كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surah Ali `Imran: 110)

6 Juni 2014

KISAH KISAH PENUNTUT ILMU




Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati. Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi

Habaib“Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu” demikian ungkapan penting yang dituturkan Ibnu al-Mubarak. Ungkapan itu sama sekali bukan ungkapan yang mengecilkan peran ilmu. Karena, ilmu memang penting, bahkan sangat penting. Sejak kecil kita telah dipesankan ihwal pentingnya ilmu dan kewajiban menuntutnya. Tentu kita sangat mengenal sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.
Tetapi Islam tak hanya menekankan pentingnya ilmu. Akhlaq yang mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi. Sabda Nabi saw yang sangat terkenal menegaskan hal itu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Perhatikanlah, tujuan Nabi Saw diutus pun, sebagaimana yang beliau ungkapkan sendiri, adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Tentu dalam  pengertian yang luas dan menyeluruh yang dimulai dengan akhlaq terhadap Allah swt.
Dari hadits tersebut kita dapat memahami betapa Islam sangat mementingkan akhlaq. Dalam pelaksanaannya, akhlaq yang bersifat global itu terwujud dalam adab adab yang khusus, mulai dari adab terhadap Allah, adab terhadap Nabi, adab terhadap orang tua, adab terhadap anak, adab terhadap guru, murid, adab terhadap keluarga, tetangga, terhadap tamu, dan sebagainya. Juga adab dalam melakukan berbagai perbuatan, baik ibadah ibadah maupun yang lainnya.
Demikian pentingnya perkara adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”
Karena itulah, seorang ulama berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh , engkau mempelajari satu bab adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”
Apa yang dituturkan Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”
Apa yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak diatas tidak berarti ilmu tidak penting, karena jika demikian berarti bertentangan dengan ajaran agama. Kalimat “Kita lebih perlu kepada sedikit adab daripada kepada banyak ilmu” artinya bagi orang yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih ia perukan daripada ilmunya yang banyak yang tak disertai adab. Jadi, bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.
Suatu ketika Imam Syafi’i menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmumu bagus dan adabmu halus”.
Ya, jika kita ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, ilmu dan adab memang sama sama harus dimiliki, tak boleh dipilih salah satu saja. Wajarlah jika kemudian ada ulama yang mengatakan, “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang  dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.” Demikian dikutip dari kitab al-Ihya’.
Literatut literatur kita sangat kaya dengan kisah kisah adab para salaf dalam menuntut ilmu dan sangat banyak butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik darinya. Uraian berikut akan memaparkan sebagian diantaranya, yang fokusnya pada adap terhadap ilmu dan terhadap guru, yang sebagian besar bahannya dikutip dari kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.
Dihikayatkan bahwa suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka, bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki kebaikan. Maka ia pun menunggunya di sebuah masjid.
Orang yang ditunggu itu pun keluar, kemudian meludah di masjid, yakni di dindingnya sebelah luar.
Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”
Sebelum memperhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Mengenai hal ini, al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam mukadimah kitab Syarh al-Muhadzdzab, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.”
Masalah hati memang sangat ditekankan dalam islam, karena ia menjadi kunci terpenting dari segala sesuatu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat hadits Rasulullah saw yang menyebutkan, “Sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging yang, apabila baik, baik pula seluruh tubuh, dan, apabila rusak, rusak juga seluruh tubuh. Ketahuilah itulah hati.”
Para ulama mengatakan, membersihkan hati untuk ilmu seperti membersihkan tanah untuk ditanami. Al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad membuat perumpamaan yang sangat tepat tentang hal itu. “Seandainya engkau datang membawa bejana yang kotor kepada seseorang yang engkau ingin mendapatkan minyak atau madu atau semacamnya dari orang itu, ia akan berkata kepadamu, “Pergilah, cucilah dulu”. Ini dalam urusan dunia, lalu  bagaimana rahasia rahasia ilmu akan ditempatkan dalam hati yang kotor?”
Diriwayatkan ketika Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa  kepadanya dengan hafalan yang membuatnya kagum dan kemudian Imam Syafi’i menyertainya terus, Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya engkau akan memiliki sesuatu yang sangat penting.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Malik berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah menempatkan cahaya didalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan ia dengan perbuatan perbuatan maksiat.”
Imam Syafi’i, yang telah membuat kagum para gurunya, termasuk Imam Malik, pernah mengadukan perihal dirinya yang belum memuaskannya, “Aku mengadukan kepada Waki’ (nama salah seorang gurunya) buruknya hafalanku. Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat.”
Sahl bin Abdullah, tokoh ulama lain, menambahkan, “Sulit bagi hati untuk dimasuki oleh cahaya jika didalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah”.
Seorang penuntut ilmu juga mesti memiliki niat yang baik dalam  menuntut ilmu, karena niat itu merupakan pokok dalam semua perbuatan, berdasarkan sabda Nabi Saw, “Hanyasanya semua perbuatan itu tergantung niatnya,” Karena itu ia mesti bertujuan untuk mendapatkan keridhoan Allah, mengamalkan nya, menghidupkan syari’at, dekat dengan Allah, menghilangkan kejahilah dari dirinya dan dari semua orang yang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan ajaran Islam dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap dirinya dan orang lain semampu mungkin.
Tawadhu’ dan Mengabdi kepada Ulama
Semestinya seorang penuntut ilmu tidak menghinakan dirinya dengan perbuatan tamak dan menjaga diri dari perbuatan takabur. Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak akan berbahagia seseorang yang mempelajari ilmu dengan kekuasaan dan tinggi hati, melainkan yang mempelajarinya dengan rendah hati, kehidupan yang sulit, dan mengabdi kepada ulama, dialah yang akan bahagia.”
Meraih ilmu memang sering kali tidak mudah, bahkan terkadang bisa membuat orang yang mengejarnya merasa rendah di hadapan orang yang ingin diambil ilmunya. Didalam suatu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan, “Aku hina ketika menuntut ilmu lalu mulia ketika menjadi orang yang dituntut ilmunya.”
Ibnu Abbas sering pergi ke rumah Ubay bin Ka’ab. Terkadang ia mendapati pintu rumah Ubay terbuka sehingga ia segera diizinkan masuk, dan terkadang pintunya tertutup sedangkan ia malu untuk mengetuknya. Maka ia berdiam saja sampai siang, tetap duduk di depan pintu rumah. Angin menerbangkan debu kearahnya sampai akhirnya ia menjadi tidak dapat dikenali karena banyaknya debu yang menempel ditubuhnya dan pakaiannya.
Lalu Ubay keluar dan melihatnya dalam keadaan demikian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak. “Mengapa engkau tidak meminta izin?” tanyanya. Ibnu Abbas beralasan malu kepadanya.
Pernah terjadi juga, disuatu hari Ubay ingin menunggu kendaraan, maka Ibnu Abbas mengambil hewan kendaraanya sehingga Ubay menaikinya kemudian ia berjalan bersamanya. Maka berkatalah Ubay kepadanya, “Apa ini, wahai Ibnu Abbas?”
Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama kami”
Ubay menaiki kendaraan sedangkan Ibnu Abbas berjalan dibelakang kendaraan Ubay. Ketika turun, Ubay mencium tangan Ibnu Abbas. Maka berkatalah Ibnu Abbas kepaanya, “Apa ini?”
Ubay menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati ahlul bayt nabi kami.” Demikian disebutkan oleh al-Habib Al-Allamah Abdullah bin al-Hussain Bilfaqih sebagaimana tersebut dalam kitab Iqd Al-Yawaqit.
Pentingnya mengabdi kepada ulama dan taat kepada mereka juga dituturkan oleh Sufyan bin Uyaynah. Ia mengatakan, “Aku telah membaca al-Quran ketika berusia empat tahun dan menulis hadits ketika berusia tujuh tahun. Ketika usiaku sampai 15 tahun, ayahku berkata kepadaku, ‘Anakku, syari’at bagi anak anak telah terputus darimu. Maka bercampurlah dengan kebaikan. Niscaya engkau akan menjadi ahlinya. Ketahuilah, seseorang tidak akan berbahagia dengan ulama kecuali orang yang menaati mereka. Karena itu, taatilah mereka, niscaya engkau akan bahagia. Dan mengabdilah kepada mereka, niscaya engkau akan mendapatkan ilmu mereka’.
Maka aku mengikuti wasiat ayahku dan tidak pernah berpaling darinya.” Demikian dikutip oleh an-Nawawi dalam Tahdzib-nya.
Meskipun seorang murid harus taat, mengabdi, dan melayani gurunya, seorang guru pun akan mendapatkan kemuliaan bila melayani muridnya. Artinya, membantu segala sesuatu yang dapat memperlancar dan memudahkan murid belajar kepadanya. Mengenai ini, ada sebuah ucapan penting dari al-Imam Ja’far ash-Shadiq, “Ada empat hal yang tidak semestinya seorang yang mulia memandannya rendah: bangun dari majelisnya untuk menyambut ayahnya, melayani tamunya, mengurusi kendaraannya, dan melayani orang yang belajar kepadanya.”
Ada sebuah perkataan penting dari Mujahid yang perlu kita simak. “Tidak akan dapat mempelajari ilmu, orang yang pemalu, dan tidak juga orang yang sombong.”
Ungkapan itu dijelaskan oleh Habib Zein bin Smith: Seorang yang pemalu tidak dapat mempelajarinya karena ia tercegah oleh rasa malunya untuk mempelajari agama dan menanyakan apa yang tidak diketahuinya, sedangkan orang yang sombong tercegah oleh sikap takaburnya dari mengambil manfaat dan belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya. Tidaklah seseorang menjadi alim sampai ia mengambil ilmu dari orang yang berada diatasnya, dari orang yang sama dengannya, dan dari orang yang berada dibawahnya.
Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi mengatakan, “Semestinya penuntut ilmu mengambil manfaat yang bersifat ilmiyah dan adab yang baik dari mana saja ia dapatkan,baik dari orang dekat, orang jauh, orang yang tinggi kedudukannya, atau orang yang rendah kedudukannya, orang yang suka menampakkan diri ataupun orang yang suka menyembunyikan diri, dan tidak terbelenggu oleh kebodohan dan kebiasaan, serta tidak mencegah dirinya untuk mengambil ilmu dari orang yang tidak terkenal. Karena, jika mencegahnya, ia termasuk orang yang jahil dan lalai dari apa yang tersebut dalam hadits, “Hikmah itu adalah barang hilang kepunyaan setiap mukmin, dimana saja ia dapatkan, hendaklah ia ambil.”
Ia juga lalai dari apa yang dikatakan sebagian ahli hikmah, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”
Secara tegas, Abu al-Bakhtari mengatakan, “Bahwa aku berada disuatu kaum yang lebih alim daripada aku lebih aku sukai daripada aku berada di suatu kaum yang aku paling alim diantara mereka. Karena, jika aku orang yang paling alim diantara mereka, aku tidak dapat mengambil manfaat; sebaliknya jika aku berada bersama orang orang yang lebih alim dariku, niscaya aku dapat mengambil manfaat,” Demikian dikutip oleh Al-Yafi’i dalam Mir’at al-Jinan.
Mengejar ilmu, dan merasa diri belum bisa atau kurang menguasai, menjadi syarat penting untuk meraih ilmu, sebagaimana dikatakan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “Tidak dibukakan bagi seseorang mengenai suatu ilmu sampai ia mencarinya dan meyakini bahwa ia belum memilikinya.”
Sedikit Makan dan Tidur
Menahan diri dari banyak bersenang senang, terutama makan dan tidur, juga menjadi syarat penting seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan ilmu. Bagaimana mungkin seorang yang hidupnya selalu bersantai santai, rakus terhadap berbagai makanan, dan suka tidur, akan bisa mendapatkan ilmu yang banyak? Itulah sebabnya Sahnun mengatakan, “Ilmu itu tidak patut dimiliki orang yang biasa makan sampai kenyang.”
Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya terabadikan dalam Al-Quran, menyampaikan hikmah penting kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah penuh, niscaya pikiran akan tidur, hikmah akan tuli, dan anggota anggota badan akan lumpuh dari ibadah.”
Itulah sebabnya, sejak dulu para ulama terkemuka disaat saat  berburu ilmu senantiasa menjaga dirinya dari banyak makan. Diantaranya, sebagaimana yang dikemukakan Imam Syafi’i, “Aku tidak pernah kenyang sejak berusia 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan dari ibadah.” Demikian dikutip dari kitab Hilyah al-Auliya.
Berkaitan dengan itu, penting kita perhatikan pesan Sayyidina Umar bin Khotthob berikut ini, “Jauhilah oleh kalian sifat rakus dalam makanan dan minuman, karena itu membawa kerusakan bagi tubuh, menyebabkan kegagalan, dan membuat malas dari melakukan sholat. Hendaklah kalian sederhana di dalam keduanya (makanan dan minuman), karena itu yang lebih baik bagi tubuh dan lebih menjauhkan dari pemborosan. Dan sesungguhnya Allah benci kepada seorang alim yang gemuk.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ath-Thib an-Nabawi yang dikutip dalam kitab Kasyf al-Khafa.”
Adab terhadap Guru
Di dalam sebuah riwayat terdapat ungkapan berikut, “Pelajarilah ilmu dan pelajarilah untuk kepentingan ilmu itu, ketenangan dan kewibawaan, dan bertawadhu’lah kepada orang yang engkau belajar darinya.” Imam An-Nawawi mengatakan, “Semestinya seorang murid itu bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan beradab terhadapnya sekalipun ia (gurunya) lebih muda usianya, lebih sedikit terkenalnya, lebih rendah nasabnya, dan lebih sedikit kebaikannya. Dengan sikap tawadhu’nya ia akan memahami ilmu.”
Pengertian tersebut juga tergambar dalam sebuah syair, yang artinya:
Ilmu itu memusuhi
pemuda yang tinggi hati
Sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi
Seberapa banyak ilmu yang akan didapat seseorang dari gurunya diantaranya tergantung sejauh mana adabnya  terhadap sang guru. Tokoh ulama Hadhramaut, Imam Ali bin Hasan Al-Attas, mengatakan, “Sesungguhnya yang diperoleh dari ilmu, pemahaman, dan cahaya, yakni terungkapnya hijab, adalah menurut ukuran adab terhadap guru. Sebagaimana ukurannya yang ada pada dirimu, demikian pula ukuran itu disisi Allah tanpa diragukan lagi.”
Ia juga mencontohkan bagaimana dimasa lalu anak anak, meskipun anak  khalifah atau raja, dididik untuk menghormati dan melayani gurunya. “Al-Amin dan Al-Ma’mun, dua orang putra Harun Ar-Rasyid, saling berlomba untuk meraih sandal guru mereka, Al-Kisa’i, agar dapat memakaikan sandal itu kepada gurunya.
Maka berkatalah guru mereka kepada mereka pada saat itu, ‘Masing masing memegang satu’.
Ya, guru memang harus dilayani dan dihormati, karena ia bagaikan orangtua kita. Di dalam hadits dikatakan, “Ayahmu itu ada tiga: Ayah yang melahirkanmu (melalui ibumu), ayah yang menikahkanmu dengan putrinya (mertua), dan ayah yang mengajarimu, dan dialah yang paling utama.” Demikian keterangan dari kitab al-‘Athiyyah al-Haniyyah.
 Mengenai hal itu, ada orang yang mengatakan, “Aku dahulukan guruku dibandingkan bakti kepada ayahku. Sekalipun aku mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari ayahku. Yang ini adalah pendidik jiwaku, dan jiwa itu adalah permata. Dan yang itu pendidik tubuhku dan ia bagaikan kerang baginya”.
Al-Imam Sya’rani mengatakan, “Telah sampai kepada kami ucapan dari Syaikh Bahauddin as-Subki, ‘Ketika aku sedang menaiki kendaraan bersama ayahku, yakni Syaikhul Islam Taqiyyuddin as-Subki, di suatu jalan di negeri Syam, tiba tiba ia mendengar seseorang dari kaum petani Syam mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Al-Faqih Muhyiddin An-Nawawi tentang masalah ini dan itu.
Maka turunlah ayahku dari kudanya dan mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan mengendarai tunggangan sedangkan mata melihat Muhyiddin berjalan!
Kemudian ia memintanya untuk mengendarai kuda, sedangkan beliau sendiri berjalan sampai memasuki negeri Syam’.”
Kemudian Asy-Sya’rani mengatakan, “Begitulah, wahai saudaraku, para ulama berlaku terhadap guru guru mereka meskipun ia tidak menjumpainya karena datang beberapa tahun setelah kematiannya.”
Betapa besarnya penghormatan dan kecintaan para tokoh ulama dahulu terhadap para gurunya dapat kita simak dari ucapan Abu Hanifah berikut ini, “Sejak Hammad (yakni gurunya) wafat, aku tidak pernah melakukan sholat melainkan aku mintakan ampunan untuk nya beserta kedua orang tuaku, dan sesungguhnya aku selalu memohonkan ampunan untuk orang yang aku belajar darinya suatu ilmu atau orang yang aku ajari ilmu,”
Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, juga sangat mencintai gurunya itu, “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.” Demikian disebutkan dalam kitab Tahdzib al-Asma’, karya Imam Nawawi.
Apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i berikut ini mungkin akan membuat kita tercengang, “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Bahkan Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan,  “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.”
Banyak lagi kisah yang mungkin akan membuat kita terheran heran dengan penghormatan mereka kepada para gurunya. Al-Imam Asy-Sya’rani mengatakan, “Telah sampai keterangan kepada kami mengenai Imam An-Nawawi bahwa suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya.
Maka ia mengatakan, “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i. Dan ia pun meninggalkannya.
Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya, ‘Uzur apa itu?’
Ia menjawab, ‘Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya.’
Apabila ia keluar untuk belajar dengan membaca kitab kepada gurunya, ia lebih dahulu bersedekah di jalan yang ia lakukan dengan niat untuk gurunya dan mengucapkan doa, “Ya Allah, tutupilah dariku aib guruku agar mataku tidak melihat kekurangannya dan agar tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepadaku.” Perhatikanlah, sebegitu jauhnya perhatian dan kecintaan mereka kepada guru.
Diriwayatkan, Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Diantara hak gurumu terhadapmu adalah engkau mengucapkan salam kepada orang secara umum dan mengucapkannya secara khusus kepadanya, engkau duduk didepannya, jangan menunjuk dengan tanganmu disisinya, dan jangan memberi isyarat dengan matamu, jangan pula engkau mengatakan, ‘Fulan mengatakan yang berbeda dengan yang Tuan katakan’, jangan mengghibah seseorang di hadapannya, jangan bermusyawarah dengan temanmu di majelisnya, jangan memegang bajunya apabila ia bangun, jangan mendesaknya apabila ia tampak sedang malas, dan jangan pula berpaling darinya.” Demikian disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya, At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an.
Abu bakar bin Ayyasy mengatakan, “Ketika saudara Sufyan ats-Tsauri wafat, orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah, lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya.
Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan, ‘Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.’
Sufyan menjawab, ‘Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu. Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.”
Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan mengatakan, “Yang membuat orang orang tidak mendapatkan ilmu hanyalah karena sedikinya penghormatan mereka terhadap orang orang yang berilmu,”
Dua belas Syarat
Syaikh Zakariya dalam kitabnya, al-Lu’lu’ an-Nazhim fi Rawum at-Ta’allum wa at-Ta’lim, mengatakan, “Syarat syarat mempelajari ilmu dan mengajarkannya ada dua belas (12) :
Pertama, mempelajarinya dengan maksud sebagaimana ilmu itu dibuat.
Kedua, mencari ilmu yang dapat diterima oleh tabi’atnya, karena tidak setiap orang layak untuk mempelajari berbagai ilmu, dan tidak semua yang layak mempelajarinya, layak untuk semuanya, melainkan setiap orang hanya dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan (ditakdirkan) untuk itu.
Ketiga, mengetahui tujuan ilmu itu agar yakin dengan perkaranya.
Keempat, menguasai ilmu itu dari awal sampai akhir.
Kelima, mencari kitab kitab yang baik yang mencakup semua disiplin.
Keenam, membaca kepada seorang guru yang dapat memberikan bimbingan dan seorang terpercaya yang dapat memberikan nasihat, dan tidak berkeras kepala dengan dirinya dan kecerdasannya.
Ketujuh, bermuzakarah dengan teman temannya untuk mencari pertahqiqan, bukan untuk mencari kemenangan, melainkan untuk menolong memberikan manfaat dan mengambil manfaat.
Kedelapan, apabila telah mengetahui ilmu itu, jangan menyia nyiakannya dengan mengabaikannya, dan jangan pula mencegahnya dari orang yang patut mendapatkannya, berdasarkan hadits, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu yang bermanfaat lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah pada hari Kiyamat memasangkan kendali pada dirinya denga kendali dari neraka.” Tapi jangan pula memberikannya kepada orang yang tak layak menerimanya, sebagaimana yang terdapat dalam perkataan para nabi, “Janganlah kalian ikatkan permata pada leher babi.” Artinya, janganlah kalian berikan ilmu kepada orang yang tak layak menerimanya. Dan hendaknya mencatat apa yang dapat disimpulkan.
Kesembilan, jangan meyakini dalam suatu ilmu bahwa telah mendapatkan darinya dalam ukuran yang tidak dapat bertambah lagi, karena itu suatu kekurangan.
Kesepuluh, mengetahui bahwa setiap ilmu itu ada batasnya, maka janganlah melampauinya dan jangan pula kurang darinya.
Kesebelas, janganlah memasukkan suatu ilmu pada ilmu yang lain, baik dalam belajar maupun dalam diskusi, karena hal itu dapat membingungkan pemikiran.
Kedua belas, setiap murid dan guru hendaknya memperhatikan hak yang lainnya, terutama pihak pertama (murid), karena gurunya bagaikan ayahnya bahkan lebih agung, karena ayahnya telah mengeluarkan dia ke negeri fana (dunia) sedangkan gurunya menunjukkannya ke negeri yang kekal. Demikian dikutip dari kitab Mathlab al-Iqazh fi Ghurar al-Alfazh, karya al-Allamah ‘Abdullah bin Husain Bilfaqih.
Yang Wajib dan Tak Wajib
Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan,  ‘Penuntut ilmu butuh tiga perkara: Usia yang panjang, harta dan kecerdasan.’” Hal itu juga ia katakan dalam sebuah syair:
saudaraku…
kau tak akan mendapat ilmu
kecuali dengan enam perkara
Aku akan memberitahukan engkau
dengan penjelasan yang terperinci
Kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya
juga petunjuk guru dan masa yang lama
Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Bagi orang yang ingin mendapatkan manfaat dengan ilmu untuk dirinya saja tanpa memperhatikan apakah ilmu itu bermanfaat untuk orang lain atau tidak, hendaklah ia mengutamakan ilmu yang lebih berpengaruh terhadap hatinya dan lebih dapat melembutkannya. Dan hendaklah ia mengikatnya dengan menulis, mengulang ulangi dan semacamnya, yang dapat membuatnya bertambah kukuh. Karena, hal itu lebih bermanfaat bagi dirinya dibandingkan banyak ilmu yang tidak membuatnya mendapatkan pengaruh, kelembutan, dan kekhusyu’an. Demikian pula dalam semua perbuatan, keadaan, dan sebagainya, hendaklah seseorang mencari yang paling layak untuknya meskipun tidak layak dan tidak sesuai bagi orang lain. Ini bagi orang yang menginginkan mendapatkan manfaat untuk dirinya saja.
Adapun orang yang menginginkan dapat memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmunya, hendaklah ia menjadi seperti seorang dokter yang memperhatikan penyakit, sebab sebabnya, materinya, dan memberikan kepada orang yang sakit itu obat yang sesuai dengan penyakitnya. Mungkin saja ada orang yang datang kepadanya yang memiliki penyakit yang sama, lalu ia memberikannya obat yang lain, tidak seperti obat yang diberikannya kepada orang yang sebelumnya (meskipun penyakitnya sama), karena ia tahu bahwa sebab yang menyebabkan penyakitnya berbeda dengan sebab yang menyebabkan penyakit orang lain.
Demikian pula dengan ilmu ilmu, ia berikan kepada setiap orang yang patut menerimanya dan tidak mengukur orang dengan ukuran yang sesuai bagi dirinya. Ini juga berlaku pada orang yang ingin membuat karangan dan semacamnya.” Demikian dikutip oleh Al-Imam Muhammad bin Zain bin Semith dalam kitab Qurrah al-‘Ain wa Jila’ ar-Rayn.
Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Hendaklah seseorang menguasai suatu disiplin ilmu sampai ia dinisbahkan dengan ilmu itu dan dikenal dengannya.”
Sayyidina Ali mengatakan, “Barang siapa banyak dalam sesuatu, ia akan dikenal dengannya.” Dan hendaklah ia mengambil sekadarnya dalam setiap ilmu yang lainnya dan menguasainya secara global, sehingga, apabila ditanya tentang sesuatu, ia memiliki pengetahuan tentang itu dan tidak jahil (bodoh).
Karena itu, Imam As-Suyuti mengarang kitab An-Nuqayah (kitab yang mengulas intisari empat belas ilmu) dan mensyarahkannya. Dan apabila menghafal (menguasai sesuatu ilmu), ia menguasai semua ilmu yang berhubungan dengannya.
“Jika engkau memiliki ilmu tersebut sekadarnya, dalam ilmu ilmu yang berkaitan dengannya juga cukup menguasai sekadarnya, dan lebih baik bagimu menguasai sepuluh masalah dengan sebaik baiknya daripada membaca sebuah kitab dengan sempurna tetapi tidak menguasainya.” Demikian yang dikatakan Imam Abdullah Al-Haddad.
Ia juga mengatakan, “Ilmu ushul itu ada dua. Pertama, ilmu ushuluddin, seperti masalah masalah aqidah. Seseorang harus mengabil ilmu ini sesuai dengan kebutuhannya, seperti aqidah yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Kedua, ilmu ushul fiqih. Ilmu ini sulit dan tidak mudah dipahami, ia tidak wajib bagi setiap orang. Maka semestinya seseorang mengambil dari kedua ilmu ushul tadi sesuai dengan kebutuhannya yang mendesak. Kemudian ia mengambil kitab kitab yang dapat melembutkan hatinya, menggemarkannya kepada akhirat, dan membuatnya zuhud di dunia.
Kemudian ia beibadah dan bersungguh sungguh dalam melakukannya, dan banyak membaca al-Quran dengan kesungguhan. Apabila tidak memungkinkannya melakukan itu di sebagian waktu, hendaklah banyak berzikir dan melazimkannya dalam setiap keadaannya, karena umur itu singkat dan orang yang menganggur menyia nyiakan sebagian besarnya. Dan hendaklah puncak perhatian dan muthala’ahnya adalah pada masalah masalah yang penting dari hal hal tersebut tadi. Jadi, ia melakukan muthala’ah hal hal yang penting dan menghafal hal hal yang penting. Jika ia ingin melakukan muthala’ah mengenai yang lain, ia dapat melakukan nya kadang kadang saja.” Demikian dikutip dari kitab Tatsbit al-Fuad.
Al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi mengatakan, “Hendaknya seorang penuntut jalan  akhirat senantiasa mencari cari manfaat dimanapun berada, baik kepada orang yang ahli maupun bukan ahli, mau mengambil dari setiap orang bagaimana pun ia, baik ia orang alim maupun orang awam. Karena, terkadang akhlaq yang bagus ia dapati pada sebagian orang awam dan tidak ia dapati pada yang lainnya dan juga tidak pada dirinya. Diantara keadaan seorang yang benar adalah mengambil dari teman bergaulnya segala yang baik yang ia lihat terdapat padanya baik, ucapan maupun perbuatan, dan meninggalkan apa yang buruk darinya. Apabila ia mengambil manfaat yang ia dapatkan padanya, janganlah ia mengambil kerusakan dan penyimpangan yang ada pada orang itu.” Demikian dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Ia juga mengatakan, “Pemahaman itu bagi yang memilikinya merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi mereka terkadang tidak merasakannya sebagai nikmat, karena mereka memandang hal itu bisa diperoleh dari membaca kitab, misalnya. Dan orang yang melakukan muthala’ah kitab kitab hendaknya memohon pertolongan kepada Allah agar memudahkan pemahaman baginya dan dapat membayangkannya sehingga ia dapat memperoleh apa yang dituntut dan Allah membukakan baginya pemahaman dalam agama.” Demikian keterangan dari kitab Qurrah al-‘Ain.
Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas mengatakan, “Ada dua perkara yang baik untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu: Pertama, ia tidak masuk pada sesuatu dari ilmu ilmu dan amal amalnya melainkan dengan niat yang baik. Kedua, ia memperhatikan buah dari hasilnya. Apabila tidak memperhatikan ini, ia tidak mendapatkan manfaat.”
Ia juga mengatakan, “Apabila seorang penuntut ilmu membaca suatu kaidah dan ia ingin menghafalnya tetapi tidak ada padanya tinta dan tidak ada pula pena, hendaklah ia menulisnya dengan jarinya pada tangannya atau pada lengannya.”
Diriwayatkan, suatu ketika Imam Syafi’i sempai di Madinah dan duduk di halaqah Imam Malik. Ketika itu Imam Malik sedang mendiktekan kitab Al-Muwathta’ kepada orang orang yang ada disana. Imam Malik mendiktekan 18 hadits sedangkan Imam Syafi’i berada dibarisan belakang. Imam Malik menatapnya dengan pandangannya ketika Imam Syafi’i menulis dengan jarinya pada punggung tangannya.
Ketika jama’ah majelis telah bubar, Imam Malik memanggilnya dengan bertanya kepadanya tentang negerinya dan nasabnya.
Maka Imam Syafi’i pun memberitahukannya.
Lalu Imam Malik berkata kepadanya, “Aku melihatmu memain mainkan tanganmu di punggung telapak tanganmu.”
Imam Syafi’i menjawab, “Tidak, melainkan apabila Tuan mendiktekan sebuah hadits, saya menulisnya diatas punggung tangan saya. Jika tuan mau, saya akan ulangi apa yang tuan diktekan kepada kami.”
Imam Malik berkata, “Bacakanlah.”
Maka Imam Syafi’i pun mendiktekan 18 hadits yang semula didiktekan oleh imam Malik.
Melihat itu, Imam Malik pun mendekatkannya kepada dirinya.
***
Wallahu a’lam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar