كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surah Ali `Imran: 110)
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFY ALIM ULAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFY ALIM ULAMA. Tampilkan semua postingan

6 Juni 2014

Sekilas Biografi Al-Imam Syekh Abdurrahman Assegaf



Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf .

makam habib abdurrahman assegaf
Segala puji bagi Allah Dzat Yang Maha Bisa, sehingga tampak dialam semesta ini berbagai buah kekuasaannya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kehadirat Imam para Rasul, Imam orang-orang yang bertaqwa, Sayyidina Muhammad SAW berikut para sahabat dan pengikutnya.
Berikut ini, kami persembahkan profil lain dari profil tokoh-tokoh terkemuka yang hidup di bagian negeri Yaman. Tokoh yang satu ini terkenal dikalangan Bani Alawi dengan julukan Al Muqaddam kedua, oleh karena beberapa karunia dan anugerah ilahi yang dimilikinya, beliaulah orang yang telah mensejahterkan hati dan rumah-rumah, dan memperkokoh rel agama dengan landasan ilmu dan amal shaleh, mewariskan kepada kita rambu-rambu untuk melawan syetan dan sekutunya. Barang siapa mengikuti jalannya maka dia akan mendapat target dan tujuannya, berkat karunia Allah.
Silsilah nasab Al-Imam Abdul Rahman Al Seggaf
Nabi Muhammad SAW
Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Al Zahra’
Al Husain
Ali Zainal Abidin
Muhammad Al Baqir
Jakfar Al Shadiq
Ali Al Uraidli
Muhammad
Isa Al Naqib
Ahmad Al Muhajir
Ubaidillah
Alawi
Muhammad
Alawi
Ali Khali’ Qasam
Muahammad Shahib Mirbath
Ali
Muahmmad Faqih Al Muqaddam
Alawi Al Ghayur
Muhammad Maula Al Dawilah
Syekh Abdul Rahman Al Seggaf
Ahmad   Muhammad,    Abu Bakar Al Sakran,    Umar Al Muhdhar,    Ali,    Hasan, ‘Aqil, Jakfar, Syekh, Alawi, Abdullah, Ibrahim.
Biografi Abdul Rahman Al Seggaf
Beliau adalah Syekh dari orang-orang yang telah mencapai martabat kearifan, yang mampu mengkomplikasikan antara ilmu, islam, iman, dan ihsan, yang meneladani ucapan, kelakuan, tekad, dan kemauan kakeknya, Nabi Muhammad SAW. Sudah merupakan kesepakatan kalau beliau telah mencapai derajat kewalian. Beliau dilahirkan di Kota Tarim pada tahun 739 H, menghafal Al Quran dibawah bimbingan Syekh Ahmad bin Muhammad Al Khatib, sangat menguasai ilmu Al Quran dan tajwid, dan hafal semua matan ilmu fiqih dan bahasa. Sejak dini beliau terdidik dalam lingkungan yang penuh dengan senandung Al Quran dan ilmu-ilmu syariah dari majelis-majelis ilmu dan zikir, tak pernah lepas dari muthala’ah (membaca buku-buku referensi) dan murajaah di majelis ayahnya dan perpustakaan gurunya. Diceritakan bahwa hampir semua referensi  keagamaan telah terbendaharakan dalam perpustakaan ayah dan sejumlah guru beliau. Beliau hampir hafal Al Wajiz dan Al Muhadzdzab sebab seringnya muthalaah dan hadir di majelis pembahasannya. Beliau gigih berjuang dalam menekuni latihan-latihan pengendalian nafsu yang dilakukan oleh para pendahulunya, dari dzikir, wirid, pola pikir, cara bersyukur, melunakkan hati, dan lain-lain. Sayyid Muhammad bin Ali Khird mensifati beliau dengan:
جنيد التقى و الزهد و الجود و السخا    و بحر الصفا حبر الشيوخ الأمائل
Beliau ibarat prajurit ketakwaan, zuhud, dan dermawan, lautan suci, dan maha guru.
و أستاذ أرباب العلوم أجلهم        و غيث اليتامى و الأيامى الأرامل
Guru bagi para pemilik ilmu, pelindung anak yatim dan janda. 
Seseorang tidak akan disifati sebagaimana diatas kecuali bila orang tersebut telah mencapai martabat khilafah dari orang-orang dizamannya. Demikianlah    karakter Al Imam Abdul Rahman Al Seggaf.
Guru Abdul Rahman Al Seggaf
Perhatian para guru berpengaruh besar terhadap kehidupan Syekh Abdul Rahman Al Saqqaf. Diriwayatkan bahwa orang yang paling banyak memberi manfaat kepada beliau adalah ayahandanya sendiri, Al Imam Muhammad bin Ali Maula Al Dawilah, disamping itu beliau juga belajar dari Syekh Al Allamah Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Al Faqih Al Muqaddam yang terkenal dengan julukan Shahibul Al Ama’im, dan syekh-syekh yang lainnya.
Untuk menambah bobot keilmuannya, beliau hijrah ke Ghail Ba Wazir (sekitar 50 kilo meter dari Kota Mukalla) untuk menimba ilmu dari  Al Allamah Muhammad bin Sa’ad Ba Syukail, disitu beliau mentahqiq kitab Al Ihya, Al Risalah Al Qusyairiyah, dan Al Awarif.
Beliau juga belajar dari Syekh Muhammad bin Abi Bakar Ba Abbad dan menemaninya selama bertahun-tahun. Syekh Ba Abbad saat itu sangat menghormati beliau , lalu hijrah ke Aden untuk belajar ilmu bahasa arab dari Syekh Muhammad bin Said Kabin, di sana beliau mendalami ilmu usul, balaghah, tafsir, hadist. tidak ada satu ilmu pun yang terlewatkan saat itu, meski begitu beliau tetap tawadhu’ (baca: merendahkan diri) dihadapan guru-gurunya, beliau sangat mencintai dan memberikan hak-hak mereka sebagai gurunya.
Perjuangan Abdul Rahman al Seggaf dalam Menjaga Rutinitas Ritual
Hal yang sangat istimewa dari beliau adalah kejeliannya dalam mengatur waktu, memperkecil volume terhadap hal-hal yang mubah, memperbanyak puasa dan  ibadah lainnya, sampai dikatakan beliau setiap malam dua kali menghatamkan bacaan Al Quran pada shalat-shalat beliau, dan pergi ke Syi’b Al Nua’ir  untuk melakukan shalat tahajjud, hal ini dilakukan terus hingga beliau bisa menghatamkan Al Qur’an empat kali di siang hari dan empat kali pada malam hari.
Hal semacam ini sulit untuk diterima di masa kini, karena kondisi di zaman seperti sekarang ini untuk menghatamkan Al Quran dalam satu hari saja susahnya bukan main, namun kondisi yang ada saat itu juga usaha dan perjuangan orang-orang shaleh untuk bisa kontinyu dan konsisten dalam membaca dan mengingat ayat-ayat Al Qur’an  sangatlah berbeda dengan kondisi kita sekarang, usaha dan perjuangan mereka itu menjadikan ayat-ayat Al Quran seakan sambung-menyambung di lidah mereka, hal ini dinamakan dengan istilah thoy dikalangan ulama, yakni Allah SWT menjadikan Al Quran sangat mudah di lidah sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relative singkat, hal ini pun diriwayatkan dari orang-orang terdahulu seperti Shahabat Usman bin Affan yang menghatamkan Al Quran dalam Thawaf, begitu  juga Al Imam Al Syafi’I dan lain-lain.
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Al Imam Syekh Abdul Rahman Al Seggaf adalah kebiasaan beliau untuk ‘uzlah atau menyendiri dan mengisolir diri dari manusia, beliau memilih Syi’b Nabiyullah Hud sebagai temapt ‘uzlah. Beliau senantiasa berangkat kesana dengan membawa kitab-kitab dan wirid-wiridnya serta sedikit bekal untuk bisa bertahan selama sebulan atau lebih, cara berfikir semacam ini adalah salah satu unsur yang tidak terpisahkan dari metode ilmiyah dan amaliyah madrasah Hadhramaut. Bagi orang-orang yang ingin meneladaninya, Allah SWT berfirman
الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Kami akan menunjukkan jalan kami bagi orang-orang yang berjuang di jalan Kami.
Perjuangan dan usaha Abdul Rahman Al Seggaf untuk mempertebal iman ini banyak berpengaruh pada sikap dan diri beliau dalam hal melaksanakan kewajiban-kewajiban dan kesunnahan-kesunnahan. Diriwayatkan, pada malam pengantin, beliau tidak meninggalkan tahajjud, melepaskan dunia demi Allah, serta mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Syekh Abdul Rahman Al Seggaf sering mengadakan perjalanan ke Al Mukalla, Syihr, Al Ghail, dan Aden untuk menimba ilmu dari sejumlah ulama, dari sini tampaklah keistimewaan-keistimewaan beliau di mata para ulama.
Kemudian kembali lagi ke daerahnya dengan menyuguhkan pelajaran-pelajaran ilmiah dan majelis-majelis Thariqat, semua kalangan sangat mempercayai beliau, sehingga kehormatan dan kapasitas keilmuannya meningkat di mata masyarakat, perjalanan beliau ke pelbagai negeri memberikan corak warna tersendiri bagi madrasah Hadhrmaut dalam pondasi Thariqat dan kaidah-kaidah Tahqiq, hal ini menggiring para murid untuk siap, disamping memperkuat hubungan mereka dengan ilmu dan amal, dan mengarahkan pola pikir mereka untuk  mendapatkan ilmu baik itu fiqh, hadist, tafsir, dan bahasa sebagaimana mestinya, Syekh Abdulrahman Al Saqqaf mengkompilasi antara ilmu dzahir dan bathin dengan takaran yang sangat seimbang dan sempurna.
Popularitas Abdurrahman Al Seggaf
Makam Habib Abdurahman Assegaf bin Muhammad Maula Al Dawilah
Makam Habib Abdurahman Assegaf bin Muhammad Maula Al Dawilah
Syekh Abdurrahman Al Seggaf terkenal dengan ilmu dan amalnya semenjak usia dini. Beliau menjadi tujuan para murid dari seluruh penjuru untuk menimba ilmu pengetahuan, menjadi tujuan surat-surat dari seantero dunia untuk meminta fatwa. Dalam menjawab segala macam permasalahan, beliau menguraikan dan menjawab poin demi poin secara rinci dan teliti, karena beliau memang dikarunia oleh Allah kecerdasan dan kemampuan untuk menguraikan masalah berikut dalil-dalilnya secara mendetail. Semua murid sangat antusias dalam merekam keterangan-keterangan beliau mengenai kitab Al Wasith dan Basith karangan Al Imam Al Ghazali, juga kitab Al Muhadzab karangan Abu Ishaq, dan Al Muharrar.
Diantara hal-hal yang disampaikan beliau kepada para muridnya adalah sebagai berikut :
إن الأوقية من أعمال الباطن تعدل بهارا من أعمال الظاهر
Beberapa uqiah (satuan ukur berat yang paling ringan) dari amalan batin sama beratnya dengan satu bahar (satuan ukur berat yang paling berat) dari amalan dhahir.
من ليس له ورد فهو قرد
Barang siapa tidak memiliki wirid maka dia ibarat kera.
من ليس له أذكار فليس بذكر
Barang siapa tidak memiliki dzikir maka dia bukan orang laki-laki.
من لم يطالع الإحياء ما فيه حياء
Barang siapa tidak pernah belajar ihya’ ulumuddin maka dia tidak punya rasa malu.
من لم يقراء المهذب ما عرف قواعد المذهب
Barang siapa tidak pernah belajar kitab muhadzab maka dia tidak tahu kaidah-kaidah dalam madzhab.
من ليس له أدب فهو دب
Barang siapa tak beradab maka dia ibarat beruang
الناس كلهم فقراء إلى العلم
و العلم فقير إلى العمل
و العمل محتاج إلى العقل
و العقل فقير إلى التوفيق
و كل علم بلا عمل باطل
و كل علم و عمل بلا نية هباء
و كل علم و عمل و نية بلا سنة مردود
و كل علم و عمل و نية و سنة بلا ورع خسران
Semua manusia butuh ilmu.
Ilmu butuh diamalkan
Amal butuh akal.
Akal butuh petunjuk
Setiap ilmu tanpa diamalkan batil.
Setiap perbuatan tanpa niat tak berguna.
Setiap ilmu, amal, dan niat tanpa sunnah (teladan) tidak diterima.
Setiap ilmu, amal, niat, dan sunnah tanpa wara’ tiada hasil.
Dalam kitab Al Musyarri’ dikatakan, Syekh Abdurrahman Assegaf semasa belajar sangat berprestasi dalam ilmu fiqh, lantas putranya Syekh Umar Al Muhdhar ingin menghabiskan umurnya untuk mendalami ilmu fiqih saja, selesai belajar beliau dipanggil oleh ayahnya seraya berkata wahai umar perbanyaklah amalan hati, sebab para ahli fiqih hanya memiliki cabangnya (tangkai) dengan mengambil dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits sedangkan Orang Shufi itu memiliki pokoknya (pohon). Satu Uqiyah (ukuran timbangan berat) yang sedikit itu menyamai amalan dzohir satu bahar (ukuran berat) yang banyak.
Dalam kitab Al Gharar disebutkan Syekh Abdurrahman Assegaf mempelajari lima puluh kitab syariah selain kitab-kitab lainnya. Syekh Abdurrahman Assegaf uzlah (menyendiri untuk beribadah) di makamnya Nabi Hud as sekitar enam bulan, dan pada akhir hayatnya dibacakan Al Qur’an dengan suara keras beliau mendengarkan dan membaca awalan surat-surat dari Al Qur’an secara bersama-sama. Dan ketika Syekh Abdurrahman berdiri untuk Sholat maka beliau dapat dilihatnya seperti seorang pemuda. Sebelum waktu sholat fardhu, beliau sudah berada di dalam masjid dan sholat tahajjud di dalam masjid setiap malam.
Syekh Muhammad Ali Al Khatib mengatakan, Syekh Abdurrahman Al Seggaf mengatakan, dalam satu hari aku menghatamkan Al Quran 7 sampai 8 kali, Syekh Abdurrahman menghatamkan jumlah tersebut diwaktu-waktu sebagai berikut, 2 kali hatam setelah shalat shubuh sampai dhuhur, satukali khatam antara dhuhur dan asar, dan satu khataman setelah shalat asar, ini yang siang hari selebihnya pada malam hari, konon beliau seperti tabung tegak pada malam hari karena banyaknya berdiri untuk shalat.
Kezuhudan, kewara’an dan perhatiannya terhadap pertanian dan kerajianan tangan
Syekh Abdurrahman Assegaf terkenal Zuhud dan wara’ menjauhkan dari hatinya bersit-bersit dunia. Diriwayatkan beliau  membedakan antara zakat untuk orang fakir dan zakat untuk orang miskin sehingga tak sebiji kurma pun dari hak mereka yang tersisa di tangan beliau, bahkan senanatiasa mencuci kurma-kurma tersebut dengan air.
Beliau condong untuk menekuni profesi kerajinan tangan dan bertani, beliau memiliki kebun kurma banyak di Tarim, Masilah, dan lain-lain, jika menanam sebiji korma beliau iringi dengan bacaan surat yasin, namun bila di kebun beliau yang dinamai dengan Bahubaisyi setiap selesai tanam beliau mesti mengakhirinya dengan satu hataman Al Quran, lalu  kebun itu disedekahkan kepada anak-anaknya yang ada pada saat itu dengan syarat mereka mau untuk membaca Al Quran, tahlil, dan tasbih setiap malam dengan jumlah tertentu yang mana pahalanya dihadiahkan untuk beliau setelah meninggal nanti. Anak-anak beliau pada saat itu adalah delapan laki-laki dan enam perempuan.
Diantara kebajikan beliau lagi adalah membangun sepuluh masjid di Hadhramaut, dan membekali setiap masjidnya dengan wakaf bangunan dan tanah, sampai sekarang masjid-masjid itu termasuk masjid beliau yang ada di Tarim tetap makmur, di masjid itu setiap minggu diadakan Hadhrah,  dan madrasah tahfidz Al Qur’an di bawah asuhan Sayyid Muhammad bin Alawi Al Idrus yang terkenal dengan nama Syekh Sa’ad .
Derajat, keutamaan dan ihwal 
Komunitas masyarakat pada zamannya sepakat memberikan gelar kepada beliau dengan Assegaf (baca: atap) disebabkan oleh ketinggian tekad dan martabat beliau, sampai-sampai beliau ibarat atap bagi mereka, namun para ahli sejarah berselisih tentang asal penamaan beliau dengan hal itu, sebagian riwayat mengatakan  panamaan itu karena beliau menyembunyikan hakikat dirinya, maka beliau ibarat tertuup di bawah atap kerendahan diri dan jauh dari ketenaran, diriwayatkan pula beliau tidak pernah mengaku terjadinya haal (perubahan kepribadian buah keteguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah) pada dirinya ataupun meminta dianggap pada derajat tertentu, bahkan beliau membenci hal tersebut, riwayat lain mengatakan dinamakan demikian sebab beliau mengayomi para wali di zamannya dengan haal  yang terjadi pada diri beliau maka beliau ibarat atap pelindung bagi mereka.
Tampaknya peningkatan derajat dan maqam (derajat kedudukan) beliau merupakan motivator terjadinya penamaan tersebut, sebab dari awal karakter yang tidak mau dikenal dan keistimewaannya kemudian ketika derajatnya diangkat oleh Allah SWT beliau menjadi atap bagi para wali.
Dalam beberapa nasihat beliau mengatakan, saya sudah berusaha namun Allah belum menganugerahkan Fath (pembuka hati) buat saya dengan fath yang besar sampai saya kembali mengkoreksi diri sendiri, lantas berkata Demi Allah hati ku tidak pernah menoleh kepada selain-Nya tidak kepada keluarga, anak, ataupun harta, aku tidak membangun rumah ataupun masjid kecuali aku telah diperintah sebelumnya.
Diantara kata mutiaranya adalah, obat hati adalah meninggalkan segala halangan dan petunjuk untuk mencapai segala kebaikan. Beliau berkomentar seputar popularitas seseorang dalam kewalian, saya mempelajari ihwal Hallaj, saya pikir dalam kacanya terdapat keretakan, namun setelah dipahami betul ternyata mengkilap dan tiada retaknya, saya pelajari ihwal Al Ghith bin Jamil saya dapati haalnya di atas ucapannya, saya pelajari ihwal Said bin Umar Balhaf saya dapati maqamnya sesuai dengan haalnya, saya pelajari ihwal Ahmad bin Abi Al Ja’ad kami dapati ucapannya melebihi haalnya.
Beliau juga mengatakan, jadilah orang zamanmu, jika kamu mendapati komunitas zamanmu itu srigala maka jangan kamu jadi domba sehingga mereka memangsamu,  jika kamu dapati mereka itu domba maka janganlah kamu menjadi srigala lalu memangsa mereka.
Ahli fiqih suatu zaman dan ahli tasawwufnya saling menjatuhkan dalam pelanggaran.
Dalam Al Jauhar Al Syaffaf di sebutkan, Syekh Abdurrahman Assegaf  banyak beristighfar siang dan malam, sehingga meningkat dari satu derajat ke derajat yang lain, setiap kali beliau meningkat ke derajat yang lebih tinggi beliau beristighfar, sebab merasa pada derajat sebelumnya beliau kurang dekat kepada Allah SWT sebab kurangnya usaha beliau, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya saya beristighfar dalam satu hari tujuh puluh kali, para ulama menafsiri hadist ini bahwa Nabi Muhammad setiap hari meningkat kedudukannya di sisi Allah setiap hari sekian derajat sehingga setiap kali meningkat  beliau SAW merasa kurang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT pada level sebelumnya.
Dikatakan juga tentang beberapa kebiasan sang tokoh yang lainnya yaitu kebiasaan memberikan pakaian kepada orang-orang fakir miskin dan para murid, diakhir usianya bila salah satu diantara kami membeli peci maka peci itu kami berikan kepadanya, lantas beliau memberikan peci yang beliau pakai, hal ini kami lakukan karena mengharapkan barakah darinya.
Diulas juga tentang pengaruh Syekh Abdurrahman Assegaf terhadap murid-muridnya. Sayyid Muhammad bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Alawi mengatakan ketika saya dididik oleh Syekh Abdurrahman semua syahwat kepada hal-hal duniawi sirna dan sifat-sifat tercela luntur dari kepribadianku berganti sifat-sifat terpuji, sejak saat itu sampai saat ini selalu bertambah dan bertambah.
Penulis kitab Al Jauhar mengatakan di antara para sholihin ada yang menjuluki Syekh Abdurrahman dengan tukang wenter karena beliau memoles hati dengan sifat-sifat yang mulia, juga dengan berbincang dan duduk dengan beliau akan mendapatkan keberkahan, ilmu robbani dan sifat-sifat yang sesuai dengan sunnah Nabi SAW.
Syekh Abdurrahman suatu hari dengan nikmat, berbincang tentang hawa nafsu berapa panjang dan lebarnya, lantas kami masuk ke dalam perbicangan itu dan kami dapati dia tak berujung, para sholihin menyelaminya dan tampak dari mereka tanda kepenatan, sebagaimana perenang ketika sampai ditepian tampak dari mereka tanda kepenatan, tapi aku tidak pernah menyelaminya dan tak pernah merasakan capek dan beratnya.(Al Jauhar Al Syaffaf).
Beliau mengatakan, jika aku tahu hatiku mencintai selain Allah aku akan ambil batu dan akan ku hukum, dalam Al Jauhar juga disebutkan beliau mengatakan saya adalah guru orang yang tak berguru sampai hari kiamat:
قوم همومهم بالله قد علقت    فما لهم همة تسمو إلى أحد
Suatu komunitas yang himmah (cita-cita) mereka hanya kepada Allah semata, mereka tidak memiliki himmah selain kepada-NYa
فمطلب القوم مولاهم و سيدهم    يا حسن مطلبهم للواحد الصمد
ما إن ينازلهم دنيا و لا شرف        من المطاعم و اللذات و الولد
و لا لباس لثوب فائق أنيق        و لا التزين في الأحوال و العدد
Tujuan komunitas itu adalah tuan mereka, alangkah
baiknya tujuan mereka kepada Dzat Tempat Bertumpu
dari segala macam makanan, kenikmatan, anak, dunia, kemuliaan, perhiasan, dan pakaian yang mewah nan indah
Sekelumit tentang Hadhrah Asseqqaf 
Syekh Abdurrahman Assegaf membangun banyak masjid di Tarim dan sekitarnya, diantara masjid yang selalu dibina secara dzahir dan bathin oleh beliau selama hidup, dan masjid itu termasuk masjid pertama yang dibangun pada 768, beliau mengatakan pembinaan masjid ini diawali oleh empat orang imam mujtahid (imam empat madzhab) tiap-tiap mereka berdiri dipilar-pilarnya dan Nabi SAW berdiri di kiblatnya.
Syekh Abdurrahman beri’tikaf di masjid itu setelah isya’ tiap malam kamis dan senin untuk melaksanakan hadhrah tersebut, dan malam itu dinamakan lailatu alratib (baca : malam rutin), jika salah satu keluarga Abi Alawi meninggal pernah beliau meninggalkan  dua atau tiga kali, lalu beliau diisyarati agar tidak perenah meninggalkan lailatu Al Ratib tersebut.
Syekh Said bin Salim Al Syawwaf,  menyitir dalam bait syairnya,
و النور ذي فيها كان في مسجد الراتب و املا منار الأكوان
أنوار جلاها الله
من نور ذيك الخصره يخصر بها اهل الشهرة فيها من الله نظرة
للأوليا شي لله
يا من حضر فيها شاف نور المشايخ الأشراف و الشيخ ذاك السقاف
يحضر مع أهل الله
حضرة تقع ما أكبرها يا ليت من يحضرها أو ليت من ينظرها
فيها جلالات لله
دائم و هم في الحضرة عند العشي و البكرة عسى تقع لي نظرة
منهم و من جود الله
Hadhrah ini dibuka dengan fatihah, kemudian dengan tahlil lalu tasbih dengan membaca Subhana Rabika Rabbi Al ‘Izzati ‘amma yasifuun…lalu Inna Allaha wa malaikatahu …kemudia fatihah lagi.
Lalu dibuka dengan qasidah para salafu salih menurut susunan qasidah yang biasa dibacakan, dan disebutkan didalamnya kisa-salafu salih, tarim dengan pesantern-pesantren dan asas-asas ruhiahnya, sepeninggal Syekh Abdurrahman Assegaf ditambahkan qasidah-qasidah lain karangan putra-putra beliau dan beberapa pujangga dari salafu salih, Al Allamah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur mengumpulkan susunan qasidah-qasidah ini dalam satu buku dan dinamakan, Al Manhal Al ‘Ajib Al Shaf Fi Fadl Wa Kaifiyat Hadhrah Syekh Abdurrahman Assegaf (Sumber yang jernih tentang keutamaan dan tata cara Hadhrah Syekh Abdurrahman Assegaf).
Hadhrah dalam istilah Tasawwuf adalah ungkapan untuk suatu even dimana para murid dibawa untuk tenggelam dalam dzikir dan ingat kepada Allah SWT sebagai cara untuk merilekskan jiwa. Diantara syarat yang paling penting:
1.    Husnu dzan kepada Allah SWT dan wali-wali Allah.
2.    Menepis segala keraguan dalam jiwa.
3.    Husnu dzan diantara para murid.
4.    Cinta mereka kepada Dzat Allah.
5.    Memenuhi  diri dengan zikir dan syair-syair
6.    Menata niat bahwa Hadhrah ini demi bisa merasa dekat kepada Allah dengan jalan mengingat dan menyebut nama-Nya dan rasul-Nya serta mndengar kisah para solihin untuk bisa mengikut dan memperoleh barakah mereka.
Jika salah satu syarat ini tak terpenuhi maka murid tersebut tidak akan mengambil manfaat dari Hadhrah ini, dalam hadhrah ini pembawaan orang berbeda-beda menurut ahli tasawwuf, diantara mereka ada yang sampai teriak dan pingsan, pada sebagian tharikat pembawaan ini kadang sampai bisa menjadikan murid makan kaca, membakar diri, dan menusuk-nusuk badannya, hal-hal yang berlebihan ini semua muncul sebab keyakinan yang kuat terhadap karamah wali tertentu dan ketulusan mereka kepada Allah juga sebab langkah bungkam telinga mereka dari orang yang mnolak mereka.
Adapun di hadhrah saqqaf hal-hal ini tidak terjadi, mungkin beberapa orang yang tulus terlihat menangis, yang diingkari sbagian orang sekarang dari Hadhrah ini penggunaan sebagian alat musik seperti seruling rebana dan semisalnya juga beberapa ungkapan yang berbau istighathah, tawassul dan meminta Syafaat.
Pengingkaran ini merupakan salah satu gaya pandang kelompok yang kontra dengan kegiatan ini, adapun ulama tasawwuf mereka memiliki dasar mengapa mereka ambil cara ini. Sebab para ulama terdahulu tidak pernah memungkiri hal tawassul dan semisalnya, pengingkaran dengan cara konfrotasi itu terjadi akhir-akhir ini berbarengan dengan terjadinya perubahan global pada umat islam bukan hanya mengenai tasawwuf saja namun lebih umum dari itu mencakup sendi kehidupan seorang muslim secara umum  dan telah keluar dari jangkauan pola piker moderat menuju tikaman-tikaman dengan hokum-hukum bid’ah dqan pemutar balikan fakta agama.
Terjadinya perang dunia pertama dan kedua berpengaruh kepada hilangnya pemerintahan, budaya, peradaban, dan ekonomi islam dalam kancah perpolitikan, maka jika ada ungkapan “perangi tasawwuf yang berlebih-lebihan” atau “mari kita ikuti jalan salafi yang banyak mengurangi” keduanya sebenarnya telah kehilangan pedoman islam yang moderat dalam menghukumi ataupun konsekwen, perang dingin diantara mereka terus berlangsung sebab perkara yang sangat tidak prinsip bagi umat islam tapi hanya perbedaan media belaka.
Anak-anak dan Istri-istrinya
Syekh Abdurrahman Assegaf memiliki empat orang istri, motivasi beliau untuk banyak menikah karena hal itu menjadikan pikiran terbebas dari kebutuhan jasad, sehingga bisa total mencapai tujuan-tujuan rohaniah, istri-istri beliau sebagian dari dalam dan luar tarim. Beliau memiliki tiga belas putra dan tujuh orang putri sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab biografi.
Pendapat tentang kedudukan beliau
Dalam kitab Al Jauhar Al Syaffaf disebutkan,
أيا مسبلي أستار جهل و غفلة
على مقل عن رؤية الخير صدت
لزاما على الأبصار غضا لمنظر
لما في عروس الأوليا الكل ضمت
من الحسن و الفضل و البها
و من مكرمات فاخرات عزيزة
إمام العلى شمس الهدى معدن الندى
مفاتيحه تغني لكل لبوسة
و قطب جميع الأولياء تحت حكمه
و تحت يديه ما أنيلت و زيدت
فكم صادر منهم يعود برفده
و كم وارد يحظى بجرل العطية
و خوف القلا و العزل فالكل منهم
لسطوته هم خاضعون لهيبة
عنيت بذا شيخا شريفا مهذبا
مرادا سخيا وصف واحد أمة
له في المعالى و العوالى علائم
نواهي سناها في عوالي همة
كريم السجايا طيب الجأش فاضل
إلى رفده الركبان من كل بلدة
ألا يا مرحبا بالمقبلينا        و بالشيخ الذي فيهم يضينا
Karamah dan mimpi-mimpi beliau
Segala usaha membuahkan hasil, hasil dari perjuangan melawan hawa nafsu adalah istiqamah (konsisten) dan karamah, sebagian salaf mengatakan istiqamah adalah karamah yang terbesar, para Syekh tersebut telah mencapai derajat cakap dalam pendidikan, adab, sopan santun, dan pergaulan dengan para solihin.
Karamah dan hal-hal yang luar biasa bukanlah target kewalian tapi dia adalah tanda kuatnya hubungan antara hamba dengan penciptanya, biarpun tidak tampak karamah pada seseorang bila dia mampu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mereka sudah merupakan kemulyaan yang tiada banding.
Dalam  tulisan ini kami tidak akan membeberkan karamah para wali sebab tujuan penulisan ini bukan untuk menyiarkan karamah para wali, tapi untuk mengenalkan kepada para generasi baru methode nenek moyang dalam memeluk syariat islam, dan mengnalkan bagaiamana mereka menjalani pendidikan dimasa mudanya, yang merupakan tujuan utama dari Syariat Nabi Muhammad SAW.
Usaha sebagian orang untuk membutakan generasi muda dari teladan para pendahulunya dengan pemvonisan bahwa keyakinan dan aqidah mereka itu rusak dan tidak benar, sedangkan jalan yang sekarang mereka diktekan kepada generasi baru itulah yang benar.
Sebagai contoh, Syekh Abdurrahman Assegaf memiliki lebih dari seratus karamah disebutkan dalam buku-buku biografi baik yang sudah dicetak maupun yang belum, semua cerita-cerita itu di kumpulkan dari orang-orang awam dan para pecinta Syekh, tidak satupun dari cerita karamah itu diriwayatkan atau didiktekan oleh syekh itu sendiri.
Anak cucu Syekh sekarang mencari kunci sukses yang menyebabkan beliau menjadi imam dalam suluk, ustadz dalam makrifah, dan seorang jago yang berjuluk Al Muqaddam kedua, dari sisi ilmu, amal dan sejarah usaha beliau kedalam dan keluar.
Tanggung jawab kita adalah mengetahui dan  menunjukkan  kepada semua pentingnya mempelajari sejarah ilmiyah waktu demi waktu serta perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya, dengan meletakkan semua aliran pada posisinya sesuai dengan Fiqh Tahawwulat (cara memahami perubahan-perubahan) yang digariskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Karamah dan celaan-celaan merupakan materi yang mengundang pro kontra para ilmuan, masyarakat pun tidak membutuhkan vonis untuk sejarah ataupun untuk para wali tersebut, semuanya membutuhkan sikap tanggung jawab untuk membangun dan menciptakan komunitas islam yang modern, maka kami sampaikan bagi mereka yang sibuk untuk menjatuhkan para salaf dengan cara ibadah mereka, kita sekarang butuh untuk mengembalikan praktik syariat pada methode yang pas menurut semua golongan, sebenarnya didalam islam batasan-batasan itu sudah ada hanya kebenaran itu saja terbungkam, sekarang tinggal siapa yang mau berjuang untuk menyatukan umat dalam satu kalimat? Baik itu dalam hal cara pandang mereka pada peninggalan para salaf ataupun yang berhubungan dengan batasan peneladanan mereka.
Tutup usia sang tokoh
Syekh Abdurrahman Assegaf ketika semakin lanjut usia, usaha dan perjuangan beliau untuk semakin dekat dengan Allah tak kunjung surut, beliau memanggil seseorang untuk membacakan Al Quran dan beliau mendengarkan dan terkadang dengan system tadarus, beliau dalam kondisi ini tidak satu hari pun tertinggal dari shalat jamaah di masjid.
Beliau juga masih mengarahkan anak-anak dan murid-muruid beliau untuk menggantikan beliau diwaktu-waktu mengajar dan hadhrah beliau, tak lupa beliau tetap dengan gigih menggembleng mereka untuk mempunyai jiwa bertanggung jawab.
Diantara aktivitas beliau di penghujung usia adalam penguatan akar madrasah Hadhramaut, sampai terpupuk ilmu, amal, kebiasaan, dan ibadah dalam jiwa pengikut beliau, konon beliau ingin menampilkan madrasah Hadrmaut seperti cetakan yang disiapkan oleh Al Faqih Al MUqaddam dan Al Imam Al Muhajir.
Beliau meninggal pada tahun 819 hijriah, kabar kematian beliau mengguncangkan lembah Hadhramaut, jenazah beliau diantar kekubur diiringi dengan banjir air mata, dan suasana duka yang mendalam, sementara semua hanya tuduk pada firman Allah,
الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إن لله و إنا إليه راجعون ألئك عليهم  صلوات من ربهم و رحمة و ألئك هم المهتدون
Orang-orang yang bila tertimpa musibah mereka mengatkan segalanya dari Allah dan kepada-Nya lah semua akan dikembalikan, mereka berhak mendapatkan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Beliau dimakamkan di Zanbal diringi dengan bacaan Al Quran, fatihah, dan tasbih.
Putra beliau Syekh Umar Al Muhdhar menyitir bait syair tentang beliau:
ألا يا عين و يحك لا تنامي        و بثي الدمع و اسقي كل ضامي
على فرق الذي قد صار منه        جميع الجسم باك و العظام
Wahai mata jangan tidur bulirkan air mata dan berilah minum orang-orang yang haus akibat ditinggal orang yang telah mendarah daging dengan nya
و حبه قد تمكن من فؤادي        و مسكنه قليبي باكتتامي
Orang yang cintanya telah menancap dihati dan bersarang di sanubari
أنوح أنا على فرقاه نوحا        يشابه نوحه نوح الحمام
Aku histeris ketika berpisah bak histeris merpati
فغاب النور منا و اعتلانا        بفرقاه ظلام كالقتام
Cahaya telah sirna berganti gulita sebab perpisahan ini
و يبكيه التهجد في الليالي        و تبكيه القراءة في القيام
Tahajjud malam, tilawah dan salat menangisi mendiang
و مسكنه من الجنات عدن        من الرحمن تختم بالسلام
Maqam beliau disurga Aden dan selalu mendapatkan salam dari Penciptanya


Biografi Ulama Hadramaut





Nama kitab: Biografi Ulama Hadramaut ( Al-Imam al-Muhajir ilallah Ahmad bin ‘Isa; Al-Imam ‘Ubaidillah bin al-Muhajir; Al-Imam Muhammad bin Ali ba ‘Alawi Shahib Mirbath; Al-Ustadz al-A’zham al-Faqih al-Muqaddam)
Penjelasan: Mengenal thariqah Alawiyah tidak sama dengan mengenal thariqah-thariqah sufi pada umumnya, sebab dalam thariqah Alawiyah tidak ada metode-metode tertentu yang tertulis secara teoretis meski telah banyak orang mendifinisikan dan menggambarkan manhaj thariqah ini. Mengenal thariqah ini bisa dicapai bila mana kita mengkaji biografi dan riwayat hidup para tokohnya, karena banyak ajaran-ajaran thariqah ini yang hanya ditemukan pada perilaku dan kebiasaan hidup para tokohnya. Oleh sebab itulah kami mencoba mengenalkan thariqah ini melalui riwayat hidup para pendiri dan tokohnya. Tulisan ini kami terjemahkan dari karya ulama kontemporer yang memang berasal dari thariqah ini, beliau adalah Habib Abubakar bin Ali Al-Masyhur, yang saat ini memang merupakan salah satu penerus perjuangan para salaf.



Biografi Al Imam Al Muhajir Ahmad bin ‘Isa al-Rumi


Beliau adalah Sayyid Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Naqieb bin Muhammad bin Ali Al Uraidli bin Ja’far As Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Imam Al Husain Al Sibth bin Al Imam Ali bin Abi Thalib  dan Fatimah Az Zahra Putri Nabi Muhammad SAW. Dengan perjuangannya yang tak kenal lelah dan penuh kesabaran, beliau berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, Yaman.

Makam Imam al-MuhajirAl Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa lahir di kota Bashra Iraq tempat tinggal keluarga dan sanak saudaranya, para ahli sejarah berselisih tentang tanggal kelahiran Al Imam Al Muhajir, namun Saiyid Muhahammad Dhiya’ Shihab dalam kitab beliau yang berjudul Al Imam Al Muhajir  mengatakan: sejauh pengetahuan kami tak seorang pun yang mengetahui umur Al Imam Al Muhajir secara pas, boleh jadi karena literature yang mengungkapkan hal tersebut telah sirna, akan tetapi dari sedikit data yang kami miliki kami dapat mengambil satu kesimpulan, dan boleh jadi kesimpulan yang kami ambil ini sesuai dengan  fakta, lalu dia mengatkan setelah dipelajari dan diperbandingkan dari sejarah pekerjaan anak-anak beliau dan sebagian guru-guru beliau, bisa disimpulkan bahwa Al Imam Al Muhajir dilahirkan pada tahun  273 H. Saiyid Salim bin Ahmad bin Jindan mengatakan di kitab Muqaddimah Musnad-nya bahwa Al Muhajir belajar kepada Al Nablisi Al basri ketika beliau berumur 4 th, dari sini disimpulkan bahwa beliau dilahirkan pada 279H.
Al Muhajir tumbuh dan berkembang dibawah Asuhan kedua orang tua nya dengan nuansa keilmuan religi yang sangat kental, demikina diungkapkan oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Shatiri, dalam kitabnya Adwaar Al Tarikh Al  Hadhramy.
Masa yang dilalui Al Muhajir adalah masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain, dikatakan bahwasanya Al Muhajir banyak mengambil riwayat dari ulama’ pada zamannya, diantara mereka, Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai, Al Nablisi Al bashri, banyak pula para ulama’ yang mengambil riwayat dari nya seperti Alhafidh Al Daulabi (di bashrah 306H), Ibnu Shaid, Al Hafidh Al Ajury, Abdullah bin Muhammad bin Zakariya Al Aufi Al Muammar Al Bashri, Hilal Haffar Al Iraqi, Ahmad bin Said Al Ashbahani, Ismail bi Qasim Al Hisasi, Abu Al Qasim Al Nasib Al Baghdadi, Abu Sahl bin Ziyad, dan lain-lain.
Sebagaimana disebutkan bahwa masa ini makmur dengan ilmu dan budaya namun disisi lain masa ini pun marak dengan fitnah, pertikaian, bentrok pemikiran dan senjata, Al Muhajir memandang masa itu sebagai masa kritis yang penuh dengan cobaan dan penderitaan, Negara-negara islam mulai meleleh persatuan pandangan dan politiknya, dan berkembang menjadi unstabilitas  sosial dan pertumpahan darah.
Revolusi Negro dan Fitnah Karamitah
Kehidupan Al Muhajir semenjak muda hingga dewasa diwarnai dengan guncangan-guncangan social  dibashrah*[1] dan Iraq secara umum, mulai dari revolusi negro yang berawal pada tahun 225, pada masa pemerintahan Negri Abbasiyah, sampai fitnah yang disebarkan oleh Karamitah, sebuah sekte yang dipimpin oleh Yahya bin Mahdi di Bahrain, dia dengan para pengikutnya bekerja keras untuk membiuskan paham-pahamnya disemua lapisan masyarakat dan menggunakan situasi guncang akibat revolusi negro dan  fitnah Khawarij untuk memepercepat pertumbuhan dan  perkembangan mereka.
Terpencarnya Bani Abi Thalib
Seorang Ahli Sejarah, Abdullah bin Nuh menuliskan dalam tambahannya untuk kitab Al Muhajir hal 37 tentang kesaksian Al Muhajir tentang terpencarnya Bani Alawi ke penjuru dunia, seperti India, Sumatra, kepulauan Ujung timur, dan perbatasan cina, yang mana hal ini merupakan sebab tersebarnya agama islam diseluruh dunia.
Kepribadian Al Muhajir di Bashrah *[2]
Kepribadian Almuhajir dibentuk oleh suasana yang penuh dengan pertentangan, ilmu, sastra, falsafat, pertumpahan darah, rasa takut, pertikaian disamping giatnya gerakan roda perdagangan dan pertanian, bahkan Almuhajir menyaksikan kapal-kapal besar bersandar di Bashrah dengan membawa barang dagangan hasil bumi, dan orang-orang dari berbagai bangsa. Keluarga Al Muahajir termasu keluarga terhormat yang bersih hatinya, penuh keberanian, kedudukan dan kekayaan dibarengi dengan taqwa dan istiqamah. Saudara Al Muhajir Muhammad bin Isa adalah panglima perang dan pemimpin expansi wilayah islam.
Hijrah Al Muhajir dari Bashrah
Hijrah Al Imam Al Muhajir di dorong oleh keinginan untuk menjaga dan melindungi keluarga dan sanak familinya dari bahaya fitnah yang melanda Iraq diwaktu itu.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Al Muhjir memutuskan untuk hijrah ke hijaz, maka disodorkanlah berbagai alasan untuk meyakinkan keluarga dan sanak familinya untuk meninggalkan bashrah, dan mereka pun menyetujui usulan Al Muhajir. Hijrah Al Muhajir   terjadi pada 317 H dari Bashrah ke Al MAdinah Al Munawwarah. Diantara keluarga dan sanak famili Al Muhajir yang ikut berhijrah bersama Al Muhajir adalah:
1. Al Imam Al Muhajir Ilaa Allah Ahmad bin Isa. *[3]
2. Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidli Isteri Al Muhajir
3. Abdullah bin Ahmad putra Al Muhajir
4. Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad  Isteri Abdullah bin Ahmad.
5. Ismail bin Abdullah bin Ahmad yang dijuluki dengan Al Bashry
6. Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah kakek Keluarga Al Ahdal *[4].
7. Al Syarif Ahmad Al Qudaimi kakek keluarga Al Qudaim *[5]
8. 70 orang dari oarng-orang dekat Al Muhajir diantara mereka: hamba sahaya Al Muhajir, Jakfar bin Abdullah Al Azdiy, Mukhtar bin Abdullah bin Sa’ad, dan Syuwaiyah bin Faraj Al Asbahani.
Rombongan Al Muhajir berhijrah ke madinah melalui jalan Syam karena jalan yang biasa dilalui kurang aman *[6], dan sampai di Madinah  pada tahun 317, konon di tahun ini terjadi fitnah besar di Al Haramain, gerakan Karamithah masuk ke Makkah Al Mukarramah di musim haji dan membuat keributan di sana serta mengambil hajar aswad dari tempatnya *[7]. Pada tahun berikutnya 318H Al Muhajir beserta keluarga berngkat ke Makkah untuk melaksanakan Ibadah Haji, konon para jamaah haji pada tahun itu hanya meletakkan tangan mereka di tempat hajar aswad, disaat melaksanakan Ibadah haji Al Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadhramaut, belajarlah mereka dari Al Muhajir ilmu dan akhlak, dan mereka menceritakan kepada Al Muhajir tentang fitnah Al Khawarij di Hadhramaut dan mengajak Al Muhajir untuk membantu mereka menyelesaikan fitnah itu lantas Al Muhajir menjanjikan untuk datang ke negeri mereka.
Perjalanan ke Tihamah dan Hadhramaut.
Hadhramaut pada waktu itu berada dibawah pengaruh Abadhiyah suatu gerakan yang dipelopori oleh Abdullah bin Ibadh Al Maady, gerakan ini pertama kali muncul pada abad kedua hijriah dibawah pimpinan Adullah bin Yahya Al Amawi yang menjuluki dirinya sebagai pencari kebenaran *[8].
Al Mas’udi dalam kitab sejarahnya menuliskan “Alkhawarij masuk Hadhramaut dan pada saat itu kebanyakan penduduknya adalah pengikut aliran Ibadhiyah dan sampai saat ini (332 tahun penulisan buku tersebut) dan tidak ada perbedaan antara Khawarij yang ada di Hadhramaut dengan yang ada di Oman. Akan tetapi aliran Ibadhiyah dan Ahlu Sunnah tetap hidup di Hadhramaut  meskipun pengaruh Khawarij lebih menyeluruh di wilayah Hadhramaut samapi datangnya Al Muhajir.
Mengapa Al Muhajir memilih untuk berhijrah ke Hadhramaut?
Dhiya Syihab dalam kitabnya Al Imam Al Muhajir mengatakan, apakah motivasi Al Muhajir untuk berhijrah ke hadhramaut adalah harta? Hadhramaut bukanlah negri yang berlimpah harta dan dia pun seorang yang kaya raya, ataukah  hijrah Al Muahjir adalah untuk membantu rakyat hadhramaut, dan mencegah merembetnya fitnah Karamitah yang terus meluas? Sebenarnya kondisi dan peristiwa-peristiwa diatas adalah alas an utama kenapa Al Muhajir berhijrah ke Hadhramaut, sesuai ayat “Alam takun ardlu Allahi waasi’atan fatuhaajiruu fiihaa” artinya tidakkah bumi Allah itu luas sehingga kamu  berhijrah dan hadist ” yuu syiku an yakuuna khairu maali al muslim ghanamun yatba’u biha sya’afa al jibal wa mawaqi’a alqatar ya firru bidiinihi min al fitan” artinya dikhawatirkan akan dating suatu masa dimana harta yang paling berharga bagi seseorang adalah kambing, dia membawanya kearah pegunungan dan kota-kota untuk melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah. Maka Allah menjadikan hijrah Al Muahajir ke Hadramaut sebagai donator dan petunjuk sebab dengan hartanya Al Muhajir membangun banyak infrastruktuk yang lapuk dimakan zaman dan dengan kehadirannya Allah menyadarkan banyak dari orang-orang yang fanatic buta kepada Kahawarij.
Rombongan Al Muhajir diantara Tihamah dan Hadhramaut.
Saiyid Muhammad bin Sulaiman Al Ahdal salah satu dari anggota rombongan memutuskan untuk menetap di Murawa’ah di Tihamah *[9], sedangkan saiyid Ahmad Al Qudaimy memutuskan untuk menetap di lembah Surdud di Tihamah, dan dengan izin Allah SWT mereka menjadi tonggak berkembangnya keturunan Nabi Muhammad SAW di negri tersebut, adapun Al Muhajir dia tetap meneruskan perjalanan hingga sampai  di desa Al Jubail di lembah Doan, konon penduduknya merupakan pecinta keluarga Nabi Muhammad SAW dan mereka dapat banyak belajar dari Al Muhajir, kemudian pindah ke Hajren disana  terdapat Al Ja’athim termasu kabilah Al Shaddaf yang merupakan pengikut aliran Sunny *[10], disana Al Muhajir mangajak semua golongan untuk bersatu di bawah panji islam dan mempererat tali persaudaraan diantara mereka, maka banyaklah diantara orang-orang kahawarij yang sadar dan taubat kembali kejalan yang benar, ketika di Hajren Al Muhajir ditemani dan dibela  oleh para petua dari kabilah ‘afif. Al Muhajir membeli rumah dan kebun korma di hajren yang kemudian dihibahkan ke hamba sahaya nya Syuwaiyah sebelum pindah dari Hajren.
Dan setelah keluar dari Hajren Al Muhajir singgah dan bertempat tinggal di kampung Bani Jusyair didekat desa Bur yang mana penduduknya pada saat itu adalah Sunny, disitu Al Muhajir berdakwah dengan sabar dan sopan, kemudian pindah lagi ke desa Al Husaiyisah *[11] dan disana membeli tanah perkebunan yang dinamakan  Shuh di atas desa Bur. Pada periode ini Al Muhajir banyak menarik perhatian orang di daerah itu sehingga mereka banyak mengikut langkah sang Imam, kecuali beberapa golongan dari kahawarij, hal ini yang menyebabkan Al Muhajir mendatangi mereka untuk memahamkan mereka.
Al Imam Al Muhajir dan Khawarij
Hadirnya Al Muhajir di Hadhramaut merupakan  peristiwa besar dalam sejarah, sebab kehadiran Al Muhajir di Hadhramaut membawa perubahan besar di daerah itu, Yaman ketika itu diperintah oleh Al Ziyad di Yaman utara, namun penduduk Hadhramaut memiliki hak untuk menetukan perkara mereka, tidak semua penduduk Hadhramaut pada saat itu bermadzhab Ibadhi, terbukti keluarga Al Khatib dan Ba Fadhal dari Tarim pada saat itu masih berpegang teguh dengan aliran yang benar.
Imam Muhajir selalu berdiskusi  dengan para pengikut Abadhiyah dengan bijaksana dan teladan yang mulia, yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para lawan diskusinya dan menimbulkan simpati mereka, Khawarij adalah mazhab yang menerima diskusi tentang madzhab mereka dan mereka pun banyak berdiskusi dengan para ulama di banyak hal, sedangkan Al Imam Al Muhajir merupakan sosok yang ahli dalam hal meyakinkan lawan bicara. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Saiyid Al Syatiri dalam kitabnya “Al Adwar” halaman 123, sehingga aliran Al Abadhi perlahan-lahan terkikis dan habis di hadhramaut dan digantikan dengan mazhab Al Imam Syafii dalam hal pekerjaan dan Imam Al Asy’ary dalam hal Aqidah.
Adakah bentrok senjata antara Al Muhajir dan Khawarij?
Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang terjadinya kontak senjata antara Al Muhajir dengan Khawarij, sebagian menyatakan terjadinya hal itu dan meriwayatkan kemenangan Al Muhajir atas kaum Khawarij, sebagian lagi menafikan hal tersebut.
Saiyid Al Syathiri dalam kitabnya “Al Adwar” menafikan terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak, dkatakanjuga bahwa pendapat ini di ambil karena dari sekian referensi sejarah yang ada pada nya tidak satupun yang memaparkan tentang terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak demikian juga para penulis sejarah Hadhramaut dari kurun terakhir *[12], adapun Saiyid Dhiya Syihab dan Abdullah bin Nuh dalam kitab Al Muhajir menyatakan terjadinya perang Bahran *[13] namun keduanya tidak mencantumkan referensi yang memperkuat pendapat tersebut.
Saiyid Abdul Rahman bin Ubaidillah mengatakan bahwa Al Muhajir dan putra-putra nya terus menrus melancarkan argument-argumen kepada Ibadhiyah sampai mereka kehabisan dalil dan pegangan, dikatakan juga bahwa Al Muhajir melumpuhkan kekuasaan Abadhiyah  dengan cara melancarkan argument-argumen yang membuktikan kesalahan mazhab mereka, Syeh Salim bin Basri mengatakan Al Muhajir membuka kedok bid’ah Khawarij dan membuktikan kesalahannya, pendapat keduanya didukung pula oleh Al Faqih Al Muqaddam.
Al Imam Al Muhajir dan nasab mulianya
Tangga menuju makam Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir
Tangga menuju makam Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir
Sebagian penulis mengangkat tajuk pada tulisan mereka mengenai nasab Ahlu Bait Nabi Muhammad SAW, banyak diantara mereka yang menanamkan keraguan tentang Ahlu bait, motivasi mereka untuk mengangkat tema itu bermacam-macam diantara mereka ada yang hanya ingin mendapatkan pencerahan sehingga lebih meyakinkan mereka, ada pula diantara mereka yang ingin menjatuhkan Ahlu bait karena iri dan dengki terhadap mereka.
Berangkat dari kenyataan ini Al Imam Al Muhajir sebelum berangkat ke Hadhramaut telah menyusun nasabnya dan anak-anaknya smapai Rasulullah SAW, sebelumnya keluarga Al Muhajir nasab dan silsilahnya sudah terkenal di kota Bashrah, seandainya bukan begitu ini merupakan titik lemah yang bisa digunakan oleh Khawarij untuk menumbangkan dalill-dalil Al Muhajir.
Sepeninggal  Al Imam Al Muhajir beberapa orang ulama Hadhramaut berinisiatif untuk mencari bukti yang membenarkan nasab Al Imam Al Muhajir, Syeh Ba Makhramah dalam kitab tarikh nya mengatakan: Ahmad bin Isa ketika datang di Hadhramaut, penduduk kota itu mengakui kemulyaan dan keagungannya, lantas mereka ingin membuktikan pengakuan mereka lantas 300 orang mufti di Tarim pada saat itu mengutus seorang ahli hadist Al Imam Ali bin Muhammad bin Jadid ke Iraq untuk membuktikan hal tersebut *[14], lantas sang imam pulang dengan membawa nasab mulia Al Muhajir.
mendaki tangga ke makam imama muhajir Alwi bin Thohir membeberkan masalah ini di salah satu artikelnya yang di muat di majalah Rabithah Alawiyah(2/3:95M) dan mengatakan, kemulayaan Al Muhajir, keberadaan famili dan handai taulannya di Bashrah, tinggalnya Muhammad putra Al Muhajir di bashrah untuk menjaga harta bendanya, dan putra putri Ali, hasan, dan Husain, kedatangan Saiyid Jadid bin Abdullah untuk melihat harta benda itu, kesaksian penduduk Iraq akan kebenaran nasab Al Muhajir dan pengembangan harta Al Muhajir dari Iraq oleh anak cucunya di Hadhramaut, adanya saudara dan ipar Al Muhajir di Iraq, adanya hubungan yang continyu diantara mereka, adanya kabilah Bani Ahdal dan Bani Qudaim di Yaman, ini semua merupakan bukti akan kebenaran nasab Al Muhajir, tidaklah mudah bagi Saiyid Ali Bin Muhammad bin Jadid  untuk mendapatkan bukti ini sepeninggal kakek-kakenya selama bertahun-tahun bila nasab tersebut tidak terkenal di Bashrah, karena Ali dilahirkan di Hadhramaut bergitu juga Ayahnya Muhammad bin Jadid, akan tetapi hubungan antara mereka dengan keluarga yang di Iraq setelah kepergian mereka tidak putus.
Diantara para penulis yang mengulas luas tentang nasab Al Muhajir da puta-putra nya adalah:
1. Al Majdi, Al Mabsuth, Al Masyjar, yang ditulis oleh Ahli nasab, Abu Hasan Najm Al Diin Ali bin Abi Al Ghanim Muhammad     bin Ali Al Umri Al Bashri, meninggal tahun 443.
2. Tahdhib Al Ansaab, Tulisan tangan Al Allamah Muhammad bin Ja’far Al Ubaidli, meninggal tahun 435.
3. Umdatu Al Thalib Al Kubra, ditulis oleh ahli nasab Al Allamah Ibn Anbah Jamal Al Diin Ahmad bin Ali bin Husain bin Ali bin mihna Al Dawudi.
4. Al Nafhah Al Anbariyah Fi Ansab Khairil Briyah, ditulis oleh Al Allamah Ibn Abi Al Fatuh  Abi Fudhail Muhammad Al Kadhimi, meninggal tahun 859.
5. Tuhfatu Al Thalib Bi Ma’rifati Man Yantasib Ilaa Abdillah Wa Abii Thalib, ditulis oleh Al Allamah Al Muarrikh Abi Abdillah Muhammad bin Al Husain Al Samarqandi Al Makky, meninggal tahun 996.
6. Zahru Al Riyadh  Wa Zalalu Al Hiyaadl, ditulis oleh Al Allamah Dlamin bin Syadqam, meninggal tahun 1085.
Ibn Anbah dan AL Imam Al Murtadla memiliki dua kitab berbeda tentang nasab ini dan belum dicetak, adapun kitab yang ditulis secara modern tentang nasab Ahlu bait antara lain Dirasaat Haula Ansaab Alu bait oleh Saggaf bin Al Alkaff., Tazwiid Al Rawi oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri. Jadi permasalahannya sekarang bukan karena kurangnya literature atau referensi tapi karena hilangnya prinsip amanah dan hantaman dari para pengkhiyanat, juga karena kurangnya tingkat pengetahuan syariah sebagian Ahlu bait dan terpengaruhnya mereka oleh budaya orientalist, yang terus merongrong zona islam.
Meninggalnya Al Imam Al Muhajir
mendaki tangga ke makam imam muhajirSetelah perjuangan yang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil pula menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, akhirnya Al Muhajir berpulang kehadirat Allah SWT pada tahun 435 H, dan di makamkan di Al Husyaisyiah tepatnya di Syi’b Makhdam, dan dapat diziarahi sampai hari ini.
Dimakamkan pula disekitar Kuba Al Muhajir Saiyid Al Allamah Ahmad Al Habsyi, dahulu diadakan setiap tahunnya peringatan masuknya Al Imam Al Muhajir ke Hadhramaut kemudian peringatan ini sempat terputus, lalu diadakan lagi namun dalam bentuk lebih terbatas, dan pada tahun 1422H ditambahkan nbeberapa peringatan yang sesuai dengan zaman, seperti seminar tentang samapainya Al Imam Al Muhajir di Hadhramaut, yang diisi didalamnya denagn study tentang sosok Al Muhajir, sejarah, ilmu, dan pengaruh perpindahannya ke Hadhramaut dalam kuliah-kuliah yang diadakan di Tarim dan Seiyun, dan harapan kami hal ini akan menjadi adat setiap tahun yang akan membiaskan gambaran ilmu dan sejarah yang telah ditorehkan oleh sekolah Al Muhajir dan orang-orang setelahnya demi membela islam, umat, dan negri.
الفاتحة إلى روح سيدنا وحبيبنا وشفيعنا رسول الله محمد بن عبدالله وآله وأصحابه وأزواجه وذريته وأهل بيته وإلى روح سيدنا المهاجر إلى الله أحمد بن عسى وأصوله وفروعهم ، أن الله يعلى درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم و يحفظنا بجاههم وينفعنا بهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة
_______________________________________________________________
*) Keterangan Catatan
[1] .oranr-orang negro mengadakan revolusi di effrat Basharh dibawah pimpinan seseorang dari Azarigah dari desa Drifin bernama Bahlul dan menjuluki dirinya Ali bin Abdul Rahim dari qabilah Abdul qais dari Bahrain, dia menggembar-gemborakan pembebasan para budak di Basrah dan sekitarnya, akhirnya dia berhasil mengambil hati para budak dan mengajak mereka untuk meninggalkan tuan-tuan mereka, lalu dia pindah ke Baghdad selam setahun kemudian kembali lagi ke Bashrah dan diperangi oleh Al Mu’tamad pada tahun 256 namun kemenangan ada di tangan para orang negro, sehingga penduduk Basrah pun meninggalkan negri mereka, tahun 357 orang-orang negro menguasai Bashrah dan banyak membantai penduduknya serta merusak dan membakar masjid-masjid serta menyalakan api diseluruh penjuru kota. (Al Muhajir)12-22.
Disebutkan juga bahwa diantara factor yang menyebabkan kemenangan orang negro adalah pertahanan kota sangat rapuh disebabkan karena perpecahan partai, tampaknya kota ini saat itu dilanda pertikaian antara Rabi’iyin yaitu Syiah, dan Al Sa’adiyin yaitu Sunny (Al Muhajir)23. masa kekuasaan Orang-orang negro berakhir pada tahun 280 setelah perang yang berlangsung selama 14 tahun, namun pengaruh fitnah ini berlangsung lama sekali.
[2] . Abdullah bin Nuh di tambahannya untuk kitab Al Muhajir mengatakan: Ahmad Al Muhajir adalah sosok yang sangat dermawan, berwibawa, berilmu dan senang menyantuni yang lain, kakeknya Muhammad bin Ali adalah putra bungsu ayahnya, lahir di Madinah Al Munawarah kemudian pindah ke Bashrah dan meninggal disana pada tahun 203, kakek Al Muhajir Ali Al Uraidli bin Imam Jakfar Al Shadiq, dinamakan al Uraidli karena dilahirkan di Al Uraidl suatu daerah berjarak 4 mil dari madinah, kakek AL Muhajir merupakan putra bungsu Ayahnya ditinggal mati ayahnya pada saat dia masih kecil lantas berhijrah bersama sudaranya Muhammad bin Ja’far ke Makkah ketika kakaknya melakukan gerrakan disana, dan berhijrah bersama Muhammad bin Muhammad bin Zaid ketika dia memimpin gerakannya di Iraq, lantas ke Khurasan kemudian Bashrah, penduduk Kufah mengundang beliau untuk singgah di sana, lantas beliau berangkat kesana dan tinggal disana beberapa waktu, ketika itu paenduduk Kufah benyak mengambil faidah dari keberadaan beliau, meninggal tahu 210 .
[3] . Para ahli sejarah sepakat untuk menjuluki Ahmad bin Isa dengan julukan Al Muhajir  semenjak beliau hijra dari Iraq ke Hijaz yang kemudian menetap di Hadhramaut, Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri dalam kitab “Al Adwar” menuturkan, sebab penjulukan Ahmad bin Isa dengan Al Muhajir karena dia Hijrah dari Bashrah ke Hadhramaut dengan sebab perbaikan, terutama jaminan keselamatan agamanya dan agama para pengikutnya, dan hijrah yang semacam ini bukan termasuk hijrah Bid’ah, karena hijrah semacamini sudah biasa dilakukan olah keluarga Nabi SAW, dimulai dari hijrah beliau dari Makkah ke Madinah yang kemudian diikuti oleh Al Imam Ali bin Abi Thalib ketika berhijrah ke Iraq Dari Hijaz, dan anak turunnya seperti Al Imam  Husain bin Ali, Al Imam Zaid bin Ali bin Husain, Muhammad bin Nafs Al Zakiyah bin Abdullah Al Mahdh bin Al Husain Al Muthanna bin Al Hasan Al Sabt dan kedua saudaranya Ibrahim dan Idris moyang Bani Adarisah di Maghrib, dan lain-lain.(Al Adwar)(1:156)
[4] . Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Isa bin Alawi bin Muhammad bin Hamham bin Aun bin Al Imam Musa Al Kadhim bin Ja’far Al Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Al Uraidli….
Demikian disebutkan Sayyid Ali bin Al Husain Al Ahdal dalam kitab Bughyatu Al Thalib Li Ma’rifati Awlaad Ali bin Abi Thalib, Al Ahdal adalah julukan yang diambil dari kata Al Adna yang berarti terdekat, keturunan Bani Ahdal berkembang di Yaman Utara.
[5] . Sebagian kitab tentang nasab menyebutkan nasab Bani Al Qudaimi diantaranya Al Sirah Al Mustafawiyah Wal  Ansab Al fathimiyah yang ditulis oleh Al Allamah Saiyid Alawi bin Abdul ARhman Al Saggaf AL Al Makky, disebutkan Anak turun Husain di laembah Sardad dan sekitarnya Bani Qudaimi, Bani Al Syajar, Bani Ahmad, Bani Wali, Bani Sufi, Bani Ismail, Bani Arab, Bani Al Jarufi, Bani Al Shiddiq, Bani Al Bahr, Bani AL Thalj, Bani Al Syah. Ke 13 kabilah ini keturunan Hasan bin Yusuf bin Hasan bin Yusuf bin Hasan bin Yahya bin Salim bin Abdullah   bin Husain bin Ali bin Adam bin Idris bin Husain bin Muhammad Al Jawad bin Ali Al Ridla bin Musa Al Kadhim bin Ja’far Al Shadiq.
[6] . Jalur ini dinamakan jalur Zubaidah, dinamakan Zubaidah yang mana dia adalah istri Haru Al Rasyid karena dia mengeluarkan banyak biaya demi untuk perbaikan dan pengamanan jalur ini pada tahun 90, kemudian jalur ini rusak setelah masa Khalifah Al Mutawakkil.
[7] . Karamithah mengambil Hajar Aswad dan dibawa ke Hajar, kemudian dikembalikan lagi setelah kurang lebih 22 tahun, selama itu tempat Hajar Aswad kosong, mereka mengatakan kami ambil Hajara Aswad dengan kekuasaan Allah dan kami kembalikan lagi dengan kehendak Allah.
[8] . Pencari kebenaran muncul bersama sekelompok orang Khawarij pada saat itu, mereeka menyapu Hadharamaut dan sekelilingnya, menguasai Sana’a, menggempur kota Makkah, dan berperang dengan Bani Umaiyah samapi habisnya perlawanan Khawarij, saat itu terbunuh A’war dan beberapa pengikutnya yang kemudian kepala mereka dikeler ke Damaskus pada tahun 130, akan tetapi fitnaj mereka belum selesai juga.
[9] Di sebutkan dalam kitab Al Muhajir, Moyang Bani  Ahdal sampai di Yaman, beliau adalah Muhammad bin Sulaiman, lantas beliau tinggal di desa Murawa’ah dekat dengan Baitul Faqih, anak cucunya berkembang samapai diantara mereka ada yang tinggal di lembah Sahm, Fakhriyah, Zabid, Abyat Husain , dan diantara mereka juga ada yang hijrah ke Hadhramaut.
[10] Hajren termasuk pusat pedesaan Shadaf, yang mana pedesaan ini  memanjang di pertengahan  lembah Doan sampai daerah Andal, Al Ahrum, dan sampai dekat Sadbah.
[11] Sebuah desa diantara Tarim dan Seiyun, dan merupakan desa yang makmur beliau membeli sebagian besar tanah di daerah Suh, daerah ini merupakan benteng yang terkenal didalamnya terdapat sumur yang terletak diatas kota Bur, sumur ini digali oleh Saiyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir dan di pagari dengan bebatuan besar disetiap batu di ukur nama beliau.
Al Husyaisyah sekarang tak berpenduduk dan rusak diceritakan bahwa rusaknya Al Husyaisyah ditangan Agil bin Isa Al Shabirati tahun 839.
[12] Saiyid Al Syathiri menukil dari Saiyid Al Allamah Abdullah bin Muhammad Al Saqqaf dalam komentar beliau untuk kitab Rihlatul Asywaaq Al Qawiyyah karangan Ba Kathir, di sebutkan didalamnya terjadinya bentrok senjata diantara mereka, kemudian dikatakan : sebuah pertempuran terjadi di Buhran ketika Al Muhajir  masih tinggal di Al Hajrain ketika itu kekuasaan Abadliyah runtuh, setelah itu Al Muhajir pindah dari Al Hajrain menuju kampung Bani Jusyair, lantas Al Syatiri mengatakan: akan tetapi saya telephon Al Saqqaf dan memintanya untuk menyebutkan referensi pendapatnya, namun dia tidak menjawab. Sebagian orang menisbatkan pendapat ini kepada Al Marhum Ahmad bin Hasan Al Attas, dan belum diketahui referensi aslinya, Muhammad bin Aqil bin Yahya  mengatakan di komentarnya atas kitab Diwan Ibn Syihab , bahwa Al Muhajir dan anak cucunya nya sampai abad ke 6 H memerangi kaum Abadhiyah kemudian mereka melepaskan senjata, tapi belum diketahui referensinya, boleh jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa Bani Alawiyin selalu menggunakan senjata untuk perang dan grilya, tapi pendapat semacam ini tidak bisa langsung diterima tanpa ada bukti tertulis, karena bersenjata barang kali itu hanya tradisi atau untuk membela diri semata.(Al Adwar 150;1)
[13]  Bahran adalah padang  pasir terletak diantara Al Hajrain dan desa Sadbah, peduduknya dari Kabilah Kindah.
[14] Sebagian orang menganggap kata kata (ingin membuktikan) adalah peraguan atas nasab Al Muhajir, tapi betapapun kata yang di gunakan penulis hal itu tidak mengandung penafian ataupun pembuktian, sebagaimana yang dilontarkan sebagian orang.