كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surah Ali `Imran: 110)
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

6 Juni 2014

Maulid Nabi Muhammad Saw; Sebuah Cinta








Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.

Maulid Nabi Muhammad : Sebuah CintaDemikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal. Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki Alhasani. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut
Allohumma sholly wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam
wallohu A’lam
 
 

SHALAT SEPERTI NABI



imageAjaran agama Islam yang paling penting untuk dipelajari dan diajarkan kepada orang lain adalah shalat. Hal ini antara lain pernah ditegaskan oleh junjungan kita nabi Muhammad saw,dalam sebuah hadis sahih dan kuat, “Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudhu dan salat.” Di sisi lain Nabi pun pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku.”
Dalam upaya mengikuti tuntunan Rasulullah saw. itu, berbagai kitab dan ajaran bermunculan. Kemunculan berbagai pendapat yang beragam mengenai sifat shalat Nabi ini telah banyak menimbulkan kebingungan di kalangan umat, bahkan percekcokan dan perpecahan. Perbedaan itu muncul sebenarnya hanya karena perbedaan pemilihan hadis dan riwayat.
Buku ini berusaha menjelaskan sifat shalat junjungan kita, Muhammad Rasulullah saw. seoptimal mungkin, menjelaskan sebagian shalat, dari takbir hingga salam. Penjelasan tersebut dibuat secara rinci dan jelas dengan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami. Setiap masalah dikupas dengan dalil yang lengkap, dengan menggunakan hadis-hadis yang lemah, yang sering dipergunakan oleh sebagian orang untuk menguatkan pendapatnya. Di samping itu,ia juga menjelaskan kandungan fiqhiyah dari hadis-hadis sahih sebagai suatu kesimpulan hukum darinya.
Semua pertanyaan atau hukum dijelaskan sejelas-jelasnya. Untuk menguatkan penjelasan tersebut, dikutip perkataan dan pendapat para ulama,baik mereka sebagai penghafal Alquran dan hadis maupun sebagai pakar hadis yang terkenal kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, dan yang termasyhur dalam hal ketelitiannya mengenali cacat-cacat hadis;mereka yang terbukti dapat membedakan hadis sahih dari hadis lemah.
Dengan semua cara itu,penulis mencari dalil yang paling kuat, sehingga-dengan rahmat Allah SWT-buku ini akan tampil sebagai buku yang paling istimewa di bidangnya. Buku ini melebihi buku-buku lain yang sejenisnya, bahkan menyingkap berbagai kesalahan dan kekeliruan kitab-kitab sebelumnya.



Aqidah Keluarga Nabi (Karya Alhabib Zein bin Sumaith


(Terjemah Kitab Bahjah ath-Thalibin fi Muhimmat Ushuliddin Karya al-Habib Zein bin Sumaith)

imageBuku yang berisi penjelasan para ulama dari rumah tangga Ahlul Bait Nabi SAW yang diberkahi ini, mengumpulkan berbagai penjelasan pada sejumlah tema penting ushuluddin (pokok-pokok agama). Penjelasan mereka mutlak dibutuhkan demi memurnikan dan memperkokoh aqidah umat, khususnya dalam menyikapi perkembangan zaman di era sekarang. Maklum sudah, di zaman sekarang ini begitu banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersikap berlebihan, penjiplakan para pendusta, dan takwil orang-orang yang tidak berpengetahuan, dari kalangan para ulama su’ dan musuh-musuh agama.
Aqidah adalah masalah yang sangat prinsip dalam ajaran agama ini. Karenanya, kita wajib mengajarkan pada anak-anak kita dengan benar dan teliti. Beragam aliran kini tumbuh subur dengan segala macam klaim kebenaran yang mereka usung. Di antaranya, dua kelompok yang amat bersemangat “berdakwah” di tengah masyarakat kita.
Pertama, kelompok yang senang berhalusinasi bahwa merekalah pengikut sahabat Nabi SAW dan salafushshalih, adapun orang yang tak sepaham, mereka anggap salah, sesat, bahkan kafir.
Kedua, orang-orang yang mengatasnamakan pencinta
keluarga Nabi Muhammad SAW, sementara mereka memusuhi, mencaci, bahkan melaknat para sahabat Nabi SAW.
Buku ini akan mengungkap kenyataan bahwa kaum Sadah Ba ‘Alawi -yang tak terbantahkan keotentikan nisbah mereka kepada Nabi, baik dari sisi nasab keturunan maupun sanad keilmuan- merekalah keluarga Nabi dan merekalah pencinta sahabat. Jalan yang mereka tempuh adalah dengan mengedepankan ilmu dan adab yang mulia dalam menyikapi setiap masalah yang diperselisihkan. Sesungguhnya, usaha musuh-musuh Islam untuk membenturkan para pengikut sahabat Nabi SAW dan pengikut ahlul bait Nabi SAW akan sia-sia jika umat ini mengambil ilmu dari sumber yang benar, ajaran yang jauh dari kebencian dan permusuhan sesama umat, yang akhirnya bermuara pada telaga Nabi yang suci.
Semoga karya Al-’Allamah Al-Faqih Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith ini dapat kita pahami dan resapi dengan baik, hingga kita terjaga dari segala penyimpangan terhadap syari’at agama ini.



KISAH KISAH PENUNTUT ILMU




Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati. Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi

Habaib“Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu” demikian ungkapan penting yang dituturkan Ibnu al-Mubarak. Ungkapan itu sama sekali bukan ungkapan yang mengecilkan peran ilmu. Karena, ilmu memang penting, bahkan sangat penting. Sejak kecil kita telah dipesankan ihwal pentingnya ilmu dan kewajiban menuntutnya. Tentu kita sangat mengenal sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.
Tetapi Islam tak hanya menekankan pentingnya ilmu. Akhlaq yang mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi. Sabda Nabi saw yang sangat terkenal menegaskan hal itu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Perhatikanlah, tujuan Nabi Saw diutus pun, sebagaimana yang beliau ungkapkan sendiri, adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Tentu dalam  pengertian yang luas dan menyeluruh yang dimulai dengan akhlaq terhadap Allah swt.
Dari hadits tersebut kita dapat memahami betapa Islam sangat mementingkan akhlaq. Dalam pelaksanaannya, akhlaq yang bersifat global itu terwujud dalam adab adab yang khusus, mulai dari adab terhadap Allah, adab terhadap Nabi, adab terhadap orang tua, adab terhadap anak, adab terhadap guru, murid, adab terhadap keluarga, tetangga, terhadap tamu, dan sebagainya. Juga adab dalam melakukan berbagai perbuatan, baik ibadah ibadah maupun yang lainnya.
Demikian pentingnya perkara adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”
Karena itulah, seorang ulama berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh , engkau mempelajari satu bab adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”
Apa yang dituturkan Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”
Apa yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak diatas tidak berarti ilmu tidak penting, karena jika demikian berarti bertentangan dengan ajaran agama. Kalimat “Kita lebih perlu kepada sedikit adab daripada kepada banyak ilmu” artinya bagi orang yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih ia perukan daripada ilmunya yang banyak yang tak disertai adab. Jadi, bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.
Suatu ketika Imam Syafi’i menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmumu bagus dan adabmu halus”.
Ya, jika kita ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, ilmu dan adab memang sama sama harus dimiliki, tak boleh dipilih salah satu saja. Wajarlah jika kemudian ada ulama yang mengatakan, “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang  dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.” Demikian dikutip dari kitab al-Ihya’.
Literatut literatur kita sangat kaya dengan kisah kisah adab para salaf dalam menuntut ilmu dan sangat banyak butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik darinya. Uraian berikut akan memaparkan sebagian diantaranya, yang fokusnya pada adap terhadap ilmu dan terhadap guru, yang sebagian besar bahannya dikutip dari kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.
Dihikayatkan bahwa suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka, bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki kebaikan. Maka ia pun menunggunya di sebuah masjid.
Orang yang ditunggu itu pun keluar, kemudian meludah di masjid, yakni di dindingnya sebelah luar.
Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”
Sebelum memperhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Mengenai hal ini, al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam mukadimah kitab Syarh al-Muhadzdzab, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.”
Masalah hati memang sangat ditekankan dalam islam, karena ia menjadi kunci terpenting dari segala sesuatu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat hadits Rasulullah saw yang menyebutkan, “Sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging yang, apabila baik, baik pula seluruh tubuh, dan, apabila rusak, rusak juga seluruh tubuh. Ketahuilah itulah hati.”
Para ulama mengatakan, membersihkan hati untuk ilmu seperti membersihkan tanah untuk ditanami. Al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad membuat perumpamaan yang sangat tepat tentang hal itu. “Seandainya engkau datang membawa bejana yang kotor kepada seseorang yang engkau ingin mendapatkan minyak atau madu atau semacamnya dari orang itu, ia akan berkata kepadamu, “Pergilah, cucilah dulu”. Ini dalam urusan dunia, lalu  bagaimana rahasia rahasia ilmu akan ditempatkan dalam hati yang kotor?”
Diriwayatkan ketika Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa  kepadanya dengan hafalan yang membuatnya kagum dan kemudian Imam Syafi’i menyertainya terus, Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya engkau akan memiliki sesuatu yang sangat penting.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Malik berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah menempatkan cahaya didalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan ia dengan perbuatan perbuatan maksiat.”
Imam Syafi’i, yang telah membuat kagum para gurunya, termasuk Imam Malik, pernah mengadukan perihal dirinya yang belum memuaskannya, “Aku mengadukan kepada Waki’ (nama salah seorang gurunya) buruknya hafalanku. Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat.”
Sahl bin Abdullah, tokoh ulama lain, menambahkan, “Sulit bagi hati untuk dimasuki oleh cahaya jika didalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah”.
Seorang penuntut ilmu juga mesti memiliki niat yang baik dalam  menuntut ilmu, karena niat itu merupakan pokok dalam semua perbuatan, berdasarkan sabda Nabi Saw, “Hanyasanya semua perbuatan itu tergantung niatnya,” Karena itu ia mesti bertujuan untuk mendapatkan keridhoan Allah, mengamalkan nya, menghidupkan syari’at, dekat dengan Allah, menghilangkan kejahilah dari dirinya dan dari semua orang yang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan ajaran Islam dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap dirinya dan orang lain semampu mungkin.
Tawadhu’ dan Mengabdi kepada Ulama
Semestinya seorang penuntut ilmu tidak menghinakan dirinya dengan perbuatan tamak dan menjaga diri dari perbuatan takabur. Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak akan berbahagia seseorang yang mempelajari ilmu dengan kekuasaan dan tinggi hati, melainkan yang mempelajarinya dengan rendah hati, kehidupan yang sulit, dan mengabdi kepada ulama, dialah yang akan bahagia.”
Meraih ilmu memang sering kali tidak mudah, bahkan terkadang bisa membuat orang yang mengejarnya merasa rendah di hadapan orang yang ingin diambil ilmunya. Didalam suatu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan, “Aku hina ketika menuntut ilmu lalu mulia ketika menjadi orang yang dituntut ilmunya.”
Ibnu Abbas sering pergi ke rumah Ubay bin Ka’ab. Terkadang ia mendapati pintu rumah Ubay terbuka sehingga ia segera diizinkan masuk, dan terkadang pintunya tertutup sedangkan ia malu untuk mengetuknya. Maka ia berdiam saja sampai siang, tetap duduk di depan pintu rumah. Angin menerbangkan debu kearahnya sampai akhirnya ia menjadi tidak dapat dikenali karena banyaknya debu yang menempel ditubuhnya dan pakaiannya.
Lalu Ubay keluar dan melihatnya dalam keadaan demikian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak. “Mengapa engkau tidak meminta izin?” tanyanya. Ibnu Abbas beralasan malu kepadanya.
Pernah terjadi juga, disuatu hari Ubay ingin menunggu kendaraan, maka Ibnu Abbas mengambil hewan kendaraanya sehingga Ubay menaikinya kemudian ia berjalan bersamanya. Maka berkatalah Ubay kepadanya, “Apa ini, wahai Ibnu Abbas?”
Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama kami”
Ubay menaiki kendaraan sedangkan Ibnu Abbas berjalan dibelakang kendaraan Ubay. Ketika turun, Ubay mencium tangan Ibnu Abbas. Maka berkatalah Ibnu Abbas kepaanya, “Apa ini?”
Ubay menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati ahlul bayt nabi kami.” Demikian disebutkan oleh al-Habib Al-Allamah Abdullah bin al-Hussain Bilfaqih sebagaimana tersebut dalam kitab Iqd Al-Yawaqit.
Pentingnya mengabdi kepada ulama dan taat kepada mereka juga dituturkan oleh Sufyan bin Uyaynah. Ia mengatakan, “Aku telah membaca al-Quran ketika berusia empat tahun dan menulis hadits ketika berusia tujuh tahun. Ketika usiaku sampai 15 tahun, ayahku berkata kepadaku, ‘Anakku, syari’at bagi anak anak telah terputus darimu. Maka bercampurlah dengan kebaikan. Niscaya engkau akan menjadi ahlinya. Ketahuilah, seseorang tidak akan berbahagia dengan ulama kecuali orang yang menaati mereka. Karena itu, taatilah mereka, niscaya engkau akan bahagia. Dan mengabdilah kepada mereka, niscaya engkau akan mendapatkan ilmu mereka’.
Maka aku mengikuti wasiat ayahku dan tidak pernah berpaling darinya.” Demikian dikutip oleh an-Nawawi dalam Tahdzib-nya.
Meskipun seorang murid harus taat, mengabdi, dan melayani gurunya, seorang guru pun akan mendapatkan kemuliaan bila melayani muridnya. Artinya, membantu segala sesuatu yang dapat memperlancar dan memudahkan murid belajar kepadanya. Mengenai ini, ada sebuah ucapan penting dari al-Imam Ja’far ash-Shadiq, “Ada empat hal yang tidak semestinya seorang yang mulia memandannya rendah: bangun dari majelisnya untuk menyambut ayahnya, melayani tamunya, mengurusi kendaraannya, dan melayani orang yang belajar kepadanya.”
Ada sebuah perkataan penting dari Mujahid yang perlu kita simak. “Tidak akan dapat mempelajari ilmu, orang yang pemalu, dan tidak juga orang yang sombong.”
Ungkapan itu dijelaskan oleh Habib Zein bin Smith: Seorang yang pemalu tidak dapat mempelajarinya karena ia tercegah oleh rasa malunya untuk mempelajari agama dan menanyakan apa yang tidak diketahuinya, sedangkan orang yang sombong tercegah oleh sikap takaburnya dari mengambil manfaat dan belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya. Tidaklah seseorang menjadi alim sampai ia mengambil ilmu dari orang yang berada diatasnya, dari orang yang sama dengannya, dan dari orang yang berada dibawahnya.
Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi mengatakan, “Semestinya penuntut ilmu mengambil manfaat yang bersifat ilmiyah dan adab yang baik dari mana saja ia dapatkan,baik dari orang dekat, orang jauh, orang yang tinggi kedudukannya, atau orang yang rendah kedudukannya, orang yang suka menampakkan diri ataupun orang yang suka menyembunyikan diri, dan tidak terbelenggu oleh kebodohan dan kebiasaan, serta tidak mencegah dirinya untuk mengambil ilmu dari orang yang tidak terkenal. Karena, jika mencegahnya, ia termasuk orang yang jahil dan lalai dari apa yang tersebut dalam hadits, “Hikmah itu adalah barang hilang kepunyaan setiap mukmin, dimana saja ia dapatkan, hendaklah ia ambil.”
Ia juga lalai dari apa yang dikatakan sebagian ahli hikmah, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”
Secara tegas, Abu al-Bakhtari mengatakan, “Bahwa aku berada disuatu kaum yang lebih alim daripada aku lebih aku sukai daripada aku berada di suatu kaum yang aku paling alim diantara mereka. Karena, jika aku orang yang paling alim diantara mereka, aku tidak dapat mengambil manfaat; sebaliknya jika aku berada bersama orang orang yang lebih alim dariku, niscaya aku dapat mengambil manfaat,” Demikian dikutip oleh Al-Yafi’i dalam Mir’at al-Jinan.
Mengejar ilmu, dan merasa diri belum bisa atau kurang menguasai, menjadi syarat penting untuk meraih ilmu, sebagaimana dikatakan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “Tidak dibukakan bagi seseorang mengenai suatu ilmu sampai ia mencarinya dan meyakini bahwa ia belum memilikinya.”
Sedikit Makan dan Tidur
Menahan diri dari banyak bersenang senang, terutama makan dan tidur, juga menjadi syarat penting seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan ilmu. Bagaimana mungkin seorang yang hidupnya selalu bersantai santai, rakus terhadap berbagai makanan, dan suka tidur, akan bisa mendapatkan ilmu yang banyak? Itulah sebabnya Sahnun mengatakan, “Ilmu itu tidak patut dimiliki orang yang biasa makan sampai kenyang.”
Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya terabadikan dalam Al-Quran, menyampaikan hikmah penting kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah penuh, niscaya pikiran akan tidur, hikmah akan tuli, dan anggota anggota badan akan lumpuh dari ibadah.”
Itulah sebabnya, sejak dulu para ulama terkemuka disaat saat  berburu ilmu senantiasa menjaga dirinya dari banyak makan. Diantaranya, sebagaimana yang dikemukakan Imam Syafi’i, “Aku tidak pernah kenyang sejak berusia 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan dari ibadah.” Demikian dikutip dari kitab Hilyah al-Auliya.
Berkaitan dengan itu, penting kita perhatikan pesan Sayyidina Umar bin Khotthob berikut ini, “Jauhilah oleh kalian sifat rakus dalam makanan dan minuman, karena itu membawa kerusakan bagi tubuh, menyebabkan kegagalan, dan membuat malas dari melakukan sholat. Hendaklah kalian sederhana di dalam keduanya (makanan dan minuman), karena itu yang lebih baik bagi tubuh dan lebih menjauhkan dari pemborosan. Dan sesungguhnya Allah benci kepada seorang alim yang gemuk.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ath-Thib an-Nabawi yang dikutip dalam kitab Kasyf al-Khafa.”
Adab terhadap Guru
Di dalam sebuah riwayat terdapat ungkapan berikut, “Pelajarilah ilmu dan pelajarilah untuk kepentingan ilmu itu, ketenangan dan kewibawaan, dan bertawadhu’lah kepada orang yang engkau belajar darinya.” Imam An-Nawawi mengatakan, “Semestinya seorang murid itu bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan beradab terhadapnya sekalipun ia (gurunya) lebih muda usianya, lebih sedikit terkenalnya, lebih rendah nasabnya, dan lebih sedikit kebaikannya. Dengan sikap tawadhu’nya ia akan memahami ilmu.”
Pengertian tersebut juga tergambar dalam sebuah syair, yang artinya:
Ilmu itu memusuhi
pemuda yang tinggi hati
Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi
Seberapa banyak ilmu yang akan didapat seseorang dari gurunya diantaranya tergantung sejauh mana adabnya  terhadap sang guru. Tokoh ulama Hadhramaut, Imam Ali bin Hasan Al-Attas, mengatakan, “Sesungguhnya yang diperoleh dari ilmu, pemahaman, dan cahaya, yakni terungkapnya hijab, adalah menurut ukuran adab terhadap guru. Sebagaimana ukurannya yang ada pada dirimu, demikian pula ukuran itu disisi Allah tanpa diragukan lagi.”
Ia juga mencontohkan bagaimana dimasa lalu anak anak, meskipun anak  khalifah atau raja, dididik untuk menghormati dan melayani gurunya. “Al-Amin dan Al-Ma’mun, dua orang putra Harun Ar-Rasyid, saling berlomba untuk meraih sandal guru mereka, Al-Kisa’i, agar dapat memakaikan sandal itu kepada gurunya.
Maka berkatalah guru mereka kepada mereka pada saat itu, ‘Masing masing memegang satu’.
Ya, guru memang harus dilayani dan dihormati, karena ia bagaikan orangtua kita. Di dalam hadits dikatakan, “Ayahmu itu ada tiga: Ayah yang melahirkanmu (melalui ibumu), ayah yang menikahkanmu dengan putrinya (mertua), dan ayah yang mengajarimu, dan dialah yang paling utama.” Demikian keterangan dari kitab al-‘Athiyyah al-Haniyyah.
 Mengenai hal itu, ada orang yang mengatakan, “Aku dahulukan guruku dibandingkan bakti kepada ayahku. Sekalipun aku mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari ayahku. Yang ini adalah pendidik jiwaku, dan jiwa itu adalah permata. Dan yang itu pendidik tubuhku dan ia bagaikan kerang baginya”.
Al-Imam Sya’rani mengatakan, “Telah sampai kepada kami ucapan dari Syaikh Bahauddin as-Subki, ‘Ketika aku sedang menaiki kendaraan bersama ayahku, yakni Syaikhul Islam Taqiyyuddin as-Subki, di suatu jalan di negeri Syam, tiba tiba ia mendengar seseorang dari kaum petani Syam mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Al-Faqih Muhyiddin An-Nawawi tentang masalah ini dan itu.
Maka turunlah ayahku dari kudanya dan mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan mengendarai tunggangan sedangkan mata melihat Muhyiddin berjalan!
Kemudian ia memintanya untuk mengendarai kuda, sedangkan beliau sendiri berjalan sampai memasuki negeri Syam’.”
Kemudian Asy-Sya’rani mengatakan, “Begitulah, wahai saudaraku, para ulama berlaku terhadap guru guru mereka meskipun ia tidak menjumpainya karena datang beberapa tahun setelah kematiannya.”
Betapa besarnya penghormatan dan kecintaan para tokoh ulama dahulu terhadap para gurunya dapat kita simak dari ucapan Abu Hanifah berikut ini, “Sejak Hammad (yakni gurunya) wafat, aku tidak pernah melakukan sholat melainkan aku mintakan ampunan untuk nya beserta kedua orang tuaku, dan sesungguhnya aku selalu memohonkan ampunan untuk orang yang aku belajar darinya suatu ilmu atau orang yang aku ajari ilmu,”
Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, juga sangat mencintai gurunya itu, “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.” Demikian disebutkan dalam kitab Tahdzib al-Asma’, karya Imam Nawawi.
Apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i berikut ini mungkin akan membuat kita tercengang, “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Bahkan Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan,  “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.”
Banyak lagi kisah yang mungkin akan membuat kita terheran heran dengan penghormatan mereka kepada para gurunya. Al-Imam Asy-Sya’rani mengatakan, “Telah sampai keterangan kepada kami mengenai Imam An-Nawawi bahwa suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya.
Maka ia mengatakan, “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i. Dan ia pun meninggalkannya.
Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya, ‘Uzur apa itu?’
Ia menjawab, ‘Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya.’
Apabila ia keluar untuk belajar dengan membaca kitab kepada gurunya, ia lebih dahulu bersedekah di jalan yang ia lakukan dengan niat untuk gurunya dan mengucapkan doa, “Ya Allah, tutupilah dariku aib guruku agar mataku tidak melihat kekurangannya dan agar tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepadaku.” Perhatikanlah, sebegitu jauhnya perhatian dan kecintaan mereka kepada guru.
Diriwayatkan, Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Diantara hak gurumu terhadapmu adalah engkau mengucapkan salam kepada orang secara umum dan mengucapkannya secara khusus kepadanya, engkau duduk didepannya, jangan menunjuk dengan tanganmu disisinya, dan jangan memberi isyarat dengan matamu, jangan pula engkau mengatakan, ‘Fulan mengatakan yang berbeda dengan yang Tuan katakan’, jangan mengghibah seseorang di hadapannya, jangan bermusyawarah dengan temanmu di majelisnya, jangan memegang bajunya apabila ia bangun, jangan mendesaknya apabila ia tampak sedang malas, dan jangan pula berpaling darinya.” Demikian disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya, At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an.
Abu bakar bin Ayyasy mengatakan, “Ketika saudara Sufyan ats-Tsauri wafat, orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah, lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya.
Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan, ‘Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.’
Sufyan menjawab, ‘Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu. Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.”
Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan mengatakan, “Yang membuat orang orang tidak mendapatkan ilmu hanyalah karena sedikinya penghormatan mereka terhadap orang orang yang berilmu,”
Dua belas Syarat
Syaikh Zakariya dalam kitabnya, al-Lu’lu’ an-Nazhim fi Rawum at-Ta’allum wa at-Ta’lim, mengatakan, “Syarat syarat mempelajari ilmu dan mengajarkannya ada dua belas (12) :
Pertama, mempelajarinya dengan maksud sebagaimana ilmu itu dibuat.
Kedua, mencari ilmu yang dapat diterima oleh tabi’atnya, karena tidak setiap orang layak untuk mempelajari berbagai ilmu, dan tidak semua yang layak mempelajarinya, layak untuk semuanya, melainkan setiap orang hanya dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan (ditakdirkan) untuk itu.
Ketiga, mengetahui tujuan ilmu itu agar yakin dengan perkaranya.
Keempat, menguasai ilmu itu dari awal sampai akhir.
Kelima, mencari kitab kitab yang baik yang mencakup semua disiplin.
Keenam, membaca kepada seorang guru yang dapat memberikan bimbingan dan seorang terpercaya yang dapat memberikan nasihat, dan tidak berkeras kepala dengan dirinya dan kecerdasannya.
Ketujuh, bermuzakarah dengan teman temannya untuk mencari pertahqiqan, bukan untuk mencari kemenangan, melainkan untuk menolong memberikan manfaat dan mengambil manfaat.
Kedelapan, apabila telah mengetahui ilmu itu, jangan menyia nyiakannya dengan mengabaikannya, dan jangan pula mencegahnya dari orang yang patut mendapatkannya, berdasarkan hadits, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu yang bermanfaat lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah pada hari Kiyamat memasangkan kendali pada dirinya denga kendali dari neraka.” Tapi jangan pula memberikannya kepada orang yang tak layak menerimanya, sebagaimana yang terdapat dalam perkataan para nabi, “Janganlah kalian ikatkan permata pada leher babi.” Artinya, janganlah kalian berikan ilmu kepada orang yang tak layak menerimanya. Dan hendaknya mencatat apa yang dapat disimpulkan.
Kesembilan, jangan meyakini dalam suatu ilmu bahwa telah mendapatkan darinya dalam ukuran yang tidak dapat bertambah lagi, karena itu suatu kekurangan.
Kesepuluh, mengetahui bahwa setiap ilmu itu ada batasnya, maka janganlah melampauinya dan jangan pula kurang darinya.
Kesebelas, janganlah memasukkan suatu ilmu pada ilmu yang lain, baik dalam belajar maupun dalam diskusi, karena hal itu dapat membingungkan pemikiran.
Kedua belas, setiap murid dan guru hendaknya memperhatikan hak yang lainnya, terutama pihak pertama (murid), karena gurunya bagaikan ayahnya bahkan lebih agung, karena ayahnya telah mengeluarkan dia ke negeri fana (dunia) sedangkan gurunya menunjukkannya ke negeri yang kekal. Demikian dikutip dari kitab Mathlab al-Iqazh fi Ghurar al-Alfazh, karya al-Allamah ‘Abdullah bin Husain Bilfaqih.
Yang Wajib dan Tak Wajib
Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan,  ‘Penuntut ilmu butuh tiga perkara: Usia yang panjang, harta dan kecerdasan.’” Hal itu juga ia katakan dalam sebuah syair:
saudaraku…
kau tak akan mendapat ilmu
kecuali dengan enam perkara
Aku akan memberitahukan engkau
dengan penjelasan yang terperinci
Kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya
juga petunjuk guru dan masa yang lama
Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Bagi orang yang ingin mendapatkan manfaat dengan ilmu untuk dirinya saja tanpa memperhatikan apakah ilmu itu bermanfaat untuk orang lain atau tidak, hendaklah ia mengutamakan ilmu yang lebih berpengaruh terhadap hatinya dan lebih dapat melembutkannya. Dan hendaklah ia mengikatnya dengan menulis, mengulang ulangi dan semacamnya, yang dapat membuatnya bertambah kukuh. Karena, hal itu lebih bermanfaat bagi dirinya dibandingkan banyak ilmu yang tidak membuatnya mendapatkan pengaruh, kelembutan, dan kekhusyu’an. Demikian pula dalam semua perbuatan, keadaan, dan sebagainya, hendaklah seseorang mencari yang paling layak untuknya meskipun tidak layak dan tidak sesuai bagi orang lain. Ini bagi orang yang menginginkan mendapatkan manfaat untuk dirinya saja.
Adapun orang yang menginginkan dapat memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmunya, hendaklah ia menjadi seperti seorang dokter yang memperhatikan penyakit, sebab sebabnya, materinya, dan memberikan kepada orang yang sakit itu obat yang sesuai dengan penyakitnya. Mungkin saja ada orang yang datang kepadanya yang memiliki penyakit yang sama, lalu ia memberikannya obat yang lain, tidak seperti obat yang diberikannya kepada orang yang sebelumnya (meskipun penyakitnya sama), karena ia tahu bahwa sebab yang menyebabkan penyakitnya berbeda dengan sebab yang menyebabkan penyakit orang lain.
Demikian pula dengan ilmu ilmu, ia berikan kepada setiap orang yang patut menerimanya dan tidak mengukur orang dengan ukuran yang sesuai bagi dirinya. Ini juga berlaku pada orang yang ingin membuat karangan dan semacamnya.” Demikian dikutip oleh Al-Imam Muhammad bin Zain bin Semith dalam kitab Qurrah al-‘Ain wa Jila’ ar-Rayn.
Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Hendaklah seseorang menguasai suatu disiplin ilmu sampai ia dinisbahkan dengan ilmu itu dan dikenal dengannya.”
Sayyidina Ali mengatakan, “Barang siapa banyak dalam sesuatu, ia akan dikenal dengannya.” Dan hendaklah ia mengambil sekadarnya dalam setiap ilmu yang lainnya dan menguasainya secara global, sehingga, apabila ditanya tentang sesuatu, ia memiliki pengetahuan tentang itu dan tidak jahil (bodoh).
Karena itu, Imam As-Suyuti mengarang kitab An-Nuqayah (kitab yang mengulas intisari empat belas ilmu) dan mensyarahkannya. Dan apabila menghafal (menguasai sesuatu ilmu), ia menguasai semua ilmu yang berhubungan dengannya.
“Jika engkau memiliki ilmu tersebut sekadarnya, dalam ilmu ilmu yang berkaitan dengannya juga cukup menguasai sekadarnya, dan lebih baik bagimu menguasai sepuluh masalah dengan sebaik baiknya daripada membaca sebuah kitab dengan sempurna tetapi tidak menguasainya.” Demikian yang dikatakan Imam Abdullah Al-Haddad.
Ia juga mengatakan, “Ilmu ushul itu ada dua. Pertama, ilmu ushuluddin, seperti masalah masalah aqidah. Seseorang harus mengabil ilmu ini sesuai dengan kebutuhannya, seperti aqidah yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Kedua, ilmu ushul fiqih. Ilmu ini sulit dan tidak mudah dipahami, ia tidak wajib bagi setiap orang. Maka semestinya seseorang mengambil dari kedua ilmu ushul tadi sesuai dengan kebutuhannya yang mendesak. Kemudian ia mengambil kitab kitab yang dapat melembutkan hatinya, menggemarkannya kepada akhirat, dan membuatnya zuhud di dunia.
Kemudian ia beibadah dan bersungguh sungguh dalam melakukannya, dan banyak membaca al-Quran dengan kesungguhan. Apabila tidak memungkinkannya melakukan itu di sebagian waktu, hendaklah banyak berzikir dan melazimkannya dalam setiap keadaannya, karena umur itu singkat dan orang yang menganggur menyia nyiakan sebagian besarnya. Dan hendaklah puncak perhatian dan muthala’ahnya adalah pada masalah masalah yang penting dari hal hal tersebut tadi. Jadi, ia melakukan muthala’ah hal hal yang penting dan menghafal hal hal yang penting. Jika ia ingin melakukan muthala’ah mengenai yang lain, ia dapat melakukan nya kadang kadang saja.” Demikian dikutip dari kitab Tatsbit al-Fuad.
Al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Hendaknya seorang penuntut jalan  akhirat senantiasa mencari cari manfaat dimanapun berada, baik kepada orang yang ahli maupun bukan ahli, mau mengambil dari setiap orang bagaimana pun ia, baik ia orang alim maupun orang awam. Karena, terkadang akhlaq yang bagus ia dapati pada sebagian orang awam dan tidak ia dapati pada yang lainnya dan juga tidak pada dirinya. Diantara keadaan seorang yang benar adalah mengambil dari teman bergaulnya segala yang baik yang ia lihat terdapat padanya baik, ucapan maupun perbuatan, dan meninggalkan apa yang buruk darinya. Apabila ia mengambil manfaat yang ia dapatkan padanya, janganlah ia mengambil kerusakan dan penyimpangan yang ada pada orang itu.” Demikian dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Ia juga mengatakan, “Pemahaman itu bagi yang memilikinya merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi mereka terkadang tidak merasakannya sebagai nikmat, karena mereka memandang hal itu bisa diperoleh dari membaca kitab, misalnya. Dan orang yang melakukan muthala’ah kitab kitab hendaknya memohon pertolongan kepada Allah agar memudahkan pemahaman baginya dan dapat membayangkannya sehingga ia dapat memperoleh apa yang dituntut dan Allah membukakan baginya pemahaman dalam agama.” Demikian keterangan dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas mengatakan, “Ada dua perkara yang baik untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu: Pertama, ia tidak masuk pada sesuatu dari ilmu ilmu dan amal amalnya melainkan dengan niat yang baik. Kedua, ia memperhatikan buah dari hasilnya. Apabila tidak memperhatikan ini, ia tidak mendapatkan manfaat.”
Ia juga mengatakan, “Apabila seorang penuntut ilmu membaca suatu kaidah dan ia ingin menghafalnya tetapi tidak ada padanya tinta dan tidak ada pula pena, hendaklah ia menulisnya dengan jarinya pada tangannya atau pada lengannya.”
Diriwayatkan, suatu ketika Imam Syafi’i sempai di Madinah dan duduk di halaqah Imam Malik. Ketika itu Imam Malik sedang mendiktekan kitab Al-Muwathta’ kepada orang orang yang ada disana. Imam Malik mendiktekan 18 hadits sedangkan Imam Syafi’i berada dibarisan belakang. Imam Malik menatapnya dengan pandangannya ketika Imam Syafi’i menulis dengan jarinya pada punggung tangannya.
Ketika jama’ah majelis telah bubar, Imam Malik memanggilnya dengan bertanya kepadanya tentang negerinya dan nasabnya.
Maka Imam Syafi’i pun memberitahukannya.
Lalu Imam Malik berkata kepadanya, “Aku melihatmu memain mainkan tanganmu di punggung telapak tanganmu.”
Imam Syafi’i menjawab, “Tidak, melainkan apabila Tuan mendiktekan sebuah hadits, saya menulisnya diatas punggung tangan saya. Jika tuan mau, saya akan ulangi apa yang tuan diktekan kepada kami.”
Imam Malik berkata, “Bacakanlah.”
Maka Imam Syafi’i pun mendiktekan 18 hadits yang semula didiktekan oleh imam Malik.
Melihat itu, Imam Malik pun mendekatkannya kepada dirinya.
***
Wallahu a’lam


Masuknya Islam di India dan Asia Tenggara



Peran Hadharim 
Masuknya Islam di India dan Asia Tenggara Dalam berhijrah ke suatu negeri, dakwah adalah sebuah motivasi bagi hadharim (etnis hadhramaut). Negara-negara yang mereka tuju antara lain Afrika Timur, Zanjibar, Pantai Gading, Madaghaskar, dan Asia mulai dari India hingga Indonesia.
Tidak semua hadharim yang berhijrah bertujuan mengais rejeki. Namun di antara kelompok ‘muhajirin’ itu juga mempunyai misi dakwah. Penganut tasawwuf banyak melakukan reformasi dalam bidang sosial kemasyarakatan dan sangat berpengaruh dalam merubah corak sosial negara yang baru di tempatinya. Sehingga masyarakat pribumi dengan senang hati memeluk agama Islam dan menyerap ajaran-ajaran Islam.
Mereka merintis suatu kulturisasi peradaban dan kebudayan pribumi dengan peradaban Islami. Namun dengan tetap mengkokohkan ajaran Islam. Ini mendalilkan, ajaran Islam selalu sesuai dengan segala aspek kehidupan, di manapuan dan kapan pun. Hadharim mempunyai tempat yang spesial di mata pribumi. Banyak dari pribumi yang kemudian mengawinkan putri-putrinya dengan hadharim. Sebagian ada yang diangkat sebagai pemuka masyarakat.
Hadharim telah terbukti partisipasinya dalam mengagungan Islam. Mereka juga mampu memberikan jawaban dan tantangan. Hal itu bisa dilihat tatkala Andalus sebagai pusat peradaban Islam justru sedang mengalami kekalahan, hadharim sanggup menyebarkan Islam di beberapa penjuru dunia dalam masa yang relatif singkat.
Kenyataan ini terukir dalam sejarah. Saat pertama kali bangsa Eropa (Inggris, Spanyol dan Portugal) mengirimkan pasukan perang salib dan melebarkan sayap imperialisme ke segala penjuru dunia Islam, dan daerah–daerah yang sulit dijangkau pemerintahan Usmani (Ottoman), hadharim bahu-membahu dengan pribumi melakukan perjuangan perlawanan terhadap imperialisme barat. Meski dengan fasilitas apa adanya. Bantuan pada pribumi bukan saja dalam sektor ekonomi dan budaya, tapi juga di bidang politik militer dan siasat perang.
Penganut tasawwuf yang menghindar dari perpolitikan di Hadramaut, yang merupakan hasil dari pertumpahan darah antar kabilah yang tak berujung, melibatkan diri dalam perpolitikan negeri singgahannya. Sekaligus, menyebarkan Islam juga.
Dalam sejarah Afrika, Hadharim ikut serta dalam perjuangan rakyat melawan penjajah Eropa. Sebelumnya telah terjadi hubungan baik dalam bidang dagang antara Yaman dan Afrika sejak pra Islam. Lalu hubungan ini bertambah baik pasca kedatangan Islam. Bahkan seorang hadhrami pernah menjadi Amir (pemimpin) di sebagian pemerintahan daerah sepanjang pantai Afrika Timur, dari Somalia sampai ke Mozambik. Ini terjadi sebelum datangnya Imperialis Barat ke Afrika. Begitu pula keterlibatan mereka dalam perang melawan kolonial Potugal.
Dalam pemerintaha Omman, mereka juga mempunyai pengaruh yang kongkrit. Hadharim mempunyai pengaruh besar di Madagascar. Bani Alawy berhasil memimipin tampuk pemerintahan di Juzurul Qomar (Comoro).
Kronologi Masuknya Islam ke India dan Asia Tenggara
Mayoritas sejarawan menguatkan pendapat, masuknya Islam ke India dan Asia Tenggara sudah dimulai sejak kurun pertama Hijriyah. Hanya saja, penyebaran Islam tidak bisa langsung seperti menggebyah uyah ke berbagai daerah dalam satu waktu, Namun Islam masuk dalam berbagai tempat yang berbeda dan dalam waktu yang tidak bersamaan.
Tepatnya pada kurun keenam Hijriyah, Islam meluas ke daerah-daerah secara kontinyu hingga kurun kesebelas melalui imigran dari Hadhramaut.
Yaman juga terkenal mempunyai hubungan dagang yang baik  dengan India dan Asia Tenggara semenjak pra Islam. Hubungan itu terus berkembang sampai kehadiran Islam. Hubungan ini tidak sebatas pada bidang dagang, tetapi juga mencakup bidang-bidang kehidupan lain. Para ahli sejarah hampir sepakat tentang masuknya Islam ke India dan Asia Tenggara melalui perantara Hadharim. Di samping juga melalui orang India, Persi, ataupun Indonesia.
Hadharim dikenal dengan sifat-sifat terpuji yang menyebabkan penduduk setempat tertarik dan simpati. Pengaruh positif yang dirasakan itu juga merembet ke medan perpolitikan regional. Mereka datang bukan untuk berperang dan menjajah. Bahkan, para pribumi menganggap mereka sebagai simbol bangsa yang mampu membumikan kemaslahatan dan keinginan pribumi di daerah tersebut.
Faktor-faktor yang memotifasi mereka untuk terjun dalam aktivitas politik pribumi antara lain untuk menyebarkan Islam, perjuangan melawan penjajah, dan motivasi-motivasi lain.
Penyebaran Islam dan Walisongo
Seperti telah disinggung, tidak semua hadharim yang hijrah hanya untuk mencari rejeki. Namun banyak sekali kalangan dai dan ulama yang juga hijrah untuk menyebarkan Islam. Mereka hijrah menuju India, dan disambut baik oleh raja-raja India Muslim. Hal itu dilakukan sebab mereka membutuhkan kehadiran ulama yang dapat dijadikan panutan dalam rangka menopang pemerintahanya dalam menghadapi rakyat yang beragama Hindu. Juga untuk menyebarkan Islam di beberapa wilayah, terutama pada kelompok Mabila.
Para dai tersebut mempunyai posisi penting di mata raja-raja India Muslim. Di antaranya, al-‘Alamah as-Sufi as- Syekh Muhammad bin Umar Bahroq (W 1524 M). Ia disambut oleh Raja Sulthan Mudhaffar bin Mahmud Bahbikroh, yang kemudian berdomisili di Gujarat dalam kurun waktu yang cukup lama. Ia mempunyai kedudukan terhormat dalam kerajaan dan masyarakat, sebagai tumpuan dalam menghadapi pengaruh orang-orang Hindu dan para Brahmana. Karena itu, para musuh berfikir keras untuk melenyapkan dan melakukan tipu muslihatnya dengan cara meracuni hingga ia meninggal dunia.
Demikian juga as-Sayyid Abdullah al-Idrus (W 1632 M) yang hidup pada masa kerajaan Bayjayyur. Pengaruhnya sangat kuat, khususnya pada pribadi Sultan Ibrahim Adil Syah. Otomatis, aliran kebijakan kerajaan yang asalnya Syiah, berubah menjadi Sunni. Selain itu, baju resmi kebesaran kerajaan berganti dengan model Arab, sebagai ganti baju model Persi.
Keluarga yang mempunyai pengaruh paling besar di India dan Asia Tenggara adalah keluarga Abdul Malik bin Alawi (Ammul fagih) bin Muhammad (Shahib Mirbath). Mereka datang dari Hadhramaut ke India pada akhir abad ke-6 Hijriyah. Keturunan Abdul Malik telah mempunyai hubungan baik dengan kerajaan India, para pembesar dan para ulama di sana. Tak heran bila keluarga ini bisa menyebar di segala penjuru India. Keluarga besar ini punya nilai penting bagi masyarakat Muslim India. Keluarga Abdul Malik Juga mendapat julukan Ali Adzamat Khan.
Salah satu cucu Abdul Malik merupakan salah satu dari Wali Songo yang masyhur di Asia Tenggara. Yaitu Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik. Ia mempunyai pengaruh besar pada kerajaan India. Terbukti dengan jabatannya sebagai salah satu menteri di India dalam waktu yang cukup lama. Itu berlangsung sebelum terjadi gejolak politik di India yang menyebabkan putra-putranya mengungsi ke China, Siam (Thailand) dan Kamboja.
Di Kamboja, Jamaludin al-Husein bin Ahmad kawin dengan salah satu puteri Raja Kamboja yang telah masuk Islam bersama ayahnya. Dari perkawinannya lahir Ibrahim al-Ghazi. Dialah yang menjadi panglima perang sekaligus ilmuwan yang memperluas kekuasaanya sampai ke China, Malasyia, dan Sumatra. Ia lalu menikah dengan salah satu putri Raja China, dan mempunyai putra bernama Rahmatullah dan Ishaq. Ishaq inilah yang dikenal di Jawa dengan sebutan Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri) yang mempunyai kedudukan tinggi di pemerintahan Raja Minak Jinggo, salah satu raja Banyuwangi Jawa Timur.
Maulana Ishaq mengawini salah satu puteri Raja Minak Jinggo yang masuk Islam dan berhasil menyembuhkan penyakit kanker sang puteri. Dari pernikahan ini lahir seorang putra yang diberi nama Ainul Yaqin, seorang dai yang tidak asing lagi. Ia juga dikenal sebagai pejuang dan mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.
Sedangkan Rahmatullah atau Raden Rahmat yang lebih populer sebagai Sunan Ampel mempunyai hubungan baik dengan pemerintahan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Sebuah kerajaan yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara. Raden Rahmat mempunyai hubungan dengan salah satu putera raja, yaitu Raden Joyo Waseso yang masuk Islam di tangan Raden Rahmat dan berganti nama Abdul Fatah (Raden Fatah). Ia ikut berperang melawan ayahnya sendiri dan berhasil mengalahkannya serta merebut kekuasaan ayahnya di tahun 792 Hijriyah. Ia lalu mula merintis berdirinya kerajaan Islam pertama kali di Jawa yang terkenal dengan Kerajaan Demak. Dari sini Agama Islam mulai tersebar secara besar-besaran.
Raden Rahmat mempunyai banyak putra, antara lain :
1.    Ja’far Shadiq. Ia salah satu panglima pasukan Raden Fatah yang dikirim langsung untuk menggempur Majapahit.
2.    Ibrahim. Ia salah satu panglima Raden Fatah yang mendapatkan mandat untuk berperang dan mendampingi Raden Fatah.
3.    Zainal Abidin. Ia adalah perdana menteri ke-2 Raden Fatah. Dalam pemerintahan, ia dikenal tegas pada para penyembah berhala. Ali Khairuddin, salah satu ahli sejarah menyebutkan, Maulana Zainal Abidin mengumpulkan patung-patung di Jawa yang telah disembah  hingga mencapai 650 patung, lalu dibuang di laut Madura dan laut Bawean. Ia juga menaklukkan seluruh penyembah berhala di bawah kekuasaanya. Para penyembah berhala dihadapkan pada dua opsi, masuk Islam, atau membayar jizyah (pajak). Sebagian ada yang masuk Islam dan sebagian lagi membayar jizyah dengan konsekuensi pengamanan dari pemerintahan.
Raja-raja Aceh juga keturunan Bani Alawi. Salah satu raja yang paling berpengaruh dalam penyebaran Islam adalah Raja Malik Kamil yang wafat pada tahun 607 H. Kemudian al-Malik as-Shalih yang wafat pada tahun 696 H. Lalu putranya, Sulthan Muhammad az-Dhahir yang wafat pada tahun 726 H. Diteruskan oleh putranya Ahmad yang wafat di tahun 809 H. Dari Ahmad inilah nasab (silsilah keturunan) raja-raja Brunai dan Jaremen Kuno, Baruwak, Salwa, Saibu , Mindanao, dan Kanawa.
Di Philipina, Syarif Khabogsan (Syarif Muhammad bin Ali Zainal Abidin) berpengaruh dalam penyebaran Islam. Ia mendirikan pemerintahan Islam di sana. Ali Zainal Abidin ayah Kabogsan hijrah dari Hadhramaut ke Johor dan menikah dengan puteri Raja Iskandar Syah, Raja Johor yang kemudian mempunyai tiga orang putera. Yang bungsu benama Muhammad bin Ali yang terkenal dengan sebutan Kaboghsan yang berhijrah untuk dakwah, sampai ke daerah Mindanao di Philipina. Kemudian mulailah penyebarkan Islam sekaligus perintisan negara Islam di sana, berikut perlawanan terhadap kolonialisme barat dalam waktu yang cukup lama.
Di Salwa, Syarif Abu Bakar Zainal Abidin yang sampai ke sana tahun  853 H  melakukan pergantian pemerintahan setelah perkawinannya dengan satu-satunya puteri Raja Solo. Beliau lalu menyebarkan Islam di negara tersebut. Para penggantinya dapat meluaskan wilayah kekuasaanya dan melakukan perlawanan dengan kolonialisme Barat pada saat itu.
Ikhtishar
1.    Hadharim punya pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Hal ini diaktensi dalam seminar yang diselenggarakan di Medan Sumatra Utara, 17-20 Maret 1963. Seminar ini mengangkat tema tentang masuknya Islam ke Indonesia yang dihadiri oleh para pakar sejarah, cendekiawan dan budayawan Indonesia. Mereka memberikan resultasi bahwa Islam masuk ke Indonesia kali pertama dibawa oleh Bani Alawi dari Hadhramaut yang bermazhab Syafii.
2.    Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan berbagai metode. Di antaranya dakwah pada masyarakat secara langsung, lewat politik, dan lain-lain.
3.    Bidang politik bertujuan untuk mem-back up dakwah dan melindungi segala aktivitas dakwah dan para dai dari chaos dan ketidakadilan. Hingga dapat meluaskan lapangan dakwahnya. Karena, rakyat biasanya selalu mengikuti agama rajanya.
4.    Mereka yang biasanya mendapatkan jabatan politik atau militer menjadi mediator para ulama dan dai yang melakukan dakwah pada elit pemerintahan dengan hikmah dan kebajikan. Mereka punya sifat mulia yang membuat para pembesar pemerintahan menaruh kepercayaan yang besar.
4. Perlawanan Terhadap Kolonial Eropa

Karena perang yang terjadi antara kaum muslimin dan bangsa Eropa terlalu lama, seperti halnya yang terjadi di kepulauan Ibriya dan Eropa Timur, mulailah bangsa Portugis dan Spanyol mengeluarkan daya upayanya untuk segera menaklukan kaum muslimin. Termasuk menguasai sumber-sumber kekayaan dan potensi alam dalam peperangan.
Perlawanan fisik, ekonomi, atau agama dimulai dengan merusak jalur dagang kaum muslimin antara barat dan timur. Juga dengan menguasai jalan-jalan penyambung dunia dan sumber-sumber kekayaan di bagian timur. Menurut mereka, itulah cara yang dapat mengalahkan Islam dan penganutnya.
Tetapi ketika Portugis sampai ke daerah timur, ternyata bangsa Arab telah sampai lebih dulu. Apalagi banyak bermunculan kerajaan-kerajaan Islam. Hal ini membuat orang Portugis geram dan mengacaukan proyek mereka yang ingin menguasai kekayaan daerah-daerah timur.
Mereka lalu berusaha menghilangkan pengaruh orang Arab dan Islam dari daerah tersebut. Jenderal Portugis De Elbokareik, dalam pidato di depan tentaranya mengatakan, “hanya dengan menjauhkan kaum muslimin dari perdagangan rempah-rempah, bangsa Portugal bisa melemahkan kekuatan Islam. Dan untuk melaksanakan khidmat kepada Tuhan, kita harus mengusir bangsa Mur (Arab) dan mematikan api agama Muhammad. Jika berhasil, niscaya api tersebut tidak akan tersebar selamanya”.
Mulailah Hadharim bahu-membahu dengan sesama muslim dengan determinasi tinggi berjuang melawan kolonialisme yang tamak pada kekayaan Indonesia. Hadharim memulai menceburkan diri dalam peperangan melawan bangsa Portugis dan sekutu-sekutunya, para raja Hindu. Di antara pahlawan yang sangat bersaja adalah Hidayatullah bin Abdullah bin Ali (Nuruddin) dari keluarga Abdul Malik al-Alawi yang sebelumnya berhasil mengusir Portugis dari tanah kelahiranya, Kamboja. Setelah itu ia menetap di kerajaan Islam Demak. Pada tahun 1526 Sultan Trenggono bin Sultan Abdul Fattah Demak memilih Hidayatullah sebagai panglima pasukan tempurnya yang dipersiapkan untuk menyerang kerajaan Hindu Pajajaran di Jawa Barat. Kerajaan ini telah menyepakati kerjasama dengan pemerintahan Portugis melawan Islam.
Pasukan yang dipimpin Hidayatullah berhasil memenangkan pertempuran. Kota Sunda Kelapa dapat dikuasai dan dirubah namanya menjadi Jaya Karta. Saat ini Jaya Karta menjadi Ibukota Negara Indonesia dengan nama Jakarta. Kemudian pasukan Portugis yang dipimpin Jendral Henrik Reem datang, sehingga terjadi pertempuran sengit antara pasukan Hidayatullah dan Portugis. Secara gemilang, peperangan itu berhasil dimenangkan pasukan Hidayatullah. Ia lalu dijuluki Fatahillah. Sedang orang-orang Portugal menyebutnya Faletehan.
Perjuangan Hidayatulah melawan Portugis dan para penyembah berhala ini berlangsung terus menerus hingga tahun 959 H atau 1525 M. Ia mengundurkan diri dari pemerintahan untuk berdakwah. Ia lalu memberikan tampuk pemerintahan kerajaan Banten kepada puteranya untuk meneruskan perjuangan melawan Portugis. Juga Belanda pada tahun 1833. Sampai akhirnya, kerajaan Banten menyerah pada pemerintahan Belanda di Surabaya.
Di Philipina, perjuangan melawan penjajah Spanyol juga dipimpin oleh keluarga besar Syarif Abu Bakar bin Zainal Abidin. Peperangan ini berlangsung sampai tiga abad lamanya.
Di Palembang, perjuangan melawan penjajah Belanda dilakukan Sultan Badruddin yang terkenal agamis dan pemberani dalam membela Islam. Tetapi setelah jatuhnya ibukota Palembang ke tangan Belanda, penjajah mengasingkan Sultan Badruddin dan perdana menterinya, Umar bin Abdullah as-Segaf, ke pulau Ternate pada tahun 1821 M.
Termasuk Hadharim yang melakukan perjuangan ketika awal kedatangan penjajah Belanda adalah Amir al-Wahab bin Sulaiman bin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar Basyaiban al-Alawi. Kakeknya, Abdurrahman, datang dari Qasam Hadhramaut menuju Cirebon dan kawin dengan puteri Raja Cirebon. Dari perkawinannya itu, ia mempunyai dua putera, Abdurrahim dan Sulaiman. Salah satu putera Sulaiman adalah Hasan yang terkenal dengan sebutan Pangeran Agung bin Sulaiman yang terkenal sebagai pejuang melawan pendudukan Belanda.
Abdurrahman bin Husain al-Qadri al-Alawi adalah nama lain yang turut terjun berperang melawan Angkatan Laut Belanda dan Inggris. Ia berhasil mendirikan kerajaan Pontianak. Berkat kegigihannya, perserikatan Hindia Timur Belanda mengakuinya sebagai Raja Pontianak.
Di India, perjuangan melawan penjajah Eropa ini juga dilakukan oleh kelompok Mabela dengan keberanian tinggi. Sulthan Ghalib bin Awadh al-Quaiti mengatakan, “ingatkah kalian dengan celaan Portugis, Belanda, Perancis, dan Inggris. Pemerintahan mereka sangat tertekan dengan perlawanan sengit kelompok  ini.”
Gerakan kelompok militan ini mendapat dukungan dari beberapa Ulama yang dikenal dengan gelar Tanggul yang berarti sayyid. Yang dimaksud adalah para sayyid keturunan Bani Alawi dari Hadhramaut. Mengenai keberanian kelompok Mabela, seperti disebutkan sumber dari Belanda dan Perancis pada masa itu, “mereka kelompok yang berani sekali dalam membela Islam. Mereka tidak pernah menyerah sama sekali dan lebih berani mati dalam perjuangan membela negerinya.” Apalagi siasat mereka dalam berperang dan keorganisasiannya mirip dengan Suku Moro Philipina.
Etnis Arab Hadhramaut terus bertambah perkembangannya di India pada masa-masa setelah itu sebagai tentara di berbagai negara kecil di al-Marotsa yang telah memeluk Islam selama kurang lebih 40 tahun. Tentara inilah yang berjuang melawan pendudukan Inggris di India yang berjumlah sampai 6000 tentara.
Hadharim di sana tidak hanya menjadi tentara ekstra bagi India, namun memegang kendali dan sebagiannya menjadi panglima perang. Hal ini bisa diketahui dari cerita kolonel Inggris dalam memorinya ketika berperang melawan Hadharim di peperangan yang terjadi antara tentara al-Marotsa dan tentara Inggris, bahwa kalangan elit tentara Inggris menaruh segan terhadap tentara Basyafa’ dan raja-raja. Hal itu karena banyaknya tentara Hadharim di sana. Lebih-lebih orang Arab ini terkenal dengan kemampuanya bertahan dan memukul mundur musuh. Suatu hal yang diakui oleh tentara-tentara Inggris.
Reinald Borton mengatakan, “tidak ada tentara di dunia ini yang seberani dan sesolid tentara Arab. Walaupun mereka tidak mempunyai kemampuan banyak dalam taktik peperangan, tetapi pada setiap jiwa mereka ada keyakinan tinggi yang tidak akan hilang selagi mereka masih hidup.”
Tentara Inggris berperang melawan tentara al-Marotsa selama tiga kali. Dan semuanya memaksa mereka menuai kerugian besar. Pertama pada tahun 1775-1782. Kedua pada tahun 1802-1805. Di tahun ini tentara Inggris dapat mengalahkan tentara al-Marotsa di bawah komando Sandiya dan Baransala.
Namun Basyayfa’ Raji Rawa kedua yang menyatukan seluruh tentara al-Marotsa mencoba melakukan perlawanan kembali dan ingin mengembalikan kemerdekaan negerinya. Ia mulai menyalakan api peperangan ketiga. Namun tentara Inggris lambat laun bisa mengalahkan mereka dan mampu menguasai tentara Basyayfa pada tahun 1818. Ini ditandai dengan penyerahan diri panglima Basyaifa.
Pada tahun-tahun berikutnya terjadi kekosongan kepemimpinan (vacum of power) di pusat komando pasukan al-Marotsa yang berakibat terkotak-kotaknya pasukan tersebut. Hadharim banyak yang mengungsi ke Haidar Abad. Sebagian ada yang dipaksa pulang oleh pemerintahan Ingggris ke Hadhramaut. Salah satu pemuka masyarakat yang ikut bergabung di Haidar Abad adalah Umar bin Awadh al-Quaiti.
Ikhtishar
1. Hadharim mampu mencapai kedudukan tinggi, baik di dalam militer ataupun pemerintahan. Terbukti, salah satu dari mereka ada yang menjadi panglima perang atau raja yang nota bene mampu melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Eropa.
2. Keberadaan hadharim di perpolitikan, tentara, atau sosial mampu mempersulit kolonialisme dalam menguasai Islam dan pengikutnya. Terlebih kaum kolonialis itu berhasil menggandeng kerajaan Hindu dan Budha untuk bekerjasama. Mayoritas orang Arab, sebagai pemuka masyarakat, mengobarkan sifat perjuangan itu pada kaum pribumi.
3. Perjuangan Hadharim melawan kolonialisme Belanda atau Inggris menjadikan suatu ketakutan tersendiri bagi mereka pada Arab dan Hadharim. Hal itu membuahkan hasil perubahan politik kolonialisme dalam berhubungan dengan Arab atau hadharim di India dan Asia Tenggara.



24 Juli 2012

Puasa Ramadhan dan Hikmah Ramadhan



Manfaat Puasa Ramadhan
  1. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa the penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia.
  2. Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
  3. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi. Saat puasa terjdi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan. Sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.
  4. Puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal. Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.
  5. Sedang di antara manfaat puasa ditinjau dari segi kesehatan adalah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut.
  6. Termasuk manfaat puasa adalah mematahkan nafsu. Karena berlebihan, balk dalam makan maupun minum serta menggauli isteri, bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.
  7. Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan member perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme local pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.
  8. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi pengkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalani kenaikkan pesat. Perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan rendah (LDL), tanpa diikuti penambahan HDL. LDL merupakan model lipoprotein yang meberika pengaruh stumulatif bagi respon imunitas tubuh.
  9. Pada pelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.
  10. Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.
  11. Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh ke dua testis.
  12. Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.
  13. Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.
  14. Bahkan seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk sizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi resiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi
  15. Pikiran kita yang melambat ketika lapar, ternyata menjadi lebih tajam. Secara instingtif, bukti ilmiah ini bisa diterima terkait dengan fakta bahwa dalam banyak hal, masalah lapar adalah masalah kelanjutan hidup. Jadi wajar saja, jika rasa lapar membuat pikiran semakin tajam dan kreatif. Sekelompok mahasiswa di University of Chicago diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “remarkable”.
  16. Termasuk manfaat puasa adalah mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, maka dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat dan kemarahan. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat nikah, sehingga beliau memerintah orang yang belum mampu menikah dengan berpuasa
  17. Seorang ilmuwan di bidang kejiwaan yang bernama Dr. Ehret menyatakan bahwa untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktivitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.
  18. Ilmuwan psikiater lainnya yaitu Dr. E.A. Moras, mengatakan bahwa seorang pasien wanitanya telah menderita sakit mental selama lebih dari delapan bulan. Wanita itu telah berobat kesana-kemari termasuk ke para ahli saraf dengan hasil kurang memuaskan. Ia memintanya untuk berpuasa. Wanita itu mengalami perbaikan kondisi mental, dan bahkan dinyatakan sembuh setelah berpuasa selama lima minggu. Di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini.
  19. Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.
  20. Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.