilmiah dan majelis-majelis Thariqat, semua kalangan sangat mempercayai beliau, sehingga kehormatan dan kapasitas keilmuannya meningkat di mata masyarakat, perjalanan beliau ke pelbagai negeri memberikan corak warna tersendiri bagi madrasah Hadhrmaut dalam pondasi Thariqat dan kaidah-kaidah Tahqiq, hal ini menggiring para murid untuk siap, disamping memperkuat hubungan mereka dengan ilmu dan amal, dan mengarahkan pola pikir mereka untuk  mendapatkan ilmu baik itu fiqh, hadist, tafsir, dan bahasa sebagaimana mestinya, Syekh Abdulrahman Al Saqqaf mengkompilasi antara ilmu dzahir dan bathin dengan takaran yang sangat seimbang dan sempurna.
Popularitas Abdurrahman Al Seggaf
Makam Habib Abdurahman Assegaf bin Muhammad Maula Al Dawilah
Makam Habib Abdurahman Assegaf bin Muhammad Maula Al Dawilah
Syekh Abdurrahman Al Seggaf terkenal dengan ilmu dan amalnya semenjak usia dini. Beliau menjadi tujuan para murid dari seluruh penjuru untuk menimba ilmu pengetahuan, menjadi tujuan surat-surat dari seantero dunia untuk meminta fatwa. Dalam menjawab segala macam permasalahan, beliau menguraikan dan menjawab poin demi poin secara rinci dan teliti, karena beliau memang dikarunia oleh Allah kecerdasan dan kemampuan untuk menguraikan masalah berikut dalil-dalilnya secara mendetail. Semua murid sangat antusias dalam merekam keterangan-keterangan beliau mengenai kitab Al Wasith dan Basith karangan Al Imam Al Ghazali, juga kitab Al Muhadzab karangan Abu Ishaq, dan Al Muharrar.
Diantara hal-hal yang disampaikan beliau kepada para muridnya adalah sebagai berikut :
إن الأوقية من أعمال الباطن تعدل بهارا من أعمال الظاهر
Beberapa uqiah (satuan ukur berat yang paling ringan) dari amalan batin sama beratnya dengan satu bahar (satuan ukur berat yang paling berat) dari amalan dhahir.
من ليس له ورد فهو قرد
Barang siapa tidak memiliki wirid maka dia ibarat kera.
من ليس له أذكار فليس بذكر
Barang siapa tidak memiliki dzikir maka dia bukan orang laki-laki.
من لم يطالع الإحياء ما فيه حياء
Barang siapa tidak pernah belajar ihya’ ulumuddin maka dia tidak punya rasa malu.
من لم يقراء المهذب ما عرف قواعد المذهب
Barang siapa tidak pernah belajar kitab muhadzab maka dia tidak tahu kaidah-kaidah dalam madzhab.
من ليس له أدب فهو دب
Barang siapa tak beradab maka dia ibarat beruang
الناس كلهم فقراء إلى العلم
و العلم فقير إلى العمل
و العمل محتاج إلى العقل
و العقل فقير إلى التوفيق
و كل علم بلا عمل باطل
و كل علم و عمل بلا نية هباء
و كل علم و عمل و نية بلا سنة مردود
و كل علم و عمل و نية و سنة بلا ورع خسران
Semua manusia butuh ilmu.
Ilmu butuh diamalkan
Amal butuh akal.
Akal butuh petunjuk
Setiap ilmu tanpa diamalkan batil.
Setiap perbuatan tanpa niat tak berguna.
Setiap ilmu, amal, dan niat tanpa sunnah (teladan) tidak diterima.
Setiap ilmu, amal, niat, dan sunnah tanpa wara’ tiada hasil.
Dalam kitab Al Musyarri’ dikatakan, Syekh Abdurrahman Assegaf semasa belajar sangat berprestasi dalam ilmu fiqh, lantas putranya Syekh Umar Al Muhdhar ingin menghabiskan umurnya untuk mendalami ilmu fiqih saja, selesai belajar beliau dipanggil oleh ayahnya seraya berkata wahai umar perbanyaklah amalan hati, sebab para ahli fiqih hanya memiliki cabangnya (tangkai) dengan mengambil dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits sedangkan Orang Shufi itu memiliki pokoknya (pohon). Satu Uqiyah (ukuran timbangan berat) yang sedikit itu menyamai amalan dzohir satu bahar (ukuran berat) yang banyak.
Dalam kitab Al Gharar disebutkan Syekh Abdurrahman Assegaf mempelajari lima puluh kitab syariah selain kitab-kitab lainnya. Syekh Abdurrahman Assegaf uzlah (menyendiri untuk beribadah) di makamnya Nabi Hud as sekitar enam bulan, dan pada akhir hayatnya dibacakan Al Qur’an dengan suara keras beliau mendengarkan dan membaca awalan surat-surat dari Al Qur’an secara bersama-sama. Dan ketika Syekh Abdurrahman berdiri untuk Sholat maka beliau dapat dilihatnya seperti seorang pemuda. Sebelum waktu sholat fardhu, beliau sudah berada di dalam masjid dan sholat tahajjud di dalam masjid setiap malam.
Syekh Muhammad Ali Al Khatib mengatakan, Syekh Abdurrahman Al Seggaf mengatakan, dalam satu hari aku menghatamkan Al Quran 7 sampai 8 kali, Syekh Abdurrahman menghatamkan jumlah tersebut diwaktu-waktu sebagai berikut, 2 kali hatam setelah shalat shubuh sampai dhuhur, satukali khatam antara dhuhur dan asar, dan satu khataman setelah shalat asar, ini yang siang hari selebihnya pada malam hari, konon beliau seperti tabung tegak pada malam hari karena banyaknya berdiri untuk shalat.
Kezuhudan, kewara’an dan perhatiannya terhadap pertanian dan kerajianan tangan
Syekh Abdurrahman Assegaf terkenal Zuhud dan wara’ menjauhkan dari hatinya bersit-bersit dunia. Diriwayatkan beliau  membedakan antara zakat untuk orang fakir dan zakat untuk orang miskin sehingga tak sebiji kurma pun dari hak mereka yang tersisa di tangan beliau, bahkan senanatiasa mencuci kurma-kurma tersebut dengan air.
Beliau condong untuk menekuni profesi kerajinan tangan dan bertani, beliau memiliki kebun kurma banyak di Tarim, Masilah, dan lain-lain, jika menanam sebiji korma beliau iringi dengan bacaan surat yasin, namun bila di kebun beliau yang dinamai dengan Bahubaisyi setiap selesai tanam beliau mesti mengakhirinya dengan satu hataman Al Quran, lalu  kebun itu disedekahkan kepada anak-anaknya yang ada pada saat itu dengan syarat mereka mau untuk membaca Al Quran, tahlil, dan tasbih setiap malam dengan jumlah tertentu yang mana pahalanya dihadiahkan untuk beliau setelah meninggal nanti. Anak-anak beliau pada saat itu adalah delapan laki-laki dan enam perempuan.
Diantara kebajikan beliau lagi adalah membangun sepuluh masjid di Hadhramaut, dan membekali setiap masjidnya dengan wakaf bangunan dan tanah, sampai sekarang masjid-masjid itu termasuk masjid beliau yang ada di Tarim tetap makmur, di masjid itu setiap minggu diadakan Hadhrah,  dan madrasah tahfidz Al Qur’an di bawah asuhan Sayyid Muhammad bin Alawi Al Idrus yang terkenal dengan nama Syekh Sa’ad .
Derajat, keutamaan dan ihwal 
Komunitas masyarakat pada zamannya sepakat memberikan gelar kepada beliau dengan Assegaf (baca: atap) disebabkan oleh ketinggian tekad dan martabat beliau, sampai-sampai beliau ibarat atap bagi mereka, namun para ahli sejarah berselisih tentang asal penamaan beliau dengan hal itu, sebagian riwayat mengatakan  panamaan itu karena beliau menyembunyikan hakikat dirinya, maka beliau ibarat tertuup di bawah atap kerendahan diri dan jauh dari ketenaran, diriwayatkan pula beliau tidak pernah mengaku terjadinya haal (perubahan kepribadian buah keteguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah) pada dirinya ataupun meminta dianggap pada derajat tertentu, bahkan beliau membenci hal tersebut, riwayat lain mengatakan dinamakan demikian sebab beliau mengayomi para wali di zamannya dengan haal  yang terjadi pada diri beliau maka beliau ibarat atap pelindung bagi mereka.
Tampaknya peningkatan derajat dan maqam (derajat kedudukan) beliau merupakan motivator terjadinya penamaan tersebut, sebab dari awal karakter yang tidak mau dikenal dan keistimewaannya kemudian ketika derajatnya diangkat oleh Allah SWT beliau menjadi atap bagi para wali.
Dalam beberapa nasihat beliau mengatakan, saya sudah berusaha namun Allah belum menganugerahkan Fath (pembuka hati) buat saya dengan fath yang besar sampai saya kembali mengkoreksi diri sendiri, lantas berkata Demi Allah hati ku tidak pernah menoleh kepada selain-Nya tidak kepada keluarga, anak, ataupun harta, aku tidak membangun rumah ataupun masjid kecuali aku telah diperintah sebelumnya.
Diantara kata mutiaranya adalah, obat hati adalah meninggalkan segala halangan dan petunjuk untuk mencapai segala kebaikan. Beliau berkomentar seputar popularitas seseorang dalam kewalian, saya mempelajari ihwal Hallaj, saya pikir dalam kacanya terdapat keretakan, namun setelah dipahami betul ternyata mengkilap dan tiada retaknya, saya pelajari ihwal Al Ghith bin Jamil saya dapati haalnya di atas ucapannya, saya pelajari ihwal Said bin Umar Balhaf saya dapati maqamnya sesuai dengan haalnya, saya pelajari ihwal Ahmad bin Abi Al Ja’ad kami dapati ucapannya melebihi haalnya.
Beliau juga mengatakan, jadilah orang zamanmu, jika kamu mendapati komunitas zamanmu itu srigala maka jangan kamu jadi domba sehingga mereka memangsamu,  jika kamu dapati mereka itu domba maka janganlah kamu menjadi srigala lalu memangsa mereka.
Ahli fiqih suatu zaman dan ahli tasawwufnya saling menjatuhkan dalam pelanggaran.
Dalam Al Jauhar Al Syaffaf di sebutkan, Syekh Abdurrahman Assegaf  banyak beristighfar siang dan malam, sehingga meningkat dari satu derajat ke derajat yang lain, setiap kali beliau meningkat ke derajat yang lebih tinggi beliau beristighfar, sebab merasa pada derajat sebelumnya beliau kurang dekat kepada Allah SWT sebab kurangnya usaha beliau, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya saya beristighfar dalam satu hari tujuh puluh kali, para ulama menafsiri hadist ini bahwa Nabi Muhammad setiap hari meningkat kedudukannya di sisi Allah setiap hari sekian derajat sehingga setiap kali meningkat  beliau SAW merasa kurang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT pada level sebelumnya.
Dikatakan juga tentang beberapa kebiasan sang tokoh yang lainnya yaitu kebiasaan memberikan pakaian kepada orang-orang fakir miskin dan para murid, diakhir usianya bila salah satu diantara kami membeli peci maka peci itu kami berikan kepadanya, lantas beliau memberikan peci yang beliau pakai, hal ini kami lakukan karena mengharapkan barakah darinya.
Diulas juga tentang pengaruh Syekh Abdurrahman Assegaf terhadap murid-muridnya. Sayyid Muhammad bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Alawi mengatakan ketika saya dididik oleh Syekh Abdurrahman semua syahwat kepada hal-hal duniawi sirna dan sifat-sifat tercela luntur dari kepribadianku berganti sifat-sifat terpuji, sejak saat itu sampai saat ini selalu bertambah dan bertambah.
Penulis kitab Al Jauhar mengatakan di antara para sholihin ada yang menjuluki Syekh Abdurrahman dengan tukang wenter karena beliau memoles hati dengan sifat-sifat yang mulia, juga dengan berbincang dan duduk dengan beliau akan mendapatkan keberkahan, ilmu robbani dan sifat-sifat yang sesuai dengan sunnah Nabi SAW.
Syekh Abdurrahman suatu hari dengan nikmat, berbincang tentang hawa nafsu berapa panjang dan lebarnya, lantas kami masuk ke dalam perbicangan itu dan kami dapati dia tak berujung, para sholihin menyelaminya dan tampak dari mereka tanda kepenatan, sebagaimana perenang ketika sampai ditepian tampak dari mereka tanda kepenatan, tapi aku tidak pernah menyelaminya dan tak pernah merasakan capek dan beratnya.(Al Jauhar Al Syaffaf).
Beliau mengatakan, jika aku tahu hatiku mencintai selain Allah aku akan ambil batu dan akan ku hukum, dalam Al Jauhar juga disebutkan beliau mengatakan saya adalah guru orang yang tak berguru sampai hari kiamat:
قوم همومهم بالله قد علقت    فما لهم همة تسمو إلى أحد
Suatu komunitas yang himmah (cita-cita) mereka hanya kepada Allah semata, mereka tidak memiliki himmah selain kepada-NYa
فمطلب القوم مولاهم و سيدهم    يا حسن مطلبهم للواحد الصمد
ما إن ينازلهم دنيا و لا شرف        من المطاعم و اللذات و الولد
و لا لباس لثوب فائق أنيق        و لا التزين في الأحوال و العدد
Tujuan komunitas itu adalah tuan mereka, alangkah
baiknya tujuan mereka kepada Dzat Tempat Bertumpu
dari segala macam makanan, kenikmatan, anak, dunia, kemuliaan, perhiasan, dan pakaian yang mewah nan indah
Sekelumit tentang Hadhrah Asseqqaf 
Syekh Abdurrahman Assegaf membangun banyak masjid di Tarim dan sekitarnya, diantara masjid yang selalu dibina secara dzahir dan bathin oleh beliau selama hidup, dan masjid itu termasuk masjid pertama yang dibangun pada 768, beliau mengatakan pembinaan masjid ini diawali oleh empat orang imam mujtahid (imam empat madzhab) tiap-tiap mereka berdiri dipilar-pilarnya dan Nabi SAW berdiri di kiblatnya.
Syekh Abdurrahman beri’tikaf di masjid itu setelah isya’ tiap malam kamis dan senin untuk melaksanakan hadhrah tersebut, dan malam itu dinamakan lailatu alratib (baca : malam rutin), jika salah satu keluarga Abi Alawi meninggal pernah beliau meninggalkan  dua atau tiga kali, lalu beliau diisyarati agar tidak perenah meninggalkan lailatu Al Ratib tersebut.
Syekh Said bin Salim Al Syawwaf,  menyitir dalam bait syairnya,
و النور ذي فيها كان في مسجد الراتب و املا منار الأكوان
أنوار جلاها الله
من نور ذيك الخصره يخصر بها اهل الشهرة فيها من الله نظرة
للأوليا شي لله
يا من حضر فيها شاف نور المشايخ الأشراف و الشيخ ذاك السقاف
يحضر مع أهل الله
حضرة تقع ما أكبرها يا ليت من يحضرها أو ليت من ينظرها
فيها جلالات لله
دائم و هم في الحضرة عند العشي و البكرة عسى تقع لي نظرة
منهم و من جود الله
Hadhrah ini dibuka dengan fatihah, kemudian dengan tahlil lalu tasbih dengan membaca Subhana Rabika Rabbi Al ‘Izzati ‘amma yasifuun…lalu Inna Allaha wa malaikatahu …kemudia fatihah lagi.
Lalu dibuka dengan qasidah para salafu salih menurut susunan qasidah yang biasa dibacakan, dan disebutkan didalamnya kisa-salafu salih, tarim dengan pesantern-pesantren dan asas-asas ruhiahnya, sepeninggal Syekh Abdurrahman Assegaf ditambahkan qasidah-qasidah lain karangan putra-putra beliau dan beberapa pujangga dari salafu salih, Al Allamah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur mengumpulkan susunan qasidah-qasidah ini dalam satu buku dan dinamakan, Al Manhal Al ‘Ajib Al Shaf Fi Fadl Wa Kaifiyat Hadhrah Syekh Abdurrahman Assegaf (Sumber yang jernih tentang keutamaan dan tata cara Hadhrah Syekh Abdurrahman Assegaf).
Hadhrah dalam istilah Tasawwuf adalah ungkapan untuk suatu even dimana para murid dibawa untuk tenggelam dalam dzikir dan ingat kepada Allah SWT sebagai cara untuk merilekskan jiwa. Diantara syarat yang paling penting:
1.    Husnu dzan kepada Allah SWT dan wali-wali Allah.
2.    Menepis segala keraguan dalam jiwa.
3.    Husnu dzan diantara para murid.
4.    Cinta mereka kepada Dzat Allah.
5.    Memenuhi  diri dengan zikir dan syair-syair
6.    Menata niat bahwa Hadhrah ini demi bisa merasa dekat kepada Allah dengan jalan mengingat dan menyebut nama-Nya dan rasul-Nya serta mndengar kisah para solihin untuk bisa mengikut dan memperoleh barakah mereka.
Jika salah satu syarat ini tak terpenuhi maka murid tersebut tidak akan mengambil manfaat dari Hadhrah ini, dalam hadhrah ini pembawaan orang berbeda-beda menurut ahli tasawwuf, diantara mereka ada yang sampai teriak dan pingsan, pada sebagian tharikat pembawaan ini kadang sampai bisa menjadikan murid makan kaca, membakar diri, dan menusuk-nusuk badannya, hal-hal yang berlebihan ini semua muncul sebab keyakinan yang kuat terhadap karamah wali tertentu dan ketulusan mereka kepada Allah juga sebab langkah bungkam telinga mereka dari orang yang mnolak mereka.
Adapun di hadhrah saqqaf hal-hal ini tidak terjadi, mungkin beberapa orang yang tulus terlihat menangis, yang diingkari sbagian orang sekarang dari Hadhrah ini penggunaan sebagian alat musik seperti seruling rebana dan semisalnya juga beberapa ungkapan yang berbau istighathah, tawassul dan meminta Syafaat.
Pengingkaran ini merupakan salah satu gaya pandang kelompok yang kontra dengan kegiatan ini, adapun ulama tasawwuf mereka memiliki dasar mengapa mereka ambil cara ini. Sebab para ulama terdahulu tidak pernah memungkiri hal tawassul dan semisalnya, pengingkaran dengan cara konfrotasi itu terjadi akhir-akhir ini berbarengan dengan terjadinya perubahan global pada umat islam bukan hanya mengenai tasawwuf saja namun lebih umum dari itu mencakup sendi kehidupan seorang muslim secara umum  dan telah keluar dari jangkauan pola piker moderat menuju tikaman-tikaman dengan hokum-hukum bid’ah dqan pemutar balikan fakta agama.
Terjadinya perang dunia pertama dan kedua berpengaruh kepada hilangnya pemerintahan, budaya, peradaban, dan ekonomi islam dalam kancah perpolitikan, maka jika ada ungkapan “perangi tasawwuf yang berlebih-lebihan” atau “mari kita ikuti jalan salafi yang banyak mengurangi” keduanya sebenarnya telah kehilangan pedoman islam yang moderat dalam menghukumi ataupun konsekwen, perang dingin diantara mereka terus berlangsung sebab perkara yang sangat tidak prinsip bagi umat islam tapi hanya perbedaan media belaka.
Anak-anak dan Istri-istrinya
Syekh Abdurrahman Assegaf memiliki empat orang istri, motivasi beliau untuk banyak menikah karena hal itu menjadikan pikiran terbebas dari kebutuhan jasad, sehingga bisa total mencapai tujuan-tujuan rohaniah, istri-istri beliau sebagian dari dalam dan luar tarim. Beliau memiliki tiga belas putra dan tujuh orang putri sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab biografi.
Pendapat tentang kedudukan beliau
Dalam kitab Al Jauhar Al Syaffaf disebutkan,
أيا مسبلي أستار جهل و غفلة
على مقل عن رؤية الخير صدت
لزاما على الأبصار غضا لمنظر
لما في عروس الأوليا الكل ضمت
من الحسن و الفضل و البها
و من مكرمات فاخرات عزيزة
إمام العلى شمس الهدى معدن الندى
مفاتيحه تغني لكل لبوسة
و قطب جميع الأولياء تحت حكمه
و تحت يديه ما أنيلت و زيدت
فكم صادر منهم يعود برفده
و كم وارد يحظى بجرل العطية
و خوف القلا و العزل فالكل منهم
لسطوته هم خاضعون لهيبة
عنيت بذا شيخا شريفا مهذبا
مرادا سخيا وصف واحد أمة
له في المعالى و العوالى علائم
نواهي سناها في عوالي همة
كريم السجايا طيب الجأش فاضل
إلى رفده الركبان من كل بلدة
ألا يا مرحبا بالمقبلينا        و بالشيخ الذي فيهم يضينا
Karamah dan mimpi-mimpi beliau
Segala usaha membuahkan hasil, hasil dari perjuangan melawan hawa nafsu adalah istiqamah (konsisten) dan karamah, sebagian salaf mengatakan istiqamah adalah karamah yang terbesar, para Syekh tersebut telah mencapai derajat cakap dalam pendidikan, adab, sopan santun, dan pergaulan dengan para solihin.
Karamah dan hal-hal yang luar biasa bukanlah target kewalian tapi dia adalah tanda kuatnya hubungan antara hamba dengan penciptanya, biarpun tidak tampak karamah pada seseorang bila dia mampu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mereka sudah merupakan kemulyaan yang tiada banding.
Dalam  tulisan ini kami tidak akan membeberkan karamah para wali sebab tujuan penulisan ini bukan untuk menyiarkan karamah para wali, tapi untuk mengenalkan kepada para generasi baru methode nenek moyang dalam memeluk syariat islam, dan mengnalkan bagaiamana mereka menjalani pendidikan dimasa mudanya, yang merupakan tujuan utama dari Syariat Nabi Muhammad SAW.
Usaha sebagian orang untuk membutakan generasi muda dari teladan para pendahulunya dengan pemvonisan bahwa keyakinan dan aqidah mereka itu rusak dan tidak benar, sedangkan jalan yang sekarang mereka diktekan kepada generasi baru itulah yang benar.
Sebagai contoh, Syekh Abdurrahman Assegaf memiliki lebih dari seratus karamah disebutkan dalam buku-buku biografi baik yang sudah dicetak maupun yang belum, semua cerita-cerita itu di kumpulkan dari orang-orang awam dan para pecinta Syekh, tidak satupun dari cerita karamah itu diriwayatkan atau didiktekan oleh syekh itu sendiri.
Anak cucu Syekh sekarang mencari kunci sukses yang menyebabkan beliau menjadi imam dalam suluk, ustadz dalam makrifah, dan seorang jago yang berjuluk Al Muqaddam kedua, dari sisi ilmu, amal dan sejarah usaha beliau kedalam dan keluar.
Tanggung jawab kita adalah mengetahui dan  menunjukkan  kepada semua pentingnya mempelajari sejarah ilmiyah waktu demi waktu serta perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya, dengan meletakkan semua aliran pada posisinya sesuai dengan Fiqh Tahawwulat (cara memahami perubahan-perubahan) yang digariskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Karamah dan celaan-celaan merupakan materi yang mengundang pro kontra para ilmuan, masyarakat pun tidak membutuhkan vonis untuk sejarah ataupun untuk para wali tersebut, semuanya membutuhkan sikap tanggung jawab untuk membangun dan menciptakan komunitas islam yang modern, maka kami sampaikan bagi mereka yang sibuk untuk menjatuhkan para salaf dengan cara ibadah mereka, kita sekarang butuh untuk mengembalikan praktik syariat pada methode yang pas menurut semua golongan, sebenarnya didalam islam batasan-batasan itu sudah ada hanya kebenaran itu saja terbungkam, sekarang tinggal siapa yang mau berjuang untuk menyatukan umat dalam satu kalimat? Baik itu dalam hal cara pandang mereka pada peninggalan para salaf ataupun yang berhubungan dengan batasan peneladanan mereka.
Tutup usia sang tokoh
Syekh Abdurrahman Assegaf ketika semakin lanjut usia, usaha dan perjuangan beliau untuk semakin dekat dengan Allah tak kunjung surut, beliau memanggil seseorang untuk membacakan Al Quran dan beliau mendengarkan dan terkadang dengan system tadarus, beliau dalam kondisi ini tidak satu hari pun tertinggal dari shalat jamaah di masjid.
Beliau juga masih mengarahkan anak-anak dan murid-muruid beliau untuk menggantikan beliau diwaktu-waktu mengajar dan hadhrah beliau, tak lupa beliau tetap dengan gigih menggembleng mereka untuk mempunyai jiwa bertanggung jawab.
Diantara aktivitas beliau di penghujung usia adalam penguatan akar madrasah Hadhramaut, sampai terpupuk ilmu, amal, kebiasaan, dan ibadah dalam jiwa pengikut beliau, konon beliau ingin menampilkan madrasah Hadrmaut seperti cetakan yang disiapkan oleh Al Faqih Al MUqaddam dan Al Imam Al Muhajir.
Beliau meninggal pada tahun 819 hijriah, kabar kematian beliau mengguncangkan lembah Hadhramaut, jenazah beliau diantar kekubur diiringi dengan banjir air mata, dan suasana duka yang mendalam, sementara semua hanya tuduk pada firman Allah,
الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إن لله و إنا إليه راجعون ألئك عليهم  صلوات من ربهم و رحمة و ألئك هم المهتدون
Orang-orang yang bila tertimpa musibah mereka mengatkan segalanya dari Allah dan kepada-Nya lah semua akan dikembalikan, mereka berhak mendapatkan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Beliau dimakamkan di Zanbal diringi dengan bacaan Al Quran, fatihah, dan tasbih.
Putra beliau Syekh Umar Al Muhdhar menyitir bait syair tentang beliau:
ألا يا عين و يحك لا تنامي        و بثي الدمع و اسقي كل ضامي
على فرق الذي قد صار منه        جميع الجسم باك و العظام
Wahai mata jangan tidur bulirkan air mata dan berilah minum orang-orang yang haus akibat ditinggal orang yang telah mendarah daging dengan nya
و حبه قد تمكن من فؤادي        و مسكنه قليبي باكتتامي
Orang yang cintanya telah menancap dihati dan bersarang di sanubari
أنوح أنا على فرقاه نوحا        يشابه نوحه نوح الحمام
Aku histeris ketika berpisah bak histeris merpati
فغاب النور منا و اعتلانا        بفرقاه ظلام كالقتام
Cahaya telah sirna berganti gulita sebab perpisahan ini
و يبكيه التهجد في الليالي        و تبكيه القراءة في القيام
Tahajjud malam, tilawah dan salat menangisi mendiang
و مسكنه من الجنات عدن        من الرحمن تختم بالسلام
Maqam beliau disurga Aden dan selalu mendapatkan salam dari Penciptanya